Oleh : Ahmad Barjie B
Penulis buku “Kisah-kisah Tematik Banjar, Nusantara dan Dunia”
Pernahkah anda ke Kota Padang Sumatra Barat? Kalau belum pernah tidak apa-apa, yang jelas cerita Malin Kundang yang berasal dari ranah Minang tentu sudah sangat terkenal se-antero Nusantara. Anak-anak, orang dewasa dan orang tua rata-rata tahu tentang cerita tersebut. Lagu-lagu tentang Malin Kundang pun banyak digubah, dinyanyikan anak-anak dan orang dewasa.
Kalau pernah ke Kota Padang mungkin anda menyempatkan diri berwisata ke Pantai Aie Manih (Air Manis). Pantai ini merupakan salah satu ikon wisata di pinggiran Kota Padang. Lokasinya di belakang gunung Padang Kecamatan Padang Selatan. Menjelang masuk ke pantai ini kita akan disambut oleh pintu gerbang, bertuliskan “Selamat Datang di Pantai Aie Manih”. Air dalam bahasa Minang disebut dengan aie, sedangkan manis disebut manih. Mungkin mirip juga dengan gadis bahasa Minangnya gadih. Sekadar menambah kosakata saja, mayat bahasa Minangnya mayik, terbujur (tabujua), bocor (tiris), tidak (indak), besar (gadang), lapuk (lapuak), cerdik (cadiak), atas (ateh), panas (paneh), seia sekata (saiyo sakato), harta pusaka (harto pusako) dan sebagainya.
Setelah tiba di pintu gerbang Pantai Aie Manih, kita akan ditawari motor besar bermesin dengan roda empat yang cocok untuk berkeliling pantai. Motor ini disebut ATV (All Terrain Vehicle), biasanya disewakan Rp100 ribu per jam, boleh juga Rp50 ribu per 1/2 jam. Kendaraan yang sama juga ditemui kalau kita berwisata ke pantai Parangtritis Yogyakarta. Bedanya di sini banyak pula kuda dan delman (bendi) yang dapat disewa pengunjung untuk menyusuri pantai, atau berfoto-foto, dengan latar deburan ombaknya yang dahsyat.
Mengubah Nasib
Mengacu kepada buku “Kumpulan Dongeng Rakyat Nusantara” yang disusun oleh MB Rahimsyah AR (2010), diceritakan bahwa dulu di perkampungan Air Manis hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah. Ia memiliki anak semata wayang, seorang laki-laki bernama Malin Kundang. Ketika masih muda, Mande Rubayah masih tegar dan kuat berusaha, ia gigih mencari nafkah untuk memberi makan Malin anak kesayangannya, karena suaminya, ayah Malin, sudah lama tidak ada, pergi merantau jauh, tidak pernah kembali dan besar kemungkinan sudah meninggal dunia.
Malin diasuh dengan penuh kasih sayang. Sakit sedikit saja ibunya sudah sangat cemas dan berusaha untuk mengobatinya ke sana ke mari, sampai anaknya sembuh. Dalam asuhan ibunya, Malin sedikit manja. Ia suka menghalau dan memukul binatang piaraan tetangga, misalnya itik, ayam atau kucing. Suatu kali ia lari mengejar ayam, kepentok tiang, pipinya terluka, hingga meninggalkan bekas luka, codet bergaris, bahasa Banjarnya kunat.
Malin juga sangat sayang kepada ibunya, dan berjanji suatu saat kalau sudah dewasa ia akan menghibur, membahagiakan dan mengasuh ibunya. Ia bercita-cita akan menjadi orang kaya. Tidak lagi hidup miskin dan merana seperti nasib bersama ibunya selama ini. Meskipun tidak begitu berpendidikan, Malin yakin suatu saat nasibnya akan berubah.
Sebagaimana kebanyakan orang Minang, anak laki-laki harus pergi merantau untuk mengubah nasib. Tidak bisa berharap mewarisi harta warisan orangtua, sebab dalam adat Minangkabau, harta warisan/bawaan dari orangtua atau leluhur dianggap sebagai harto pusako tinggi, tidak dibagi-bagi. Jadi, kalau ingin suskses dan punya harto sendiri, ya harus berusaha sendiri, misalnya dengan pergi merantau. Terlebih bagi Malin Kundang dan ibunya, yang memang tidak ada harta sama sekali. Karena itu ketika sudah beranjak remaja, Malin sering pergi ke pantai untuk melihat-lihat kalau-kalau ada kapal pedagang yang dapat membawanya pergi merantau.
