BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Program makan bergizi gratis (MBG) hingga kini belum memperbaiki gizi penerima manfaat, atau anak sekolah, bahkan sering dikeluhkan berbagai pihak.
“Karena menu yang disajikan tidak benar-benar memenuhi standar gizi, ataupun disukai anak,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalsel, H Gusti Iskandar Sukma Alamsyah kepada wartawan, Rabu (25/2/2026), di Banjarmasin.
Padahal program MBG yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto ini sangat bagus untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, asalkan dilaksanakan sesuai standar.
Apalagi nilai yang diberikan untuk MBG sebesar Rp15 ribu per porsi sebenarnya sudah memadai dalam menyediakan makanan bergizi.
“Namun kenyataannya, MBG tidak sesuai standar gizi yang diperlukan anak sebagai penerima manfaat,” tambah politisi Partai Golkar.
Selain itu, pengelola dapur juga tidak memperhatikan taste dalam menyiapkan makanan, sehingga kurang menarik minat mereka untuk makan.
“Akhirnya anak sekolah ini tidak menerima manfaat MBG dalam memenuhi kebutuhan gizinya,” ujar Gusti Iskandar.
Untuk itu diperlukan evaluasi dan pengawasan ketat agar dapur MBG ini bisa menyiapkan menu bergizi sesuai standar, bukan asal-asalan yang hanya menguntungkan pengelola dapur.
Karena banyak laporan dari masyarakat yang menunjukan menu MBG ini nilainya jauh dibawah standar Rp10 ribu per porsi, bahkan terkesan asal-asalan.
“Bukan penerima manfaat yang bergizi, justru pengelola dapurnya,” ujarnya, sambil memperlihatkan foto menu MBG yang diberikan pada anak sekolah.
Ke depan, Badan Gizi Nasional harus menentukan menu layak yang sesuai standar gizi yang diperlukan agar amanah Presiden bisa tepat sasaran.
“Kalau seperti ini tentu program MBG terus dikeluhkan masyarakat,” tegas Gusti Iskandar. (lyn/KPO-4)















