Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Islam Menjaga Relasi Harmonis Guru dan Murid

×

Islam Menjaga Relasi Harmonis Guru dan Murid

Sebarkan artikel ini

Oleh : Nikmah Faizah, S.Pd
Pemerhati Pendidikan dan Generasi

Masih segar dalam ingatan kita, video viral di media sosial seorang guru SMK di Jambi dikeroyok muridnya. Kejadian yang berawal ketika murid ditegur guru karena mengucapkan kata-kata yang tidak sopan dan tidak pantas saat belajar. Murid tidak terima dan menilai guru sering bicara kasar serta menghina mereka, dan akhirnya adu fisik pun tak dapat dihindari dan berakhir dengan laporan di kantor polisi.

Kalimantan Post

Tidak hanya sekali, ada beberapa kasus serupa yang menimpa dunia pendidikan kita saat ini. Hal ini merupakan tamparan keras dan menjadi tantangan besar ketika permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang budaya sekolah yang aman dan nyaman baru diluncurkan pada Januari 2026 yang bertujuan menciptakan lingkungan pendidikan inklusif, bebas kekerasan, dan melindungi seluruh warga sekolah.

Sering kita menyaksikan murid berkata dan bertindak tidak sopan, kasar dan melanggar adab. Relasi yang semestinya dibangun di atas penghormatan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan dan ketidaknyamanan. Namun disisi lain, kita juga tidak bisa memungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis, sehingga membuat Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.

Sosiologi UGM, Dr Andreas Budi Widyanta, S.Sos, MA menyatakan bahwa konflik ini bukan semata konflik guru dan murid saja, ada peta besar sebab akar persoalan ini, Dimana hubungan guru, murid, dan wali menjadi transaksional yakni sekolah kini telah dikomersialisasikan sehingga membelokkan filosofi dasar pembelajaran. Sekolah tidak lagi menjadi ruang pembentukan warga yang demokratis, melainkan bergeser menjadi arena prosedural layaknya peradilan sehingga guru takut untuk menegur murid. (ugm.ac.id, 06/02 2026)

Baca Juga :  Kisah Malin Kundang

Dalam pandangan kebanyakan masyarakat sekolah merupakan tahapan yang harus dilalui sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan nantinya. Mendapatkan nilai yang baik dan memuaskan menjadi prioritas utama, sedangkan pembentukan kepribadian yang unggul dan menjadi hamba yang taat sering terpinggirkan. Sistem kapitalis sekuler yang materialistik menjadikan materi dipuja-puja dan terus dikejar dengan berbagai cara, karena sudah melekat erat bahwa orang sukses itu adalah orang yang paling banyak mempunyai materi atau harta.

Selain itu, regulasi yang ada sering menjadikan guru sebagai tersangka pelaku kekerasan dan bullying saat melakukan tugasnya sebagai pendidik. Ini sungguh dilematis karena disatu sisi guru ingin mendisiplinkan murid, tapi disisi lain ada perasaan takut kalau yang dilakukan membuat murid atau orang tua mereka tidak terima dan berujung pada laporan ke polisi.

Sungguh ini sangat berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam pendidikan dipandang bukan sekadar mencetak orang pintar saja, tetapi juga membentuk manusia beradab. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Innama Buistu Liutammima Makarimal Akhlak (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia) HR. Al-Baihaqi.

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Islam tidak hanya menekankan akan pentingnya ilmu, tetapi lebih dari itu adalah menjaga adab saat menuntut ilmu harus diutamakan. Adab merupakan pondasi yang akan memjadikan ilmu penuh keberkahan, membawa pada manfaat positif baik didunia terlebih lagi diakhirat dan mencegah dari kesombongan.

Murid yang baik adalah murid yang memuliakan guru (ta’dzim), berbicara sopan dan bersikap santun serta rendah hati. Seorang murid akan senantiasa mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru dengan penuh kesabaran dan taat melaksanakan perintahnya dalam kebenaran dan kebaikan.

Baca Juga :  Penertiban Baliho, “Jangan Taguk Bulat”

Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar yang mentrasfer ilmunya. Namun guru juga punya andil besar dalam membentuk karakter murid. Guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang bukan hinaan, sehingga relasi yang terbangun antara keduanya penuh dengan keharmonisan, saling membantu dan saling mendoakan dalam kebaikan.

Disinilah pentingnya peran negara. Negara memastikan kurikulum Pendidikan yang diterapkan harus berlandaskan akidah Islam. Karena hanya islamlah yang mempunyai aturan sempurna dalam Pendidikan untuk mencetak generasi cerdas plus berakhlak mulia. Dalam islam setiap mata pelajaran akan diarahkan untuk membentuk kepribadian murid, sehingga tidak akan pemisahan antara mata Pelajaran umum dan agama. Semua terintegrasi dan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Semua ini hanya akan terwujud Ketika aturan-aturan Islam diterapkan secara menyeluruh disetiap aspek kehidupan, karena sistem Pendidikan tak mampu berdiri sendiri kecuali ditopang dengan sistem yang lain. Wallahu A’lam Bi Ashshowab.

Iklan
Iklan