BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Pemain dan pecinta catur di Kalimantan Selatan sangat berharap kepengurusan baru Pengprov Percasi Kalimantan Selatan masa bakti 2026–2030 yang dipimpin H Jahrian diharapkan bisa mengembalikan daerah ini sebagai lumbung catur dan kembali berlaga di PON XXII tahun 2028 mendatang.
“Saya berharap dengan terpilihnya H Jahrian sebagai Ketua Pengprov Percasi Kalsel yang baru agar percaturan di Banua dapat bangkit kembali dan mampu tampil berlaga pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII mendatang,” ujar Ketua Umum Pencab Percasi Kabupaten Hulu Sunga Utara (HSU) AIM Ahmad Raihan Hasa, SAg, MH, WN, PN, FI, Selasa (13/1/2026).
Dijelaskan Raihan, sudah hampir tiga dekade Kalimantan Selatan tidak dapat berpartisipasi di PON, baik tim putera maupun tim puteri.
“Kondisi ini tidak terlepas dari permasalahan internal yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Terdapat oknum-oknum tertentu yang seolah merasa memiliki Pengprov Percasi Kalimantan Selatan secara pribadi dan enggan menerima masukan maupun kritik dari Pengcab Percasi serta para pecatur senior,” ucap pecatur bergelar Arena Fide Master (AFM) dan Arena Candidat Master (ACM) ini.
Menurut Raihan, mereka yang berani memberikan saran justru dianggap sebagai rival dan musuh, sehingga disingkirkan.
“Pecatur puteri juga tidak diberi kesempatan untuk berkembang, bahkan tidak diberikan ruang dalam proses seleksi tim Pra PON Kalimantan Selatan. Hal yang sama juga dialami oleh pecatur putra. Apabila tidak berasal dari kelompok tertentu, sangat kecil peluang untuk direkomendasikan menjadi bagian dari tim Kalimantan Selatan,” ungkapnya.
Yang paling memprihatinkan, lanjut Raihan, banyak pecatur muda berbakat, bahkan yang telah menorehkan prestasi sebagai juara nasional junior baik putera maupun puteri, tidak mendapatkan pembinaan dan perhatian yang layak hanya karena mereka bukan berasal dari golongan tertentu.
“Fakta yang terjadi, kedekatan personal menjadi penentu utama dalam keikutsertaan kejuaraan, bukan prestasi dan kemampuan,” ucap pecatur yang pernah membela Kalsel di PON XVI di Palembang tahun 2004 ini.
Situasi ini berlangsung selama bertahun-tahun akibat adanya sekelompok orang yang lebih mementingkan kepentingan kelompoknya dibandingkan kemajuan percaturan Kalimantan Selatan secara keseluruhan.
“Bahkan, Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Catur yang seharusnya menjadi agenda rutin tahunan dan dilaksanakan secara bergilir di setiap Pengcab Kabupaten/Kota, tidak lagi diselenggarakan,” paparnya.
Oleh karena itu, besar harapan Raihannkepada Ketua Pengprov Percasi Kalimantan Selatan yang baru agar dapat memahami permasalahan ini secara menyeluruh, melakukan evaluasi total, serta membawa perubahan nyata demi perbaikan kondisi dan tata kelola organisasi.
“Semoga ke depan, orang-orang yang selama ini merusak iklim pembinaan tidak lagi diberikan kepercayaan dalam kepengurusan, sehingga percaturan Kalimantan Selatan dapat kembali bangkit, berprestasi, dan bermartabat,” ungkapnya.
Senada diungkapkan pecatur putri peraih medali perunggu beregu di PON XVI tahun 2004, MN Wenny Meliana.
“Besar harapan kami supaya catur putri diikutkan even-even nasional seperti Pra PON, bahkan ASN korpri Nasional yang diadakan 2 tahun sekali tidak pernah mengikutkan tim putri,” ujarnya.
Sebenarnya, lanjut dia, pecatur putri junior di Kalsel mulai bermunculan dengan keberhasilan beberapa orang meraih juara nasional bahkan mewakili Indonesia ke kejuaraan internasional di Malayasi.
“Sangat disayangkan bila pecatur putri muda ini tidak dibina dan diikutsertakan di kejuaraan nasional maupun PON, catur kita tambah mundur,” ungkapnya.
Padahal, pecatur putri di awal tahun 2000-an juga cukup disegani dengan kehadiran MNW Wenny Meliana, Norasa Verdiana, Lilis dan MNW Roadiatul Adawiyah.
Wenny sendiri masih bermain catur dimana tahun 2025 kemarin dirinya ikut mewakili Kemenag, bukan tim Kalsel saat ASN Korpri di Palembang. (ful/KPO-3)