Kadang-kadang ia memanjat pohon kelapa, agar dari ketinggian bisa melihat-lihat kalau ada kapal yang akan merapat pantai. Akhirnya kesempatan itu tiba. Sebuah kapal besar merapat ke pantai Air Manis. Maka Malin pun menumpang kapal itu untuk menuju negeri yang jauh. Sebenatnya sang ibu berusaha melarangnya, namun kemauan Malin sangat kuat. Akhirnya, sang ibu yang sudah beranjak tua itu dengan berat hati melepaskannya, karena yakin Malin suatu saat pasti akan kembali. Ia jual beberapa harta yang dianggap ada harganya sebagai uang bekal Malin merantau.
Singkat cerita, Malin sudah hidup di rantau orang, sementara ibunya yang hidup sebatang kara terus mendoakan agar anaknya selamat dan berhasil di rantau orang, seraya menantikannya kembali. Sering sekali ibunya datang ke pantai, melihat-lihat kalau ada kapal yang singgah. Tetapi setiap ada kapal singgah dan ditanyakannya bagaimana kabar Malin, awak kapal tidak ada yang dapat memberinya jawaban yang memuaskan, karena mereka memang tidak tahu. “Ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang, nak….?” rintihnya setiap saat dalam kesendirian di rumahnya yang reot dan banyak atapnya yang tiris (bocor). Belum Subuh biasanya ia sudah bangun segera, shalat dan berdoa. Dari atap rumahnya yang bocor ia dapat melihat cahaya bulan dan matahari.
Malin Kundang diangkat sebagai anak angkat oleh juragan kapal. Dalam sebuah pelayaran, mereka dihadang oleh sekawanan bajak laut yang ganas, sehingga terjadi pertempuran jarak dekat di atas kapal dan di laut, menggunakan senapan, meriam dan pedang. Malin ikut dalam perkelahian itu untuk menyelamatkan kapal dagang bersama juragan dan anak buahnya. Bajak laut berhasil dikalahkan, namun ayah angkatnya luka-luka, dan tidak lama kemudian meninggal dunia, dengan mewariskan harta kekayaan yang sangat banyak untuk Malin.
Tetapi Malin tidak puas hanya sampai di situ. Anak buah bajak laut yang berhasil ditangkap, dipaksanya untuk menunjukkan di mana tempat menyimpan harta yang selama ini mereka rampok dari kapal-kapal dagang. Akhirnya tumpukan harta simpanan itu ditemukan, di sebuah pulau yang tidak berpenghuni. Maka otomatis Malin menguasainya dan ia pun menjadi semakin kaya raya. Dengan modal kekayaan itu penampilannya semakin mewah dan ia berhasil memperistri seorang perempuan cantik anak orang kaya. Diceritakan, ketika Malin berhasil menikahi anak bangsawan kaya itu, Malin mengaku sebagai keluarga kaya dari kalangan bangsawan juga, sehingga istrinya bersedia dinikahi. Di zaman dulu, pernikahan cenderung mengutamakan status keturunan dan kekayaan.
Ibunya Malin pun mendengar bahwa anaknya sudah menjadi kaya raya, sehingga ia turut bersyukur dan gembira, karena perantauan anaknya tidak sia-sia dan doanya diijabah oleh Allah swt. Ia membayangkan akan hidup sejahtera dan bahagia di hari tuanya, sekiranya Malin mendatanginya nanti. Rupanya zaman dulu tidak ada tempat dan cara untuk berkirim uang, yang bisa dilakukan hanya menunggu orangnya kembali, meskipun harus berlalu berpuluh tahun lamanya.
Merasa sudah berhasil hidup di rantau orang, Malin pun ingin menjenguk kampung halaman yang lama ditinggalkannya. Maka suatu hari ia memutuskan untuk berlayar pulang, menggunakan sebuah kapal besar dan mewah, disertai banyak harta-benda, sejumlah awak kapal sebagai pengawal, juga dia dan istrinya, dengan pakaian yang serba mewah.
