Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Kemanusiaan Berbasis Digital sebagai Aktualisasi Nilai Pancasila di Tengah Respons Bencana

×

Kemanusiaan Berbasis Digital sebagai Aktualisasi Nilai Pancasila di Tengah Respons Bencana

Sebarkan artikel ini
Opini Pancasila Final

Penulis :
M Gilank Atha Hibrizi 2501010172
M Dewa Andika 2501010039
Ahmad Rizki Arisandi 2501010249
Bimo Prasetya 2501010196
Bayu Saputra 2501010054

Dosen Pengampu : Dr. Rico, S.Pd., M.I.Kom

Kalimantan Post

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan sosial, termasuk dalam cara masyarakat merespons bencana. Media sosial yang sebelumnya hanya dipandang sebagai sarana hiburan kini berkembang menjadi instrumen penting dalam membangun solidaritas kemanusiaan. Pemanfaatan Instagram sebagai media open donasi bagi korban kebakaran Teluk Tiram, Banjarmasin, menjadi contoh konkret bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diaktualisasikan secara relevan di era digital.

Musibah kebakaran yang menimpa enam kepala keluarga di Teluk Tiram menunjukkan bahwa bencana dapat terjadi secara tiba-tiba dan membawa dampak serius bagi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi darurat, kecepatan respons menjadi faktor utama. Media sosial memungkinkan penyebaran informasi secara cepat dan luas, sehingga bantuan dapat segera dimobilisasi. Menurut pandangan saya, pemanfaatan platform digital dalam kegiatan kemanusiaan merupakan bentuk adaptasi nilai Pancasila terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi moralnya.

Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagaimana tercantum dalam sila ke-2 Pancasila tercermin dari kepedulian terhadap korban bencana. Penggalangan dana dilakukan atas dasar empati dan rasa tanggung jawab sosial, bukan sekadar formalitas akademik. Setiap manusia memiliki martabat yang sama dan berhak mendapatkan pertolongan ketika berada dalam kondisi sulit. Sikap ini menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak dibatasi oleh hubungan personal, melainkan oleh kesadaran kolektif sebagai sesama warga bangsa.

Prinsip beradab juga tercermin dari transparansi dalam pengelolaan dana. Informasi mengenai kronologi bencana, target donasi, serta laporan penggunaan dana dipublikasikan secara terbuka. Hal ini membangun kepercayaan publik dan menunjukkan tanggung jawab moral penyelenggara kegiatan. Kepercayaan menjadi unsur penting dalam gerakan kemanusiaan berbasis digital, karena tanpa kepercayaan partisipasi masyarakat tidak akan terbangun secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Banjir Rendam Kabupaten Banjar dan Banjarmasin, Warga Bertahan di Tengah Kepungan Air

Jumlah dana yang berhasil dihimpun memang tidak besar, namun penggunaannya sangat tepat sasaran. Seluruh dana dikonversi menjadi logistik kebutuhan dasar yang dibutuhkan korban pada masa tanggap darurat. Hal ini membuktikan bahwa esensi bantuan kemanusiaan terletak pada kebermanfaatannya, bukan pada besarnya nominal yang terkumpul.

Selain sila ke-2, implementasi sila ke-5 Pancasila juga terlihat jelas dalam mekanisme distribusi bantuan. Keadilan sosial diwujudkan melalui pembagian logistik yang setara kepada seluruh korban. Setiap kepala keluarga menerima paket bantuan dengan jenis dan jumlah yang sama, sehingga tidak terjadi ketimpangan perlakuan. Menurut saya, inilah bentuk keadilan yang paling relevan dalam situasi bencana, yaitu memperlakukan korban dalam kondisi yang sama secara setara.

Distribusi bantuan yang terukur menunjukkan adanya perencanaan yang matang. Paket logistik dirancang untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar selama beberapa hari pasca- bencana. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kegiatan kemanusiaan tidak bersifat simbolik, melainkan berorientasi pada dampak nyata bagi korban. Keadilan sosial tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi diwujudkan melalui tindakan konkret.

Dokumentasi dan pelaporan kegiatan melalui media sosial juga memiliki nilai edukatif. Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada donatur, publikasi ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya solidaritas sosial. Mahasiswa dan generasi muda dapat belajar bahwa nilai Pancasila dapat diamalkan melalui tindakan sederhana namun berdampak.

Dari perspektif akademik, kegiatan ini selaras dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mempelajari Pancasila secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Pengalaman ini memberikan pembelajaran kontekstual yang lebih bermakna.

Ke depan, kegiatan kemanusiaan berbasis digital masih dapat dikembangkan, misalnya dengan memperluas bentuk bantuan ke aspek pemulihan psikologis dan ekonomi.

Baca Juga :  Melayani Publik, Menghormati Martabat

Kolaborasi dengan lembaga terkait juga dapat meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan program.

Secara keseluruhan, open donasi berbasis Instagram bagi korban kebakaran Teluk Tiram membuktikan bahwa Pancasila tetap relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kemanusiaan berbasis digital bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan masyarakat modern. Selama nilai kemanusiaan dan keadilan menjadi landasan utama, teknologi akan menjadi sarana efektif untuk mewujudkan cita-cita Pancasila.

Iklan
Iklan