DILUAR dugaan, di sela-sela pembhasan soal angka perdagangan raksasa, Duta Besar (Dubes) Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, M Fadjroel Rahman, ternyata tak pernah lupa pada kampung halamannya.
Meski merupakan cicit Pangeran Abdurrahman Kasuma dari Kesultanan Banjar, ia tak ingin hanya dikenang sebagai bangsawan atau pejabat, melainkan sebagai jembatan bagi generasi muda Kalimantan Selatan.
Pernah mencatat prestasi sebagai pelajar teladan sejak SD, SMP, hingga SMA se-Kalimantan Selatan.
Fadjroel Rahman paham betul apa artinya perjuangan untuk mendapatkan ilmu. Kini, di Kazakhstan, ia melihat peluang besar untuk mengangkat harkat martabat generasi agar dapat lebih maju dan mampu berkompetisi.
“Pendidikan adalah kunci membangun generasi unggul yang mampu menghadapi tantangan global,” pesannya, menggemakan semangatnya di forum-forum akademik .
Dirinya berharap mahasiswa asal Kalimantan khususnya Kalsel memanfaatkan peluang beasiswa pendidikan di Kazakhstan.
Saat ini terdapat ada 31 mahasiswa S1, S2 dan S3 yang tengah menuntut ilmu di Astana dan Almaty dengan beasiswa dari pemerintah Kazakhstan atau dari kampus-kampus bergengsi disana.
Mayoritas yang beruntung meraih beasiswa tersebut adalah pelajar asal Indonesia Barat, Tengah dari Bali, namun sayang dari Indonesia Timur justru belum ada.
Dubes Fadjroel berharap kesempatan merata dapat dinikmati minimal 100 mahasiswa dari seluruh Indonesia. Selain kesempatan beasiswa juga terdapat 58 peluang magang (internship) yang saat ini juga seluruhnya diikuti dari mahasiswa asal Indonesia bagian Barat.
“Para pelajar yang berhasil menempuh ilmu di negeri orang adalah duta-duta kecil Indonesia.
Ketika ekonomi terhubung melalui FTA, dan generasi muda terhubung melalui pendidikan, itulah soft power Indonesia yang sesungguhnya,” pungkasnya, menatap hamparan masa depan yang ingin ia bangun untuk Indonesia, dan khususnya untuk banua tercinta, Banjarmasin.
Hubungan Bilateral
Sisi lain Tahun 2026 menandai tonggak sejarah baru dalam hubungan bilateral Indonesia dengan Kazakhstan dan Tajikistan berkat keberhasilan diplomasi “pentahelix” yang digalangkan oleh Duta Besar M. Fadjroel Rahman.
Melalui pendekatan inovatif yang melibatkan lima pilar utama—pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media—Indonesia berhasil memperluas pengaruhnya di kawasan Asia Tengah dan Eurasia dengan pencapaian yang mengesankan.
Dalam wawancara Kalimantan Post di Wisma Indonesia Astana, Dubes Fadjroel menyampaikan bahwa tahun 2026 merupakan tahun finalisasi dan implementasi dari seluruh kunjungan ke 15 provinsi dari 17 provinsi di Kazakhstan dalam 3 tahun dengan mengangkat konsep pendekatan diplomasi masa depan yang mampu menciptakan kolaborasi multi pihak.
Menurutnya puncak dari diplomasi pentahelix yang dilakukannya bersama KBRI Astana adalah finalisasi dan penandatanganan sebanyak 33 MoU dan Perjanjian antara Indonesia dengan Kazakhstan, serta 5 MoU dengan Tajikistan. Kesepakatan-kesepakatan ini mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari perdagangan, investasi, teknologi pertanian, energi, pendidikan, kebudayaan, hingga olahraga. Dalam sektor ekonomi, MoU berfokus pada promosi produk halal Indonesia ke pasar Kazakhstan dan integrasi pelaku UMKM Indonesia ke rantai pasok regional EAEU (Eurasian Economic Union).
Target strategis utama tahun 2026 adalah road map menuju peningkatan perdagangan bilateral hingga USD 2 miliar antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Pada akhir 2026, nilai perdagangan Indonesia–Kazakhstan berhasil mencapai USD 450 juta, tumbuh 25 persen dari tahun sebelumnya, sebagai indikator awal menuju target tersebut.
Keberhasilan promosi budaya Indonesia melalui program “Wonderful Indonesia” dan “Indonesia Goes to Kazakhstan” juga tak kalah mengesankan.
Wonderful Indonesia 5 di Astana berhasil menarik lebih dari 15.000 pengunjung selama tiga hari dengan transaksi bisnis awal senilai USD 2,3 juta.
Sementara itu, program “Indonesia Goes to Kazakhstan” telah mencapai 12 dari 17 provinsi target, dengan pencapaian paling spektakuler di bidang olahraga melalui program “Pencak Silat Goes to Kazakhstan” yang meraih 13 medali emas di tingkat Asia dan 10 medali emas di tingkat Dunia.
Sementara di bidang pendidikan, program magang mahasiswa Indonesia di Kazakhstan berhasil menarik minat 45 mahasiswa dari seluruh Indonesia, dengan 18 di antaranya menyatakan tertarik melanjutkan studi di universitas Kazakhstan.
Diplomasi keagamaan juga menjadi pilar penting dengan promosi nilai Indonesia yang toleran, moderat, dan demokratis melalui Indonesia Islamic Forum yang dihadiri lebih dari 200 ulama dan akademisi keagamaan dari seluruh Asia Tengah. (rof/K-2)















