Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini adalah simbol tertinggi perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan. Di dalamnya, shalat ditetapkan sebagai mi’raj orang beriman jalan penghubung antara dunia dan langit. Namun, di zaman algoritma, ketika kehidupan manusia diarahkan oleh logika data, notifikasi, dan kecerdasan buatan, pertanyaan mendasarnya adalah: masihkah manusia memiliki ruang untuk mi’raj spiritual?
Zaman algoritma ditandai oleh dominasi sistem digital yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan. Apa yang kita baca, tonton, sukai, bahkan pikirkan, sering kali dipengaruhi oleh perhitungan mesin. Algoritma bekerja senyap namun efektif, membentuk preferensi dan perilaku manusia. Dalam situasi ini, perhatian menjadi komoditas paling berharga. Setiap detik diperebutkan oleh layar. Tanpa disadari, manusia hidup dalam arus yang terus menarik ke bawah menuju dunia yang serba instan, dangkal, dan reaktif.
Di sinilah pesan Isra Mi’raj menemukan relevansinya. Mi’raj adalah perjalanan ke atas, sebuah simbol perlawanan terhadap keterikatan duniawi. Ketika algoritma mendorong manusia untuk terus menatap layar, Isra Miraj mengajak manusia untuk menengadah ke langit. Shalat, sebagai inti pesan Isra Mi’raj, menjadi latihan harian untuk membebaskan diri dari determinasi dunia termasuk determinasi digital.
Namun, realitas menunjukkan bahwa shalat pun tidak sepenuhnya steril dari pengaruh algoritma. Banyak orang yang shalat tepat waktu karena alarm digital, bukan karena kesadaran batin. Pikiran masih tertambat pada linimasa, pesan yang belum dibalas, atau konten yang terlewat. Shalat dilakukan di sela-sela scrolling, bukan sebagai jeda eksistensial. Dalam kondisi seperti ini, mi’raj spiritual terancam tereduksi menjadi ritual yang kehilangan daya transformatifnya.
Padahal, shalat sejatinya adalah ruang kebebasan manusia. Ia melatih kesadaran bahwa manusia bukan sekadar objek algoritma, melainkan subjek yang memiliki kehendak dan orientasi hidup. Dalam shalat, manusia diajak untuk berhenti, tunduk, dan menghadirkan diri sepenuhnya di hadapan Allah SWT. Kesadaran ini menjadi benteng terhadap dominasi algoritma yang kerap membentuk manusia menjadi makhluk reaktif dan konsumtif.
Zaman algoritma juga melahirkan krisis etika. Media sosial menjadi ruang ekspresi tanpa batas, tetapi sering kali tanpa adab. Ujaran kebencian, polarisasi, dan budaya saling merendahkan tumbuh subur. Algoritma cenderung memperkuat emosi negatif karena lebih “menjual”. Dalam konteks ini, mi’raj spiritual menjadi kebutuhan mendesak. Shalat, jika dihayati, seharusnya melahirkan kesadaran etis yang melampaui ruang fisik, termasuk di ruang digital.
Al-Qur’an menegaskan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ini berarti shalat memiliki dimensi sosial yang kuat. Ia bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga fondasi akhlak publik. Seorang yang menjaga shalatnya dengan kesadaran seharusnya lebih mampu menahan diri dari menyebarkan kebencian, hoaks, dan provokasi. Dengan demikian, shalat menjadi sumber etika digital yang menyeimbangkan logika algoritma.
Namun, tantangan terbesar umat Islam hari ini bukanlah ketiadaan nilai, melainkan lemahnya penghayatan. Ritual keagamaan tetap hidup, tetapi sering kali terpisah dari kehidupan nyata. Miraj spiritual berhenti sebagai peristiwa historis, bukan pengalaman eksistensial. Untuk menghidupkan kembali makna mi’raj, diperlukan keberanian untuk merebut kembali perhatian manusia dari cengkeraman algoritma.
Teknologi sejatinya tidak harus menjadi musuh spiritualitas. Ia bisa menjadi sarana dakwah dan kebaikan jika digunakan dengan kesadaran. Namun, teknologi tidak boleh menjadi penentu arah hidup. Dalam Islam, arah hidup ditentukan oleh nilai tauhid, bukan oleh popularitas atau engagement. Shalat menjadi pengingat harian bahwa nilai tertinggi bukanlah apa yang viral, melainkan apa yang bernilai di hadapan Allah SWT.
Momentum Isra Mi’raj juga relevan dalam konteks pendidikan spiritual generasi muda. Anak-anak dan remaja tumbuh dalam dunia yang diatur oleh algoritma sejak dini. Mereka membutuhkan fondasi spiritual yang kuat agar tidak larut dalam arus digital. Shalat, jika diajarkan dengan makna dan keteladanan, dapat menjadi jangkar spiritual yang menahan mereka dari keterasingan eksistensial.
Pada akhirnya, mi’raj spiritual di zaman algoritma adalah perjuangan kesadaran. Ia menuntut keberanian untuk berhenti, mematikan notifikasi, dan menghadirkan diri sepenuhnya di hadapan Tuhan. Di tengah dunia yang terus menarik ke bawah, shalat adalah undangan untuk naik. Jika mi’raj spiritual mampu dijaga, maka manusia tidak akan kehilangan arah di tengah kecanggihan teknologi. Sebab, setinggi apa pun algoritma bekerja, nilai manusia tetap ditentukan oleh sejauh mana ia mampu menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.













