Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku “Ibnu Sina Walikota Banjarmasin 2016-2025:
Membangun Banjarmasin Baiman”
Brigjen TNI Purn H Muhammad Effendi Ritonga meninggal di Jakarta Selasa pagi 13 Januari 2026 dalam usia 88 tahun. Jenazah disemayamkan di rumah duka Taman Puri Bintaro PB 37 Nomor 23, dan dikebumikan di Taman Makam Bahagia Pondok Aren Jakarta di hari yang sama.
Ibnu Sina Walikota Banjarmasin 2016-2025 masih bervideo-call dengan almarhum sejak sakit, dan diberitahu putri almarhum sesaat setelah meninggal. Ibnu memang aktif berkomunikasi dengan Ritonga, ibu (alm) dan anak-anaknya, dan mantan walikota itu selalu hadir di setiap Harijadi Kota Banjarmasin, setiap tahun sejak periode pertama hingga kedua.
Bagi Ibnu Sina, Ritonga sudah dianggapnya sebagai orangtua kedua, apalagi Ritonga berkepribadian hangat, menghargai orang muda dan aktif bermedia sosial. Bagi Ritonga sendiri, Kota Banjarmasin adalah belahan jiwa yang sangat berkesan dalam hidupnya. Ia punya banyak obsesi atau keinginan mulia, yang perlu untuk ditindaklanjuti oleh para walikota sesudahnya. Banjarmasin Baiman, adalah bagian dari jargon pembangunan yang diilhami oleh visi-misi Walikota Banjarmasin sejak 40 tahun silam. Banyak pemikiran dan gagasan almarhum yang masih relevan untuk diwujudkan di masa sekarang dan akan datang.
Tidak Berlanjut
Berdasar pengakuan Ritonga dalam Memoarnya, ia lahir 22 Juli 1937 di Padang Cermin Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat Sumatra Utara. Ayahnya bernama Muhammad Takim Ritonga, saat itu menjabat Kerani I di Kantor Perkebunan Tembakau Deli Padang Cermin. Ayahnya tergolong orang berpendidikan dan berwawasan luas, pandai berbahasa Belanda dan Inggris dan disiplin dalam mendidik anak-anak. Selain Effendi Ritonga, kakaknya yang bernama Kol Purn Abdul Rasyid Ritonga, juga berkarier di ABRI/TNI AD.
Ibunya bernama Marianum Harahap, berdarah Jawa Batak, karena neneknya seorang pekerja yang dibawa Belanda untuk membuka perkebunan di Sumatra Utara pada abad ke-18. Orang Jawa yang bekerja ke Sumatra dulu dijuluki Jakon (Jawa Kontrak), kemudian berubah jadi Jadel (Jawa Deli), dan terakhir berubah lagi menjadi Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatra).
Melihat latar belakang keluarga, suku dan daerah tempat asalnya, jelas Effendi Ritonga berdarah Batak dan ada unsur Jawanya. Pengalaman hidupnya penuh dinamika dan suka-duka. Sebagai tentara ia pernah ikut berjuang dalam Semangat Ganyang Malaysia yang dikomandaoi Presiden Soekarno sejak 1960-hingga akhir Orde Lama. Ia pernah pula sekamar asrama dengan Lettu Piere Andreas Tendean, ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution, korban G-30-S PKI 1965, saat menjadi tentara muda.
Ritonga adalah orang yang sangat mencintai adat-budaya di mana ia berada. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Terlebih ketika menjadi Walikota Banjarmasin periode 1984-1989, ia menunjukkan kecintaan yang sangat mendalam terhadap sejarah dan budaya Banjar. Bahkan boleh dikatakan di mata budayawan – rasa Banjarnya melebihi pejabat yang orang Banjar sendiri.
Beberapa indikator bisa kita sebut untuk menunjukkan betapa cintanya Ritonga kepada Banjarmasin. Di masa kepemimpinannya, momentum bersejarah berdirinya Kesultanan Banjar dengan ibukotanya Banjarmasin digambarkannya dalam pintu gerbang kota di Jalan Jenderal Ahmad Yani km 6. Pintu gerbang kota dinamainya Kayuh Baimbai berbentuk perahu tambangan, yang dilengkapi pengayuh/dayung semuanya berjumlah 24 buah masing-masing 12 buah di kiri dan kanannya. Pengayuh tersebut tingginya 9 meter, jarak antara pengayuh-pengayuh tersebut di kiri dan kanan 15 meter dan 26 meter. Semua angka ini melambangkan tanggal, bulan dan tahun harijadi kota, yaitu tanggal 24 September 1526, saat Sultan Suriansyah sebagai pendiri Kesultanan Banjar mendirikan Kota Banjarmasin.
Menurut Ritonga, pintu gerbang “Kayuh Baimbai” diresmikan Gubernur Kalsel Ir HM Said dengan penandatanganan prasasti pada 9 November 1986 bertepatan peringatan Pertempuran Banjarmasin tanggal 9 November 1945, yang dirangkai dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November. Sayang sekali, pintu gerbang yang menggambarkan Kota Banjarmasin sebagai kota sejarah, budaya dan kota sungai belakangan dibongkar.
