Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Generasi Anti Narkoba Dengan Penguatan Peran Ibu

×

Generasi Anti Narkoba Dengan Penguatan Peran Ibu

Sebarkan artikel ini

Oleh : Hayatus Shalehah
Pemerhati Generasi

Sedikitnya 15 anak SMP di Surabaya dinyatakan sebagai pengguna aktif narkoba. Hal ini diketahui dari tes ureran ine acak yang dilakukan kepada 50 anak SMP-SMA di dekat jalan Kunti. Jalan Kunti sendiri terkenal sebagai wilayah kampung narkoba. 

Kalimantan Post

Selayaknya kita prihatin atas keadaan ini. Remaja yang akan menjadi pengisi masa depan sudah akrab dengan zat yang merusak jiwa raga. Jumlahnya pun tidak sedikit. 15 temuan dari 50 yang dites. Generasi yang digadang sebagai generasi emas justru mengindikasikan arah kehancuran bangsa. 

Banyak hal yang perlu dikritisi dari keadaan. Solusi perlu diformulasi. Langkah pasti menyelaraskan langkah memeluk generasi memperbaiki diri. Diantaranya adalah kesehatan mental anak. Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara kesehatan mental dan penyalahgunaan narkoba.

Anak-anak yang mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan mungkin akan menggunakan narkoba untuk melarikan diri sementara dari tekanan mental yang dirasakannya. Begitu efeknya menghilang, mereka akan menggunakannya lagi dan lagi. Bahkan dengan dosis yang terus bertambah. 

Seperti diketahui bahwa remaja pengidap masalah kesehatan mental begitu tinggi di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat. Penelitian menemukan penggunaan daycare atau tempat penitipan anak pada 3 tahun pertama kehidupan anak, memiliki pengaruh signifikan terhadap peluang mengalami depresi dan kecemasan. Anak yang selama 9 bulan begitu akrab dengan ibunya dipaksa untuk menghabiskan sekian jam sehari bersama dengan orang yang asing baginya. 

Anak dipaksa untuk menghadapi ketidaknyamanan sejak dini. Anak dipaksa merasakan keterasingan sejak awal. Anak merasa tertekan harus berpisah dengan sosok yang selama hidupnya telah menemaninya jungkir balik. Anak memang tidak bisa memanggil ibu. Tapi detak jantung ibunya adalah alunan terbaik yang dimengertinya. Dengan daycare, merenggut ia dari kenyamanannya. 

Orang dewasa saja tidak mudah untuk berpindah dari satu kondisi nyaman yang telah dinikmati sekian lama. Bahkan tidak banyak orang yang mau memilih meninggalkan posisi aman mereka, demikian orang dewasa. Apalah lagi anak di tiga tahun pertama kehidupannya di dunia. 

Baca Juga :  Sebuku Sejaka Caol dan Kerakusan yang Bercokol

Bahkan bagi seorang ibu pun tidak mudah berpisah dengan buah hatinya. Seorang ibu yang masih berada pada fitrahnya, akan memilih membersamai anaknya bila itu adalah pilihan. 

Sayangnya sistem kehidupan yang mencengkram dunia saat ini adalah kapitalisme. Bukan Islam. Dalam sistem ini materi hampir seperti darah bagi tubuh. Kebahagiaan dinilai dari segi materi. Begitupun bila ingin sejahtera orang beramai-ramai mengejar materi. Kalaupun tidak ingin mengejar, dipaksa untuk bermateri. 

Lihatlah! Untuk mendapatkan 15 variasi nutrisi yang masuk ke usus per minggu agar sehat mayoritas orang harus mengeluarkan uang. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik orang harus membayar iuran BPJS. Untuk mendapatkan literasi numerasi yang memadai orang harus menambah dengan modal sendiri. 

Ibu pun diseret ke dunia kerja dengan berbagai latar pendidikannya. Berbagai program pemerintah diarahkan untuk mengikut sertakan perempuan di dalamnya. Saat pemilu sekalipun ditetapkan kuota perempuannya.

Seakan-akan menyampaikan bahwa laki-laki itu makhluk tidak tahu balas budi. Dia tidak peduli dengan kesejahteraan perempuan dalam keluarganya. Ibunya yang telah menagndungnya 9 bulan, menyusuinya 2 tahun, mencebokinya sejak pertama kali kotorannya keluar hingga ia cukup besar dan bersih membersihkannya sendiri. 

Seakan-akan menyampaikan bahwa laki-laki itu makhluk yang tidak bisa berkomunikasi dan berempati. Melihat susahnya menjadi seorang istri. Tidaklah mata istrinya benar-benar terpejam hingga suami dan anknya terpejam. Tidaklah ia bangun lebih lambat dari yang lain kecuali karena sakit demi menyiapkan pagi sekeluarga. 

Sungguh tidak ada yang salah dari pilihan bekerja pada perempuan. Ketika itu pilihannya sendiri. Ketika anak-anak telah siap secara fisik dan mental berpisah dengan ibunya. 

Penuntasan stunting begitu dikejar oleh pemerintah. Berbagai program pun digelar untuk memperbaiki gizi anak. Namun mereka seolah lupa bahwa ada hal yang tidak kalah penting bagi seorang anak selain pemberian makanan bergizi, meski gratis sekalipun. Kehadiran ibu mereka secara fisik dan mental. 

Baca Juga :  HUKUMAN ALLAH

Sebuah eksperimen terkait pentingnya kehadiran ibu pernah diadakan di Singapura. Anak di bawah 12 tahun dipasangkan alat perekam aktivitas otak di kepala mereka. Kemudian diperlihatkan kepada mereka beberapa adegan. Ada yang biasa. Ada yang berkonflik. Terjadi perbedaan yang signifikan pada anak antara mereka melihat kejadian berkonflik itu secara sendiri dengan didampingi ibunya. Komunikasi dengan ibunya secara kuantitas dan kualitas membuat mereka cenderung lebih tenang. Begitu pentingnya peran ibu. 

Tuhan yang menciptakan manusia itu paling tahu seberapa beratnya menjalankan tugas keibuan. Maka syariat yang diturunkan-Nya berisi perlindungan terbaik bagi semua. Penafkahan itu tugasnya laki-laki, para ahli warisnya. Diantaranya adalah ayahnya, suaminya, anaknya, saudara laki-lakinya, kakeknya, pamannya. Ketika ia sebatang kara maka negara lah penanggungnya. 

Tidak ada seujung kuku pun keadaan yang memaksanya bekerja. Bekerja sebagai sebuah pilihan. Bukan karena mau tidak mau harus bekerja agar terpenuhi hidup yang layak. 

Jadi alih-alih pengarusutamaan perempuan bekerja, mengapa tidak memaksimalkan yang seharusnya saja? Luaskan lapangan pekerjaan! Berikan layanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan murah! Perkuat ketahanan keluarga dimana suami istri harusnya saling support! 

Biarkan saja laki-laki dan perempuan bersaing secara sehat. Tidak perlu dijatah kuota. Tuhan saja memandang manusia lebih mulia hanya karena ketakwaannya. Maka pekerjakan siapapun berdasarkan kompetensi dan dedikasinya. Bukan gendernya. 

Semua itu tentu saja hanya bisa dilaksanakan oleh sistem yang memandang Tuhan sebagai penentu kebijakan terbaik. Sejatinya yang diperlukan perempuan adalah perlindungan dan kasih sayang. Si pemilik rahim diperlukan untuk memberikan dunia kecil yang aman dan nyaman untuk bertumbuh. Dari sanalah akan terbentuk orang-orang hebat berjiwa kuat. InsyaAllah

Iklan
Iklan