Banjarbaru, KP – Setiap Minggu pagi, motor roda tiga berkeliling pelan di RT 33 Kelurahan Syamsuddin Noor, Banjarbaru. Di atasnya bukan barang dagangan, melainkan karung berisi botol plastik, kardus, dan kemasan rumah tangga. Pengemudinya adalah Ketua RT 33, Yoni Setiawan.
Kegiatan itu merupakan bagian dari program MARKISA (Mari Kita Sedekah Sampah), sebuah gerakan pengelolaan sampah berbasis warga yang digagas Bank Sampah Sumber Rezeki. Warga diminta memilah sampah dari rumah dan menyedekahkannya setiap pekan untuk dikelola kembali.
“Awalnya sederhana, kami ingin warga tidak membuang sampah sembarangan. Ternyata responsnya luar biasa, karena mereka merasa ikut berkontribusi langsung menjaga lingkungan, ujar Yoni Setiawan.
Gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, pengelola penginapan, hingga lingkungan RT sekitar dan Kantor Kelurahan Syamsuddin Noor. Sampah terpilah kemudian dikumpulkan untuk didaur ulang, sehingga mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
Sejalan dengan itu, Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru periode 20252030 mendorong pengembangan kampung tematik berbasis budaya sirkular. Sampah dipandang bukan sekadar limbah, tetapi berpotensi menjadi bahan baku ekonomi kreatif dan media edukasi publik.
Yoni berharap gerakan MARKISA dapat terus berkembang dan menginspirasi lingkungan lain. Kalau sampah dikelola dari rumah, kota akan jauh lebih bersih. Ini soal kebiasaan dan kepedulian bersama, katanya.
Melalui kolaborasi warga, pemerintah, dan komunitas kreatif, Banjarbaru perlahan menumbuhkan budaya sirkularmenjadikan sampah bernilai dan lingkungan lebih berkelanjutan. (Dev/K-5)














