Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Antara “Kuyang” Pengusaha dan Pejabat Negara

×

Antara “Kuyang” Pengusaha dan Pejabat Negara

Sebarkan artikel ini
IMG 20260205 075047

Penulis: Dr. Didi Susanto
Wakil Rektor III UNISKA Muhammad Arsyad Al Banjari

Selepas menyimak dan menyaksikan film Kuyang yang belakangan ini sangat viral, penulis memberi apresiasi dengan nilai 8 untuk karya anak bangsa yang mengangkat latar budaya masyarakat Kalimantan Selatan. Film ini dapat dikatakan cukup baik dan layak ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Namun, lebih dari sekadar hiburan, film ini justru memantik perenungan yang lebih dalam. Di tengah keasyikan menonton, pikiran penulis melayang pada refleksi akademik yang muncul secara spontan melalui berbagai analogi kritis.

Kalimantan Post

Melalui pendekatan teori dan fenomenologi semiotik, kuyang dapat dipersepsikan tidak hanya sebagai makhluk mitologis, tetapi juga sebagai simbol kehidupan. Secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis, kuyang dapat dimaknai sebagai cerminan realitas masyarakat Indonesia yang sarat dengan drama kehidupan mulai dari persoalan lingkungan, pendidikan, hingga beragam isu sosial yang seolah tak pernah usai dan belum menemukan penyelesaian yang adil bagi bangsa dan negara.

Dalam film tersebut, tokoh kuyang digambarkan sebagai seorang menantu yang baik. Namun, kehidupannya berubah ketika ia dicurigai dan dirusak secara psikologis oleh mertuanya sendiri. Sang mertua, seorang pengusaha emas kaya raya, merasa bahwa kehadiran Rusmiati sang menantu membawa kutukan yang menyebabkan penurunan pendapatan usahanya. Ramalan pun dipercaya, bahwa pernikahan Rusmiati dengan anaknya menjadi sumber petaka keluarga, dan kutukan itu hanya akan berakhir jika mereka memiliki keturunan. Di sinilah konflik keluarga, ekonomi, dan kepercayaan irasional saling bertaut.

Dalam perspektif masyarakat modern, kuyang sejatinya hidup dan benar-benar nyata, meski hadir dalam wujud simbol, nilai, dan makna yang berbeda. Kuyang merepresentasikan manusia yang haus akan kasih sayang dan pengakuan, namun tertekan oleh berbagai tekanan baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, maupun luka batin akibat rasa sakit hati dan ketakutan akan kehilangan.
Ketika logika dan nurani kehilangan kendali, manusia kerap menghalalkan segala cara, bahkan dengan melanggar norma dan aturan yang hidup di masyarakat.

Baca Juga :  LIMA KIAT UNTUK IKHLAS

Dalam mitologi, kuyang digambarkan sebagai makhluk yang memisahkan kepala dari badan. Analogi ini relevan dengan kehidupan modern. Ketika kuyang hidup dalam hati manusia yang serakah dan silau oleh gemerlap dunia, pemisahan antara akal dan tindakan pun terjadi. Kuyang dapat menjelma dalam wujud pengusaha tambang, pejabat negara, bahkan masyarakat biasa. Dalam dunia usaha, kuyang tampil sebagai penghisap sumber daya alam tanpa kendali, memisahkan keuntungan dari tanggung jawab moral.

Sosok kuyang juga digambarkan menyukai anak kecil dan bayi yang baru lahir. Ini sejalan dengan realitas pahit eksploitasi sumber daya alam yang merusak masa depan generasi mendatang. Bahkan bayi yang baru lahir pun turut menanggung dampak kerusakan lingkungan akibat kerakusan manusia yang “menghisap darah” alam demi keuntungan sesaat. Ketika kuyang hidup dalam diri pejabat negara yang tamak, sosok itu menjadi semakin buas bersekutu dengan pengusaha untuk bersama-sama menghisap kehidupan masyarakat dan alamnya tanpa pandang bulu.

Secara hakikat, kuyang adalah manusia yang melakukan ritual persekutuan dengan jin atau iblis. Jika dimaknai secara sosial-politik, persekutuan antara pengusaha dan pejabat negara dalam mengeksploitasi masyarakat dan merusak lingkungan dapat dianalogikan sebagai bentuk persekutuan tersebut. Dalam Teori Sosial karya Ritzer dan Smart (2014), mengutip pemikiran Michel Foucault, disebutkan bahwa “masyarakat serupa iblis”. Karakter serupa iblis inilah yang justru mengilhami negara modern dalam menjalankan dinamika kekuasaan dan kapasitas intervensi politiknya.

Kuyang memiliki dua kepribadian: sebagai manusia biasa dan sebagai makhluk pemangsa. Dualisme ini bermuara pada problem kesejahteraan negara. Negara dapat dimaknai sebagai rumah tangga, sementara kesejahteraan disimbolkan sebagai cinta dan rasa aman. Namun menurut Foucault, karakter serupa iblis inilah yang kerap “diperhalus” dan justru dibutuhkan dalam praktik pemerintahan yang cenderung otoriter—di mana kekuasaan lebih diutamakan daripada kemanusiaan.

Baca Juga :  Anang Syakhfiani, Kebijakan yang Dikriminalisasi

Ketika jiwa kuyang hidup dalam pikiran masyarakat modern, ia menjelma dalam relasi cinta dan benci antara negara dan rakyat. Masyarakat dicintai ketika suaranya dibutuhkan saat pemilihan wakil rakyat dan kepala daerah. Namun setelah itu, masyarakat bisa dengan mudah dikucilkan dan disalahkan, bahkan dianggap sebagai sumber masalah. Cinta negara menjadi bersyarat dan politis. Inilah wajah kuyang dalam kehidupan politik modern: berkamuflase sebagai pelindung, namun sesungguhnya hanya hadir ketika kepentingan kekuasaan memanggil.

Iklan
Iklan