Oleh : Noorhalis Majid
Pemerhati Budaya
Adakah yang tahu, dari mana pengaruh pakaian Banjar yang dikenakan sepanjang zaman dari generasi ke generasi? Naufal Lisna Reisya (Echa), seorang desainer busana di Kota Banjarmasin, yang juga mengamati jejak sejarah pakaian Banjar dari masa ke masa, menceritakan bahwa bentuk pakaian Banjar, sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang berkuasa pada kala itu. Terutama disebabkan hubungan perkawanan yang dibangun oleh sang pemimpin, menginspirasi dan memberi pengaruh pada bentuk pakaian yang dikenakan para pejabatnya, kemudian menjadi mode atau rujukan, lantas menjadi budaya, karena dikenakan oleh warga secara umum.
Ketika zaman Hindu, busana yang dikenakan hanya berupa tapih sedada. Kala itu hampir tidak ada perbedaan antara pakaian laki-laki dan perempuan, semuanya mengenakan tapih atau kain. Kain diikat atau dislempangkan menutupi tubuh. Tidak terlalu jelas beda pengenaan pada laki-laki dan perempuan, bergantung cara dan seni mengikat, guna mengenakan kain yang membalut tubuh.
Setelah era Hindu yang sangat lama, datanglah Islam dengan segala kebudayaannya, barulah ada perbedaan antara pakaian laki-laki dan Perempuan. Laki-laki tetap mengenakan sarung dan baju kurung longgar, sedangkan perempuan, kainnya menutup hingga batas dada, dengan mengenakan baju kurung galuh.
Setelah itu, pengaruh China juga sangat kuat. Pada pakai laki-laki, selain tetap mengenakan sarung, bajunya sudah berupa baju koko, dalam bahasa China dinamakan tui khim, ciri khas pakaian ini pada bukaan di tengah dengan lima kancing. Pakaian inilah yang menjadi baju keseharian kala itu, belakangan baru kemudian pakaian ini dinamakan baju koko.
Kota Banjarmasin, tentu saja sejak dahulu kala menjadi rujukan dalam pakaian. Maklum, di kota inilah episentrum segala kebudayaan di tanah Banjar, termasuk dalam pakai. Ada banyak jenis pakaian Banjar. Di kalangan pejabat, ada yang disebut pakaian miskat atau baju muskat. Merupakan baju resmi tradisional Banjar yang dipakai oleh kalangan bangsawan dan pejabat Kerajaan. Warna dasar baju miskat berwarna hitam dengan hiasan pinggir dari benang emas. Pasangan baju Miskat adalah Salawar Dandang (celana yng ada garis di tepinya). Perlengkapan lainnya adalah sabuk, keris, tali wanang dan selop. Baju Miskat diperkirakan adaptasi dari baju bangsawan yang berasal dari kesultanan Muscat, dekat Iran. Dari sini tergambar, multikulturalisme dalam soal pakaian sudah terjadi. Terutama pengaruh Islam yang datang dan diperkirakan dipengaruhi oleh kebudayaan berpakaian pada bangsawan Iran, sehingga nama dan bentuk pakainnya pun hampir sama.
Ada pula yang dinamakan baju laying, khususnya dikenakan oleh perempuan yang baru menginjak remaja. Baju ini memiliki ciri khas berupa baju kurung berbahan kain tipis, dengan belahan di samping bahu. Baju ini biasa dikenakan dalam acara khusus seperti perkawinan. Diinspirasi dan dipengaruhi dari kebudayaan Melayu dan Islam, namun diadaptasi dan dimodifikasui sesuai kebudayaan Banjar. Desainnya sederhana, simpel, namun elegan.
Ada lagi yang dinamakan baju kurung basisit, pakai ini juga dikenakan oleh remaja putri. Ciri khas dari pakai ini, berupa leher dan tangan yang dilengkapi tali pengikat (tali penyisit). Bahan pakaian ini bisa dibuat dari kain sutera atau katun, biasanya dikombinasi dengan tapih lasem atau tapih Pagatan, serta tapih air guci. Pengaruh Melayu dan Islam juga sangat kental pada jenis pakaian ini.
