Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarbaru

MARKISA, Sedekah Sampah yang Menumbuhkan Budaya Sirkular di Banjarbaru

×

MARKISA, Sedekah Sampah yang Menumbuhkan Budaya Sirkular di Banjarbaru

Sebarkan artikel ini
Hal 6 3 KLM BJB 1 Markisa
MARKISA- Ketua RT 33 Kelurahan Syamsuddin Noor, Yoni Setiawan, mengangkut sampah terpilah warga dalam program MARKISA (Mari Kita Sedekah Sampah) di Banjarbaru. (KP/Devi)

Banjarbaru, KP – Setiap Minggu pagi, motor roda tiga berkeliling pelan di RT 33 Kelurahan Syamsuddin Noor, Banjarbaru. Di atasnya bukan barang dagangan, melainkan karung berisi botol plastik, kardus, dan kemasan rumah tangga. Pengemudinya adalah Ketua RT 33, Yoni Setiawan.

Kegiatan itu merupakan bagian dari program MARKISA (Mari Kita Sedekah Sampah), sebuah gerakan pengelolaan sampah berbasis warga yang digagas Bank Sampah Sumber Rezeki. Warga diminta memilah sampah dari rumah dan menyedekahkannya setiap pekan untuk dikelola kembali.

Kalimantan Post

“Awalnya sederhana, kami ingin warga tidak membuang sampah sembarangan. Ternyata responsnya luar biasa, karena mereka merasa ikut berkontribusi langsung menjaga lingkungan,” ujar Yoni Setiawan.

Gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, pengelola penginapan, hingga lingkungan RT sekitar dan Kantor Kelurahan Syamsuddin Noor. Sampah terpilah kemudian dikumpulkan untuk didaur ulang, sehingga mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Sejalan dengan itu, Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru periode 2025–2030 mendorong pengembangan kampung tematik berbasis budaya sirkular. Sampah dipandang bukan sekadar limbah, tetapi berpotensi menjadi bahan baku ekonomi kreatif dan media edukasi publik.

Yoni berharap gerakan MARKISA dapat terus berkembang dan menginspirasi lingkungan lain. “Kalau sampah dikelola dari rumah, kota akan jauh lebih bersih. Ini soal kebiasaan dan kepedulian bersama,” katanya.

Melalui kolaborasi warga, pemerintah, dan komunitas kreatif, Banjarbaru perlahan menumbuhkan budaya sirkular—menjadikan sampah bernilai dan lingkungan lebih berkelanjutan. (Dev/K-5)

Baca Juga :  Cempaka Diproyeksikan Jadi Living Museum
Iklan
Iklan