Ritonga banyak menciptakan istilah kebanjaran yang mencerminkan alam dan budaya kota ini. Seperti Banjarmasin Berintegrasi (bersih, indah, tertib, segar dan serasi), kayuh baimbai, gawi sabumi, gawi manuntung dan lainnya. Ritonga pula yang sangat ingin mempertahankan Banjarmasin sebagai kota sungai. Sejak menjabat ia memerintahkan agar sungai-sungai di sisi kanan dan kiri Jalan Ahmad Yani dan di jalan-jalan lain dinormalisasi, supaya menjadi lebar dan dalam, supaya dapat dilalui oleh jukung, perahu dan klotok. Dulu ia ingin, agar di Pal 6 dibuat bundaran, sehingga sungai-sungai yang telah berhubungan itu dapat dilalui jukung dan klotok hilir mudik dan bolak balik menyapa warga. Dulu gagasan itu masih bisa diwujudkan, sekiranya didukung para pihak terkait, karena bangunan relatif jarang. Sekarang sudah mustahil, karena berhadapan dengan banyak bangunan, dan sekiranya diupayakan lagi tentu dibutuhkan dana yang sangat besar untuk pembebasan tanahnya, yang rasanya tidak mungkin lagi diadakan.
Ritonga yang dikenal taat beragama, menghargai budaya, disiplin, tegas, punya idealisme, dan visi ke depan, ingin sungai-sungai menjadi ikon Kota Banjarmasin. Lebih daripada itu, tentu juga menjadi daerah penampung air sehingga kota tidak terkena banjir sebagaimana dirasakan sekarang. Ritonga melihat, sekadar drainase tidak akan sanggup menampung luapan banjir dari hulu dan rob pasang laut. Sekiranya upaya Ritonga berlanjut, tentu banyak sekali menolong mengatasi banjir di kota ini. Kenyataannya, drainase dan parit-parit kecil dibawah trotoar hanya mampu menampung sedikit air, selebihnya tetap saja meluber ke jalan dan pemukiman.
Tiang Panggung
Menurut mantan Bupati Tapin (1993-2003) H Knach Noor Ajie (alm) yang menjadi Sekretaris Kota Banjarmasin saat Ritonga menjadi walikota, pihaknya bersama DPRD Kota telah menggodok Perda Rumah Panggung. Bahwa semua rumah, bangunan, hotel, pertokoan, kantor dan lainnya di Kota Banjarmasin harus dengan konstruksi tiang panggung, baik dengan beton, besi maupun tiang ulin. Ini juga sesuai dengan anatomi tanah rawa di Kota Banjarmasin.
Ternyata konsep ini tidak terealisasi dan berlanjut. Banyak bangunan justru dengan cara diurug, sehingga daerah resapan air makin berkurang. Wajarlah kita hari ini menikmati kota yang sebagian terendam, sehingga tidak lagi menjadi hunian yang nyaman. Ritonga yang selalu memonitor perkembangan kota ini belum bisa bergembira karena banyak ide-idenya untuk mempertahankan Banjarmasin sebagai kota bersejarah dan kota sungai tidak berjalan secara berkelanjutan. Bangunan dekat jalan raya dan di depan hidung pemerintah pun diizinkan dan dibiarkan dengan sistem urug. Apa yang diistilahkan dengan sustainable development, pembangunan berkelanjutan dan memperhatikan daya dukung lingkungan, tidak berjalan secara runtut, konsisten dan maksimal.
Melihat perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk Kota Banjarmasin yang pesat, Ritonga juga sempat berobsesi memperluas kota. Pemerintah Kota Banjarmasin tahun 1986 telah memprosesnya sesuai dengan Surat Mendagri Nomor 650/3964/PUOD, tanggal 29 Oktober 1986, yang juga telah disetujui secara prinsip oleh DPRD Kotamadya Dati II Banjarmasin dengan Surat Keputusan Nomor 08/DPRD-KPTS/1998. Rencana perluasan wilayah itu meliputi kecamatan-kecamatan di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar yang berbatasan langsung dengan Kota Banjarmasin. Proyek ini disebut Proyek Perluasan Wilayah, yang dinamai dengan BAKSANAGA, singkatan dari: B=Tamban, A=Alalak, K= Kertak Hanyar, S=Sungai Tabuk, A=Aluh-aluh, NA=Mandastana, dan GA=Gambut.
Namun rencana perluasan wilayah Kota Banjarmasin ini tidak disetujui oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Gubernur dan DPRD Tingkat I), sehingga prosesnya tidak dilanjutkan ke Pusat. Meskipun demikian sebagian orang, penduduk, perusahaan atau kantor yang bertempat tinggal di kecamatan-kecamatan di atas, ada yang lebih suka menyebut alamatnya di Banjarmasin. Popularitas Banjarmasin seakan sulit tergantikan.
Begitulah, Ritonga dan mungkin juga para walikota lainnya, punya ide-ide segar dan mulia untuk memajukan kota. Tapi tanpa kesepahaman dan dukungan pihak terkait sulitlah semua itu terwujud dan berlanjut. Ia sudah berusaha, meskipun tak semua usaha terwujud. Tapi itu tidak mengurangi nilai jasa dan pengabdiannya untuk kota kita. Mudahan itu semua menjadi tambahan amal saleh dan jariyahnya. Amin.