Kapal Pecah
Masyarakat setempat pun beramai-ramai pergi ke pantai untuk menyambut, tidak terkecuali sang ibu yang berada di depan, yang tidak sabar lagi untuk memeluk anak kesayangan yang sudah lama dirindukannya. Begitu melihat Malin turun dari kapal, maka tanpa ragu ia memeluk anaknya itu erat-erat. Apalagi codet di pipi Malin masih kelihatan. Namun sebaliknya dengan Malin, ia melongo, dan acuh tak acuh, bahkan ia menendang ibunya sehingga jatuh terpental-pental di pasir. Ia mengucapkan kata-kata yang kasar dan sangat tidak pantas. Menurutnya, ibunya dulu seorang wanita yang bagus, gagah, bersih, tidak seperti perempuan tua dan kotor dengan baju compang camping seperti yang kini berada di hadapannya. Malin semakin malu, karena istrinya meludah, merasa didustai Malin yang dulu waktu menikah mengaku sebagai anak orang kaya dan bangsawan.
Mande Rubayah berusaha meyakinkan bahwa dialah ibunya yang sesungguhnya, yang dibenarkan oleh orang-orang kampung yang menyaksikannya, namun Malin tetap tidak peduli. Ia tendang ibunya berkali-kali sehingga terjatuh, menjerit, dan akhirnya pingsan. Sementara orang kampung yang kebingungan akhirnya pulang ke rumah masing-masing, sambil mengumpat Malin karena tidak percaya dengan peristiwa yang baru terjadi. Mereka kasihan sekali dengan Mande Rubayah, tetapi mereka tidak berdaya untuk menyadarkan Malin.
Sementara itu Malin memutuskan untuk mengangkat sauh dan kapalnya kembali berlayar pulang ke negeri asalnya. Perasaan Malin tidak menentu, karena ia juga menanggung malu di depan istrinya. Versi lain menceritakan, istrinya memaklumi saja dan meminta Malin mengakui ibunya, namun Malin yang terlanjur malu dan gengsi, tetap keras kepala dan tidak mau mengakui Mande Rubayah sebagai ibunya.
Di pantai Mande Rubayah tergeletak tidak berdaya. Hatinya tersayat-sayat sedih tidak terkira. Beberapa orang kampung datang memapah dan menolongnya untuk beringsut ke darat. Sambil pasrah terhadap nasibnya, ia berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah, sekiranya karena mataku sudah tua dan salah lihat, dan pemuda tadi memang bukan Malin, maka maafkanlah dia. Tetapi kalau pemuda itu benar-benar Malin Kundang, anakku, maka tunjukkanlah keadilan dan kekuasaanMu”. Versi lain mengatakan, sambil berdoa, Mande Rubayah mengutuk Malin menjadi batu. Baru saja ibunya berdoa demikian, maka badai besar menghantam kapal Malin Kundang yang sedang berada di tengah laut. Angin, topan, guntur dan petir sambar-menyambar silih berganti, gelombang besar gulung menggulung tanpa henti, sehingga kapal tersebut terombang-ambing seperti sabut di tengah laut, akhirnya pecah dan tenggelam.
Semalaman badai itu mengamuk. Semua penumpang kapal besar dan mewah itu tewas mengenaskan, harta benda berhamburan dan serpihan kapal tergeletak di pantai Aie Manih. Dekat serpihan kapal itu teronggok sebongkah batu mirip manusia yang sedang bersimpuh minta ampun, itulah batu Malin Kundang. Konon dekat situ juga berkeliaran ikan belanak, teri dan tengiri, yang dipercaya merupakan sisa-sisa tubuh istri Malin yang berenang-renang mencari suaminya. Sampai sekarang orang-orang di sini ada yang percaya bahwa setiap ada ombak besar yang menghantam pantai, ada teriakan manusia, yang dianggap sebagai suara Malin Kundang menyesali perbuatannya yang durhaka pada ibunya: “ibu, ibu, aku Malin, ampuni aku, ampuni aku ibu….”.
Dulu, batu Malin Kundang dihadirkan dalam ornamen gedung terminal kedatangan (arrival) bandara Imam Bonjol Padang, sebagai salah satu ikon pariwisata di ranah Minang yang memang kaya dengan destinasti wisata alam, sejarah dan budaya. Sekarang dengan dibangunnya terminal bandara baru, dan nama bandara dirubah menjadi bandara Minangkabau, tidak terlihat lagi gambar batu Malin Kundang tersebut. Entahlah. Hingga sekarang banyak lagu Minang yang digubah berdasarkan tragedi Malin Kundang yang durhaka pada ibunya tersebut, baik berbahasa daerah Minang maupun berbahasa Indonesia. Menurut beberapa kalangan, Malin Kundang yang menjadi batu tersebut bukan karena dikutuk ibunya, melainkan dikutuk oleh Allah SWT, dan alam yang murka karena ada manusia yang durhaka dan tidak mau mengakui ibu kandungnya sendiri.












