Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Barito Kuala

Sample Danum Bangai Dinilai Tidak Representatif, Antropolog Ekologi Soroti Metodologi Uji Kualitas Air Sungai Barito

×

Sample Danum Bangai Dinilai Tidak Representatif, Antropolog Ekologi Soroti Metodologi Uji Kualitas Air Sungai Barito

Sebarkan artikel ini
IMG 20260127 WA0033 e1769501963917
Antropolog Ekologi, Nasrullah. (Kalimantanpost.com/zahidi).

MARABAHAN, Kalimantanpost.com – Fenomena danum bangai kembali terjadi di sepanjang Sungai Barito, membentang dari Kecamatan Kuripan hingga Kota Marabahan sejak 22 Januari 2026.

Peristiwa ini ditandai dengan perubahan kualitas air sungai yang menyebabkan ribuan ikan ditemukan mati dan sekarat di sejumlah titik.

Kalimantan Post

Danum bangai merupakan fenomena alam yang lazim terjadi saat masa transisi dari musim penghujan ke musim kemarau. Pada fase ini, air sungai membawa material organik berupa tanaman membusuk, rumput, serta kayu-kayuan dari anak sungai dan kawasan padang ke aliran utama Sungai Barito. Proses tersebut dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dan memicu kematian ikan.

Meski dikenal sebagai peristiwa alami yang berulang dalam rentang beberapa tahun bahkan puluhan tahun, skala kejadian kali ini dinilai tidak biasa. Ikan mati ditemukan dalam radius hingga 50 kilometer, dengan variasi ukuran mulai dari ikan kecil berbobot ons hingga ikan besar berbobot puluhan kilogram.

“Fenomena ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kejadian alami biasa. Durasi danum bangai berlangsung hingga lima sampai enam hari, dan jumlah ikan yang mati mencapai berton-ton. Ini sudah masuk kategori kejadian luar biasa,” ujar Nasrullah, Antropolog Ekologi asal Kecamatan Kuripan, Selasa (27/1/2026).

Nasrullah juga menyoroti uji kualitas air yang dilakukan di sekitar Kota Marabahan. Menurutnya, pengambilan sampel di wilayah hilir sungai tersebut mengandung persoalan metodologis serius karena tidak merepresentasikan kondisi di daerah hulu.

“Pengambilan sampel di Marabahan tidak bisa dijadikan dasar utama karena jaraknya sekitar 50–60 kilometer dari titik awal fenomena di Kecamatan Kuripan. Air dari hulu sudah mengalami proses pengenceran akibat percampuran air, sehingga terjadi pemurnian alami atau self-purification,” jelasnya.

Baca Juga :  Lantik 76 Pejabat, Bupati Batola Tekankan Profesionalisme dan Mutu Pendidikan

Ia menilai sangat mungkin terjadi perbedaan signifikan kualitas air antara titik hulu dan hilir sungai. Oleh karena itu, hasil uji laboratorium yang hanya bersumber dari daerah hilir berpotensi menutup fakta sebenarnya terkait kondisi air di wilayah hulu, seperti Kecamatan Kuripan, Bakumpai, dan Tabukan.

Lebih jauh, Nasrullah menegaskan pentingnya penelusuran ilmiah yang komprehensif terhadap penyebab danum bangai kali ini. Setidaknya ada empat alasan utama mengapa investigasi mendalam harus dilakukan.

“Pertama, untuk mengetahui titik konsentrasi polutan tertinggi. Kedua, agar penyebabnya dapat dipastikan secara ilmiah. Ketiga, untuk mengantisipasi dan mengatasi dampak terhadap manusia, lingkungan, dan ekosistem ikan. Keempat, penting menelaah apakah terdapat spesies ikan langka yang terdampak atau bahkan terancam mengalami kelangkaan akibat peristiwa ini,” paparnya.

Ia berharap ke depan pengambilan sampel kualitas air dilakukan secara berlapis dari hulu hingga hilir Sungai Barito agar hasilnya benar-benar representatif dan dapat menjadi dasar kebijakan lingkungan yang tepat. (sfr/KPO-4).

Iklan
Iklan