BANJARMASIN, Kalimantanpost.com –
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Kalimantan Selatan (Kalsel) tembus Rp4,91 triliun, kepada lebih dari 80 ribu debitur dan
Pembiayaan UMi tersalur Rp73,79 miliar kepada 14.300 lebih debitur.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalsel, Catur Ariyanto Widodo di acara Publikasi ALCo Regional Kalimantan Selatan di Aula Barito Kanwil DJP Kalimantan Selatan dan Tengah, Kamis (22/1/2026) mengatakan hingga akhir Desember 2025, program KUR terus menunjukkan tren
positif dalam mendukung pembiayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kalimantan Selatan, dengan rincian capaian dimana total penyaluran KUR sebesar Rp4,97 triliun (87,29 persen) dari target Rp5,69 triliun yang disalurkan kepada 80.687 debitur.
“KUR disalurkan secara konvensional sebesar Rp4,73 triliun atau 95,23 persen dan syariah sebesar Rp237,19 miliar atau 4,77 persen,” ucapnya.
Secara Nasional, lanjut Catur, KUR Kalsel berada pada peringkat 15, tapi peringkat pertama se regional
Kalimantan.
Dia menambahkan, sektor pertanian menjadi sektor penerima KUR terbanyak sebesar Rp1.96 triliun atau 39,51 persen kepada 37.151 debitur. Sedangkan secara skema penyaluran, skema mikro menjadi skema terbesar dengan penyaluran sebesar Rp3,64 triliun atau 73,30 persen kepada 75.238 debitur.
“Berdasarkan Kabupaten/Kota di Kalsel, Kota Banjarmasin mencatatkan penyaluran tertinggi, sebesar Rp1.000,46 miliar kepada 13.255 debitur. Disusul oleh Kabupaten Tanah Bumbu sebesar
Rp584,74 miliar kepada 7.100 debitur dan Kabupateb Banjar sebesar Rp516,73 miliar kepada 9.723 debitur,” tambahnya.
Catur juga menjelaskan adapun berdasarkan bank penyalur, Bank BRI mencatat penyaluran KUR tertinggi
dengan membukukan capaian sebesar Rp3,41 triliun kepada 68.119 debitur. Kemudian Bank Mandiri sebesar Rp568,47 miliar kepada 5.604 debitur. Selanjutnya oleh Bank Kalsel sebesar Rp392,24 miliar kepada 3.345 debitur.
Dalam memperkuat inklusi keuangan bagi masyarakat, lanjut dia, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di Kalimantan Selatan mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan profil penyaluran yakni otal penyaluran pembiayaan UMi sebesar Rp73,79 miliar kepada 14.300 debitur.
“UMi disalurkan secara konvensional sebesar Rp10,71 miliar atau 14,51 persen dan syariah Rp63,08 miliar atau 85,49 persen,” jelasnya.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalsel ini menambahkan, Kalsel menempati posisi ke-26 dari 34 provinsi se-Indonesia dalam realisasi penyaluran pembiayaan UMi secara nasional. Namun secara regional Kalimantan, penyaluran kinerja UMi mencapai peringkat ketiga se-Kalimantan.
“Penyaluran pembiayaan UMi di Kalsel dilakukan oleh lima LKBB penyalur, yaitu PNM,
Pegadaian, BAV, Komida, dan KJP Cipta Prima Sejahtera,” tandasnya.
Kota Banjarmasin mencatatkan sebagai penyaluran UMi tertinggi, sebesar Rp14,62 miliar
kepada 2.663 debitur. Disusul oleh Kabupaten Banjar sebesar Rp8,85 miliar kepada 1.707 debitur dan Kab Hulu Sungai Selatan (HSS) sebesar Rp6,48 miliar kepada 1.188 debitur.
“Berdasarkan sektornya, sektor perdagangan menjadi sektor penerima UMi terbanyak sebesar 94,30 persen dan dan secara skema, skema kelompok menjadi skema terbesar
penyalurannya dengan porsi 95,42 persen,” ungkapnya.
Catur menambahkan, sebagai penyalur UMi , PNM mencatat penyaluran UMi tertinggi dengan membukukan capaian sebesar Rp63,02 miliar kepada 12.546 debitur. Kemudian BAV sebesar
Rp6,28 miliar kepada 1.039 debitur. Selanjutnya oleh PT Pegadaian sebesar Rp2,44 M kepada 202 debitur.
“Sebagai langkah strategis dalam mengoptimalkan pembiayaan bagi UMKM di Kalsel, DJPb Kalsel telah melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) bersama seluruh Lembaga Penyalur guna memastikan penyaluran yang tepat sasaran.
“Upaya komitmen tersebut terus berlanjut dalam memperkuat sinergi dan melakukan berbagai
upaya pengawalan agar tren positif yang terlihat di wilayah seperti Banjarmasin dapat terus dipertahankan dan diikuti oleh wilayah lainnya. Hal ini diharapkan mampu mendorong akselerasi
permodalan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif bagi seluruh masyarakat Kalsel,” pungkasnya. (ful/KPO-3)















