oleh: AHMAD BARJIE R
MANUSIA (dan jin) diciptakan Allah adalah untuk mengabdi atau beribadah kepadaNya dalam arti yang seluas-luasnya. Kita beribadah tentu ingin diterima oleh Allah, sebagaimana kita berdoa juga ingin dikabulkan oleh Allah SWT. Namun agar ibadah kita diterima ada syarat-syaratnya, yaitu:
Pertama, menghindari ghibah. Ghibah yaitu suka mengungkap keburukan atau aib orang lain yang benar adanya, dan jika tidak benar maka namanya fitnah. Apabila sifat itu ada pada kita, maka ibadah kita tertolak. Ghibah hanya dibolehkan dalam rangka amar ma’ruf dan nahi munkar, dalam rangka mengkritisi penguasa atau pihak manapun yang bersikap zalim dan bermaksiat secara terang-terangan, atau ketika bersaksi di pengadilan.
Kedua, namimah, yaitu suka mengadu domba, adu asah, anjur atar ujar orang Banjar, yang sifatnya memprovokasi atau memanas-manasi, sehingga menyebabkan orang bahual atau berkelahi.
Ketika kibir, yaitu sombong, apabila sifat ini ada pada seseorang, maka ibadahnya juga tertolak. Keempat, riya, yaitu beribadah karena ingin dipuji, atau dilihat oleh orang lain, bukan karena Allah, artinya ibadah yang dilakukan harus ikhlas lillahi ta’ala. Kelima merasa lebih dari orang lain, misalnya merasa lebih pintar, lebih alim, lebih abid (rajin beribada), lebih tampan, bungas atau gagah daripada orang lain. Dan masih banyak lagi sifat-sifat buruk, yang harus dihindari, agar ibadahnya bisa naik ke langit, dan diterima oleh Allah swt.
Setiap amal ibadah seorang sebelum sampai kepada Allah, akan diperiksa lebih dahulu oleh para malaikat, ada tidak sifat-sifat di atas. Apabila masih ada satu atau lebih maka akan tertolak, dan ibadah itu akan dilemparkan ke muka orang yang bersangkutan, seperti orang melempar kain buruk. Demikian menurut Ust Muhammad Hilal, dalam sebuah ceramah peringatan Isra dan Mi’raj di rumah Haji Ahmad, pengusaha yang mantan Ketua BPM Masjid At-Taqqwa Banjarmasin.
Tersebutlah di akhirat nanti, orang yang menuntut ilmu untuk mengharapkan surga, karena menurut beberapa hadits menuntut ilmu memang salah satu yang dijanjikan dan dimudahkan masuk sorga. Namun penuntut ilmu itu terhalang masuk surga karena ternyata, ia menuntut ilmu hanya untuk terkenal, berkedudukan, beroleh jabatan, terkenal, beroleh pekerjaan yang bergengsi dan sebagainya. Bukan digunakan untuk menolong orang lain, mencerdaskan dan memajukan masyarakat.
Ada pula seorang yang dermawan yang banyak menyumbangkan uang dan harta, tetapi juga terhalang masuk surga. Penyebabnya, orang itu menyumbang hartanya karena ingin dipuji oleh manusia. Ia minta namanya dimasukkan dalam media massa, diumumkan, atau marah jika namanya tidak disebutkan. Ia merasa kalau tidak karena jasanya, seeuatu tidak akan terwujud.
Sama juga dengan seorang pahlawan pejuang, yang luka-luka atau mati di medan perang, ia belum dapat masuk surga karena di dalam hatinya ada motif lain, yaitu ingin disebut pemberani, pahlawan, pejuang, atau gelar kehormatan lainnya, dan ia sudah mendapat gelar tersebut di dunia.
Kesimpulannya, apapun ibadah, perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan, harus semata-mata karena Allah SWT, dan harus dihindarkan dari sifat-sifat buruk di atas. Dengan begitu barulah diterima oleh Allah dan dijanjikan surga untuknya. Wallahu A’lam.












