Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

IKN dan Astana, Sinergi Akademisi dan Pemerintah Mewujudkan Kota Berkelanjutan

×

IKN dan Astana, Sinergi Akademisi dan Pemerintah Mewujudkan Kota Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260213 WA0138 e1770977962412
Keterangan photo : Dua akademisi Indonesia yang sukses menjadi dosen terkemuka di Nazarbayev University Kazakhstan yaitu Dr Alfrendo Satyanaga (baju kotak-kotak) dan Dr Sonny Irawan beserta 3 mahasiswa Indonesia peraih beasiswa dibidang Tanah dan lingkungan, kebijakan publik dan Teknik perminyakan. Kalimantanpost.com - Foto/Rofi

ASTANA, Kalimantanpost.com- Di tengah kemajuan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di wilayah Paser Penajam, Kalimantan Timur, perhatian dunia akademik kembali tertuju pada peran penting para pelaksana proyek strategis dalam memastikan kesiapan teknis dan keberlanjutan pembangunannya.

Associate Professor di bidang Teknik Sipil di School of Engineering & Digital Sciences Nazarbayev University (NU), Kazakhstan, Dr. Alfrendo Satyanaga, menegaskan bahwa IKN harus dirancang bukan untuk kebutuhan saat ini, melainkan sebagai kota masa depan yang tahan lama.
Menurutnya, tanah yang lunak di lokasi IKN menjadi tantangan utama.

Kalimantan Post

Tanpa adanya pemantauan sejak awal dan proses pemadatan tanah selama minimal lima tahun, struktur fondasi bangunan berpotensi mengalami penurunan atau ambles. Dr. Alfrendo menambahkan bahwa pembangunan ibu kota melampaui sekedar penataan arsitektur megah atau pelebaran jalan.

Yang lebih penting adalah membangun sistem pendukung yang tahan terhadap bencana, melakukan riset jangka panjang serta memastikan pengembangan yang berkelanjutan.

Ia mengisahkan bahwa saat pembangunan Astana dimulai, pemerintah Kazakhstan pun belum memiliki standar teknis yang memadai.

Namun, kolaborasi antara akademisi dan pemerintah kemudian memberikan input penting untuk merumuskan kebijakan, menetapkan SOP konstruksi, serta melakukan pemetaan risiko pembangunan dalam berbagai skenario.

Lahirnya kampus Nazarbayev University justru dipersiapkan pemerintah untuk mengakomodir SDM dibidang teknik sipil yang sebelumnya hanya mengenal bidang arsitektur saja. Prinsip yang ia tekankan dalam transformasi kota adalah pembangunan yang wajib berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.

Saat ditemui Kalimantan Post di kampus terbaik di Kazakhstan ini dan diminta rekomendasi terkait pembangunan IKN, Dr. Alfrendo menyatakan terdapat tiga tahap yang krusial, yakni mengedepankan ketahanan terhadap waktu, lingkungan, dan keberlanjutan.

Ia mencontohkan perpindahan ibu kota Kazakhstan dari Almaty ke Astana sebagai transformasi kota yang signifikan di Asia Tengah, yang bukan hanya perpindahan administratif tetapi juga bagian dari visi nasional untuk mendukung keberlangsungan ekonomi, geopolitik, dan identitas bangsa.

Baca Juga :  Roehana Koeddoes: Tak Sekadar Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia

Pertama, menurut Dr. Alfrendo, IKN wajib menjaga stabilitas tanah sebelum melakukan pembangunan struktur utama. Tanah di wilayah tersebut sangat lunak, sehingga percepatan pembangunan tanpa menunggu kestabilan tanah dapat menimbulkan risiko besar.

Kedua, integrasi data iklim dan riset lingkungan harus dilakukan sejak tahap awal proyek. Di NU, mahasiswa dilatih untuk memprediksi risiko banjir dan longsor dalam jangka waktu 10 tahun ke depan. Tanpa pendekatan ini, IKN berpotensi mengalami dampak negatif dari perubahan iklim yang tidak terprediksi.

Ketiga, pembangunan harus melibatkan kolaborasi antara universitas internasional dan perguruan tinggi di Indonesia.

Dr. Alfrendo memberikan apresiasi atas kemajuan dukungan pemerintah Indonesia terhadap riset, yang terlihat dari fakta bahwa hampir 50% proposal penelitian oleh akademisi dalam negeri berfokus pada tantangan dan inovasi terkait IKN.

Hal ini menandakan komitmen kuat dunia akademik Indonesia dalam menciptakan infrastruktur yang berkelanjutan.

Mengenai kritik yang pernah dialamatkan kepada Astana yang dianggap terlalu mewah dan kurang aksesibel bagi masyarakat umum, Dr. Alfrendo menjelaskan bahwa pemerintah Kazakhstan kemudian memastikan fasilitas umum seperti perumahan, layanan kesehatan, dan pendidikan tersedia untuk semua lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa IKN perlu memprioritaskan pembangunan kawasan hunian yang terjangkau, sekolah, dan rumah sakit sejak tahap awal pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Di akhir perbincangan, Dr. Alfrendo menyimpulkan bahwa IKN bukan sekadar ibu kota baru, melainkan sebuah peluang strategis untuk memperkuat pembangunan berkelanjutan nasional, mendukung dekonsentrasi kekuasaan, serta menciptakan model kota berkelanjutan yang dapat dijadikan contoh dunia.

“Intinya, IKN tidak dimaksudkan untuk menggantikan Jakarta, melainkan melengkapi peran ibu kota lama demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” jelas Alfrendo.(Rof/KPO-1)

Iklan
Iklan