MARTAPURA, Kalimantanpost.com – Raut wajah lelah dan tubuh renta seorang nenek tua yang hanya bisa terbaring di atas kasur angin yang ditopang daun pisang, sementara air banjir masih menggenang tepat di bawahnya, menjadi pemandangan yang menggetarkan hati siapa pun yang datang berkunjung.
Di usia 90an yang boleh dibilang senja, ia harus bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas, dikepung banjir yang sudah dua peka. belum juga surut.
Nenek tersebut tinggal bersama cucu perempuannya di Desa Sungai Lengi, Kelurahan Sungai Tandipah, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
Dari kejauhan, rumah kayunya tampak terisolasi, dikelilingi air yang sudah puluhan hari menggenang tanpa kepastian kapan akan surut.
Untuk mencapainya, warga maupun relawan harus menggunakan kelotok, menyusuri genangan banjir yang menutup akses darat.
Kondisi sang nenek kian memprihatinkan. Ia menderita sakit menahun dan tak lagi mampu bangkit dari tempat tidurnya, berbeda dengan warga lain yang masih bisa beraktivitas seadanya di tengah banjir.
Sejak rumahnya terendam, hari-harinya dihabiskan dengan bertahan, menunggu bantuan dan perhatian dari luar serta anak maupun warga sekelilinya.
Pemandangan haru itu disaksikan langsung oleh Komunitas Sedekah Beras Banjarmasin yang dipimpin M Mustaqim, atau yang akrab disapa Acim, saat menyambangi rumah nenek tersebut.
Acim bersama timnya tidak sekadar datang membawa beras, tetapi juga paket sembako lengkap yang dikemas rapi.
Bantuan itu diserahkan langsung kepada sang nenek yang hanya bisa menerimanya sambil terbaring lemah.
“Bantuan ini memang tidak seberapa, tapi setidaknya bisa meringankan beban warga yang terdampak banjir, khususnya mereka yang kondisinya sangat terbatas,” ujar M Mustaqim, politisi Partai NasDem, dengan nada lirih.
Ia mengakui, melihat langsung kondisi nenek tua yang sakit dan terisolasi banjir menjadi pengingat bahwa bencana tidak hanya soal genangan air, tetapi juga tentang perjuangan hidup orang-orang kecil yang sering luput dari perhatian.
Melalui kegiatan sosial Sedekah Beras Banjarmasin, Acim dan timnya berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.
Mereka menyusuri daerah-daerah terdampak banjir, mengetuk pintu-pintu rumah warga, dan memastikan bantuan sampai ke tangan yang paling membutuhkan.
Di tengah banjir yang belum surut dan harapan yang kerap tergerus, uluran tangan dan kepedulian menjadi penguat bagi mereka yang bertahan dalam senyap.
Seperti nenek tua di Sungai Lengi, yang mungkin tak banyak bicara, namun kisah hidupnya menjadi cermin betapa empati dan kehadiran sesama sangat berarti di saat-saat tersulit.(nau/KPO-1)














