Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Internasional

Dubes RI untuk Uzbekistan Sambut Positif Program Umrah Plus Bersubsidi Rp1,6 Juta per Jamaah

×

Dubes RI untuk Uzbekistan Sambut Positif Program Umrah Plus Bersubsidi Rp1,6 Juta per Jamaah

Sebarkan artikel ini
IMG 20260211 WA0042
Dubes RI Siti Ruhaini Dzuhayatin Feruz Dodiev beserta Penasihat Ketua Komite Wisata Uzbekistan, Rustam Kabilov Wakil Gubernur Samarkand dan Shovosil Ziyodov, Direktur Pusat Kajian Ilmiah Internasional Imam Bukhari dalam kegiatan Khatmil Sahih Bukhari bersama Pimpinan Ponpes Al Falah Ploso KH Nurul Huda Djazuli dan putranya Gus Kautsar di Samarkand. (Kalimantanpost.com/Foto: Rofi)

SAMARKAND, Kalimantanpost.com – Duta Besar Republik Indonesia untuk Uzbekistan, Siti Ruhaini Dzuhayatin, menyambut positif inisiatif Pemerintah Uzbekistan yang meluncurkan program Umrah Plus bersubsidi sebesar Rp1,6 juta rupiah per jamaah.

Langkah ini dinilai sebagai terobosan strategis dalam memperkuat kerja sama pariwisata religi lintas negara.

Kalimantan Post

Umrah Plus melalui Samarkand, utamanya ziarah Komplek Makam Imam Bukhari memiliki diplomasi stategis untuk diplomasi budaya dalam menguatkan visibility, recognizy dan trust pada reputasi Indonesia. Semakin banyak warga Indonesia datang akan semakin kuat visibilitas yang pada gilirannya akan menguatkan kepercayaan pada sektor lain, utamanya ekonomi, ekspor dan turisme Indonesia.


Jadi, secara reciprocal, Duta Besar Indonesia juga menekankan pentingnya dukungan timbal balik kunjungan turis Uzbekistan, seiring meningkatnya klas Menengah dan klas atas terhadap kebutuhan kunjungan wisata luar negeri Indonesia yang memiliki pantai indah dan wisata laut bertaraf internasional dapat menjadi tujuan wisata warga Uzbek sebagai negara double landlock yang tidak memiliki laut.

Sinyal kuat dukungan ini disampaikan langsung oleh Dubes Siti Ruhaini disela kegiatan Dialog Bilateral dan Khatmil Shahih Bukhari yang digelar pada 7 Februari 2026 di Pusat Kajian Ilmiah Internasional Imam Bukhari.

Dalam pertemuan bilateral bersama Feruz Dodiev, Penasihat Ketua Komite Wisata Uzbekistan, Rustam Kabilov Wakil Gubernur Samarkand dan Shovosil Ziyodov, Direktur Pusat Kajian Ilmiah Internasional Imam Bukhari , Dubes menekankan potensi besar kerja sama dalam pengembangan rute ziarah yang menghubungkan dua peradaban Islam yang kaya akan sejarah.

Pembicaraan bilateral antara Indonesia dan Uzbekistan menggarisbawahi sejumlah poin strategis antara lain Kolaborasi Pengembangan Rute Ziarah, Kedua negara membahas potensi integrasi rute ziarah di Uzbekistan—khususnya ke makam ulama besar seperti Imam Bukhari , dan Imam Maturidi di Samarkand, Bahaudin Naqsabandi serta Museum Al’Quran Utsman bin Affan di Tashkent.

Baca Juga :  Warga Indonesia Mulai Lirik Kazakhstan, Ada Apa?

Rute ziarah tidak hanya dimaknai secara religius, tetapi juga sebagai jembatan pertukaran budaya dan intelektual keagamaan antara umat Muslim Nusantara dan Asia Tengah.

IMG 20260211 WA0043

Dubes menyampaikan penting pembuatan Action Plan promosi bersama melalui kanal diplomasi budaya, termasuk kampanye bersama di kedutaan RI di Uzbekistan maupun melalui komunitas dan lembaga keagamaan di Indonesia.

“ Kedutaan RI siap menjadi jembatan bagi kerja sama antara lembaga keagamaan dan pelaku pariwisata Indonesia dengan otoritas pariwisata Uzbekistan” tegas Ruhaini.

Lebih lanjut Dubes Siti Ruhaini menyatakan bahwa insentif senilai Rp1,6 juta rupiah per jamaah dari Pemerintah Uzbekistan merupakan bentuk konkret komitmen terhadap inklusivitas dan penguatan persaudaraan antarbangsa. Ia menilai program ini akan mendorong peningkatan kunjungan jamaah dari Uzbekistan ke Arab Saudi, sekaligus membuka peluang besar bagi masuknya jamaah Indonesia ke Uzbekistan dalam paket perjalanan terpadu.

“Ini bukan hanya soal subsidi, tapi soal visi bersama: bahwa ibadah bisa menjadi jalan damai untuk membangun peradaban yang saling menghargai. Integrasi ziarah Uzbekistan dalam paket umrah diharapkan menjadi penyempurna amal ibadah jamaah dalam menunaikan rukun Islam kelima” ujar Dubes Siti Ruhaini.

Langkah ke depan yang dibahas termasuk penyusunan MOU antarlembaga di bidang pariwisata dan keagamaan untuk memperkuat landasan hukum dan operasional kerja sama tersebut. Dengan potensi kedua negara sebagai destinasi religi yang otentik, kolaborasi ini diharapkan menjadi model baru pariwisata halal yang bermakna, mendalam, dan berkelanjutan.(nau/KPO-1)

Iklan
Iklan