Pakai lainnya dinamakan baju kubaya basawiwi, memiliki ciri khas kain memanjang di bagian depan, yang disebut sawiwi atau sujab, selebar kurang lebih 10 cm. Pakaian ini biasanya dipadukan dengan tapih atau kain batik dari Jawa. Baju ini dilengkapi dengan perhiasan seperti gelang kaki, kalung Marjan, dan kalung samban atau kalung rantai terbuat dari emas dengan medalion. Baju kubaya basawiwi merupakan simbol keanggunan dan kecantikan wanita Banjar. Baju ini juga dipengaruhi kebudayaan Melayu, Jawa, China dan Islam. Pengaruh China nampak dari sawiwi atau sujab yang mirip dengan pakaian China tradisional. Sementara pengaruh Jawa terutama pada penggunaan tapih batik. Kebudayaan Banjar mampu memadukan berbagai budaya menjadi pakaian yang elegan dan anggun.
Ada pula yang dinamakan baju kun galung pacinan, baju ini jelas pengaruh dari budaya China. Aksesoris seperti mahkota berhiaskan berlian dan jepit rambut dengan bentuk burung Hong, mempertegas pengaruh tersebut. Dalam hal pemilih warna dan motif, seperti penggunaan warna merah dan emas yang melambangkan keberuntungan dan kemewahan, sangat kental menggambarkan kuatnya pengaruh China. Terutama dibawa dari hubungan perdagangan dan interaksi budaya antara Banjar dengan para pedagang China yang begitu inten.
Semua jenis pakai yang dipengaruhi pembauran multikultur ini, menurut Echa berawal dari para pemimpin dan bangsawan. Setelah mereka mengenakannya, barulah kemudian dicontoh oleh masyarakat lainnya. Terutama para saudagar dan pedagang, yang mampu membeli kain yang dibawa oleh para pedagang, baik dari China, India maupun dari Arab. Tiga bangsa ini setelahnya menyebar ke berbagai kota di Tanah Banjar dan sebagian menjadi penjual kain dan pakai hingga saat ini.
Melihat bentuk pakaian yang dikenakan para pemimpin dan bangsawan era raja-raja, terlihat bahwa ekonomi, kehiduapan sosial dan kebudayaan, berkembang sangatlah maju. Pengaruh pakai dari bangsa-bangsa besar di dunia terhadap Banjar, tentu bukan proses sehari, seminggu, sebulan atau setahun. Melainkan proses berpuluh tahun, semua kebudayaan tersebut bertarung saling memengaruhi. Ketika pada akhirnya menjadi berbagai bentuk dan jenis pakaian, tanda bahwa intensitas pengaruh tersebut sangatlah kuat.
Lokasi geografis yang sangat strategis, terutama bagi kota Banjarmasin yang dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan, memiliki jalur perdagangan internasional yang cukup ramai. Menyebabkan terjadinya pertukaran budaya dan saling memengaruhi dalam soal budaya berpakaian. Ketika terjadi pembauran, sulit mengatakan unsur mana yang paling kuat, semuanya menyatu menjadi pakaian Banjar.
Belakangan, unsur kebudayaan lokal mulai ditonjolkan, terutama dengan penggunaan motif-motif sasirangan dalam berbagai bentuk pakaian, sebagaimana disebutkan di atas tadi. Sasirangan yang pada awalnya berupa kain untuk proses pengobatan, kemudian berubah menjadi pakaian yang dikenakan sehari-hari. Sekarang perkembangannya begitu pesat, dengan berbagai motif yang bukan hanya klasik namun juga kotemporer serta berkarakter, sesuai selera pembuatnya, namun tidak menghilangkan motif dasar serta proses pembuatan yang khas, sebagai ciri dari sasirangan.
Dengan demikian, perkembangan pakaian di tanah Banjar begitu dinamis, mulai dari hanya mengenakan kain sejak era Hindu, hingga penggaruh berbagai budaya multikultur yang begitu luas. Mencerminkan tumbuh dan berkembangnya kebudayaan yang saling berinteraksi satu dengan lainnya.












