Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

IBRAH

×

IBRAH

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Banjar, dikenal banyak kisah yang kaya dengan kandungan hikmah, ibrah atau pelajaran bagi manusia dan masyarakat, dari zaman ke zaman. Kisah-kisah tersebut ada yang masih dalam bentuk tradisi lisan, dan ada yang sudah ditulis, dimainkan dalam drama, bahkan difilmkan, meskipun asal-muasalnya dari tradisi lisan juga.

Kalimantan Post

Dalam perspektif sastra, kisah-kisah tersebut ada berupa legenda, mite, dongeng, ketiganya tergolong ke dalam jenis sastra tradisional lisan, dan kelahirannya sudah sejak ratusan tahun yang silam. Legenda adalah cerita rakyat (folklor) pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah.

Legenda merupakan cerita yang oleh masyarakat tradisional dianggap benar-benar terjadi, dan karenanya legenda disebut juga sebagai sejarah rakyat. Legenda juga disebut sebagai sejarah asal-usul, misalnya asal-usul batu berbentuk kapal di objek wisata Pagat Batu Benawa yang dikatakan berasal dari kapal Raden Penganten yang pecah dan menjadi batu karena durhaka kepada ibunya (Diang Ingsun). (Effendi, 2011: 55, 140). Relatif sama dengan batu telungkup yang ada di Pantai Aie Manih (Air Manis) yang ada di Kota Padang Sumatra Barat, berasal dari kisah Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya (Mande Rubayah).

Mite merupakan cerita yang mempunyai latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarkat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, banyak mengandung hal-hal gaib dan ditokohi oleh para dewa. Perbedaan antara legenda dengan mite terletak pada penokohan pelakunya. Kalau dalam legenda pelakunya manusia biasa, dalam mite pelakunya adalah para dewa, jin, hantu, berhubungan dengan alam gaib dan sebagainya. Dapat pula dikatakan, mitos adalah kisah-kisah yang berhubungan dengan keajaiban dan erat kaitannya dengan kepercayaan terhadap dewa-dewa yang mendapat tempat luas di masyarakat (Sunarti et al, dalam Rafiek, 2012: 61).

Baca Juga :  Penertiban Baliho, “Jangan Taguk Bulat”

Sedangkan dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi, atau semata-mata berisi khayalan. Ia tidak dianggap sebagai cerita nyata apalagi suci. Tetapi dongeng penting bagi masyarakat awam, karena dapat menyalurkan hasrat yang terpendam dalam diri dan dapat diceritakan oleh orang atau masyarakat kepada sesamanya, kapan dan di mana saja. (Effendi, 2011: 169, KBBI, 1990: 509, 589, 212).

Meskipun di antara cirikhas legenda, mite dan dongeng bersifat pralogis (sulit diterima akal dan dibuktikan kebenarannya), namun di dalamnya tetap terkandung berbagai nilai. Selalu ada hukum sebab akibat yang berlaku, dalam arti setiap perbuatan pasti akan menimbulkan akibat, negatif atau positif, atau ada balasannya yang setimpal, baik atau buruk. Lebih-lebih dalam kisah nyata yang diinformasikan dalam agama, sudah pasti nilai-nilai kebenaran pada akhirnya akan muncul sebagai pemenang dan nilai-nilai keburukan akan tenggelam dalam kebinasaan.

Di samping itu ada juga kisah nyata yang kemudian diolah menjadi cerita sastra. Para penulis, pengarang, seniman, sutradara dan sebagainya sering pula mengangkat kisah-kisah nyata ke dalam karyanya. Misalnya ada majalah tertentu yang memuat kisah-kisah nyata bernuansa agama. Dalam sinetron televisi atau film misalnya, ada pernyataan bahwa cerita tersebut berangkat dari kisah nyata, namun nama-nama pelaku disamarkan, atau pelaku sebenarnya dimainkan oleh pelakon (artis) tertentu.

Setelah membaca dari buku, mendengar dari cerita mulut ke mulut, atau menonton kisah-kisah tersebut dalam sandiwara, drama, sinetron dan film, masyarakat beroleh kesadaran akan nilai-nilai kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan, pahala dan dosa, nikmat dan bencana, yang kesemuanya merupakan hasil, reward (ganjaran) atau punishment (hukuman) dari perbuatan manusia itu sendiri. Ketika manusia berbuat baik maka hasil kebaikannya untuk dirinya sendiri, dan kalau berbuat buruk maka akibat buruknya juga akan menimpa dirinya sendiri. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” (QS al-Isra/17: 7).

Iklan
Iklan