BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Gabungan Tenaga Ahli Nasional Indonesia Kalimantan Selatan (Gatensi Kalsel) menyoroti kondisi banjir yang terus berulang di Kalimantan Selatan, khususnya di Kota Banjarmasin. Daerah yang sejak awal merupakan kawasan rawa itu dinilai terancam tidak lagi layak huni apabila penanganan banjir tidak dilakukan secara teknis dan menyeluruh.
Ketua Gatensi Kalsel, Ir Khuzaimi, menyebut banjir di Banjarmasin saat ini bukan lagi sekadar peristiwa musiman, melainkan sudah menjadi rutinitas tahunan yang semakin mengkhawatirkan.
Menurutnya, tanpa penanganan berbasis kajian teknis yang serius, dampak banjir ke depan berpotensi fatal bagi keberlangsungan kota.
“Banjir ini bukan kejadian baru. Kalau kita lihat, kejadian besar sudah terjadi pada 2021 lalu, dan kembali terulang di 2026 ini. Kami khawatir ada pola musibah lima tahunan yang terus berulang jika tidak ditangani dari akar masalahnya,” ujar Khuzaimi.
Ia menegaskan, penanganan banjir tidak bisa hanya bersifat reaktif atau darurat, melainkan harus dimulai dari kajian teknis yang detail dan komprehensif, mulai dari penyebab utama hingga perubahan tata ruang yang terjadi selama ini.
“Harus ada kajian teknis yang benar-benar mendalam. Kita harus tahu penyebab banjir sampai ke akarnya, bukan sekadar menyelesaikan di permukaan,” tegasnya.
Khuzaimi menilai salah satu persoalan utama adalah semakin menyempitnya ruang serapan air akibat alih fungsi lahan rawa menjadi permukiman dan bangunan permanen. Padahal, secara karakteristik, Banjarmasin merupakan kota rawa yang seharusnya memberi ruang bagi air untuk bergerak dan mengalir.
“Rawa itu harus dipertahankan. Jangan semuanya dijadikan kawasan pemukiman atau perumahan. Kalau ruang serapan air terus hilang, maka air tidak punya tempat lagi untuk ditampung,” jelasnya.
Ia juga mendorong agar konsep pembangunan di Banjarmasin kembali menyesuaikan dengan kondisi alam, salah satunya dengan menghidupkan kembali konsep rumah panggung. Dengan model tersebut, air masih dapat mengalir di bawah bangunan tanpa menimbulkan genangan yang merusak lingkungan permukiman.
“Setiap rumah seharusnya mampu menampung dan memberi ruang bagi air. Konsep rumah panggung itu sangat relevan untuk daerah rawa seperti Banjarmasin,” katanya.
Tidak hanya bangunan rumah, Khuzaimi menekankan bahwa fasilitas umum dan infrastruktur jalan juga harus dirancang dengan pendekatan yang sama. Ia mengusulkan agar elevasi jalan dan fasilitas publik dibangun di atas ketinggian banjir besar yang pernah terjadi, khususnya mengacu pada banjir 2021 lalu.
“Fasilitas umum dan jalan harus ditinggikan di atas level banjir besar. Kalau tidak, aktivitas kota akan terus lumpuh setiap kali banjir datang,” ujarnya.
Gatensi Kalsel berharap pemerintah daerah serius menjadikan banjir sebagai persoalan teknis dan struktural, bukan sekadar bencana rutin. Dengan penataan ulang kawasan rawa, pengembalian fungsi serapan air, serta pembangunan yang adaptif terhadap air, Khuzaimi menilai Kota Banjarmasin masih dapat dipertahankan sebagai kota yang layak huni.
“Kalau konsep ini tidak segera dijalankan, maka bukan tidak mungkin ke depan Banjarmasin benar-benar menghadapi ancaman sebagai kota yang sulit dihuni akibat banjir,” pungkasnya. (sfr/KPO-3)














