Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Menyantap Soto Banjar di Jantung Eurasia, Kisah Dubes Fadjroel Asli Banjar dan Mimpinya untuk SDM Kalsel

×

Menyantap Soto Banjar di Jantung Eurasia, Kisah Dubes Fadjroel Asli Banjar dan Mimpinya untuk SDM Kalsel

Sebarkan artikel ini
IMG 20260218 WA0080

KAZAKHSTAN, Kalimantanpost.com – Suasana hangat terasa di kediaman resmi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Dr. M. Fadjroel Rachman, di Astana (13/2). Di tengah musim dingin yang membekukan halaman Wisma Indonesia, aroma rempah khas Soto Banjar justru tercium dari dapur yang terletak dilantai bawah.

Hidangan favorit putra Banjarmasin ini menjadi simbol keakraban dalam perbincangan panjang antara Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Dr. M. Fadjroel Rachman dan Rofi Eka Shanty, Kepala Biro Jakarta Kalimantan Post.

Kalimantan Post

Dalam lingkungan korps diplomatik di Kazakhstan, figur seorang Fadjroel Rahman mungkin dikenal sebagai perwakilan negara. Namun di rumah tinggalnya, didampingi sang istri Poppy Yoeska ia adalah sesama warga banua yang dengan mata berbinar menceritakan mimpi besarnya: menghubungkan Indonesia dengan peluang emas di Eurasia.

IMG 20260218 WA0081

“Perjanjian FTA Indonesia-Euroasia yang telah kami capai bukan sekadar dokumen diplomatik, tetapi fondasi kokoh untuk kemakmuran bersama,” ujarnya sembari menyendok kuah soto Banjar buatan Chef asal Yogyakarta Budiati.

Perjanjian yang disebut Dubes Fadjroel tersebut merujuk pada pencapaian teranyarnya yang monumental dimana dirinya baru saja menorehkan tinta emas dalam sejarah diplomasi ekonomi Indonesia. Pada 21 Desember 2025 lalu, di Saint Petersburg, Rusia, Indonesia dan lima negara anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU)—Kazakhstan, Rusia, Armenia, Belarus, dan Kirgistan—menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA).

Perjanjian ini mencakup 15 bab, termasuk akses pasar yang memformalkan preferential tariffs hingga 90,5 persen untuk produk Indonesia. Targetnya ambisius yaitu menggandakan nilai perdagangan dari USD 5,2 miliar menjadi lebih dari USD 10 miliar dalam 3-5 tahun ke depan.

“Ini membuka potensi raksasa, termasuk bagi produk-produk andalan Indonesia,” tegasnya.
Dengan pengalaman sebelumnya sebagai Juru Bicara Presiden RI (2019-2021) dan Komisaris BUMN, Fadjroel memahami betul bagaimana menjembatani kepentingan politik dan bisnis. Namun, pendekatannya kali ini unik. Ia menyebutnya sebagai strategi diplomasi Pentahelix.

“Ini bukan kerja biasa-biasa saja. Kita menggabungkan kekuatan: Pemerintah, Akademisi, Sektor Swasta, Komunitas, dan Media. Dengan pendekatan ini, KBRI Astana telah melakukan kunjungan diplomatis ke 15 provinsi dari 17 provinsi di Kazakhstan dan melahirkan sekitar 33 MoU dalam 3 tahun.

“Tahun awal penugasan saya fokusnya pada perbaikan landskap organisasi dan struktur pendukung pencapaian dengan target menggabungkan dua kekuatan ekonomi, Indonesia USD 1,4 triliun dan Uni Ekonomi Eurasia sekitar USD 2 triliun,” jelas Fadjroel.

Khusus untuk hubungan bilateral Indonesia-Kazakhstan, target yang lebih spesifik ditetapkan yaitu peningkatan perdagangan dari rekor tertinggi USD 691,3 juta (2022) menjadi USD 2 miliar dalam periode yang sama.

“Target ini realistis mengingat Kazakhstan adalah mitra ekonomi terbesar kita di Asia Tengah,” lanjutnya.

Baca Juga :  Sekdaprov Kalsel: Saling Menghormati dan Jaga Ketenangan

Pasca penandatanganan FTA, Pria kelahiran Banjarmasin, 17 Januari 1964 ini semakin gencar mendorong agar hubungan bilateral tak hanya berhenti di komoditas.

Ia menginisiasi penguatan kerjasama pendidikan, seperti yang baru saja dilakukannya saat kunjungan resmi ke Korkyt Ata Kyzylorda University pada 10-13 Februari 2026 .

Ia ingin mahasiswa Indonesia bisa merasakan pendidikan kelas dunia di Kazakhstan.
“Mengingat Kazakhstan sekarang tertinggi dalam GDP/kapita sekitar USD 15.000, ini menunjukkan kemajuan mereka. Universitas di sini, punya fasilitas riset dan beasiswa penuh yang kompetitif,” ujarnya.

Dengan populasi 460 juta jiwa yang terhubung melalui FTA, ia yakin pertukaran pemuda adalah investasi jangka panjang.

Dubes Fadjroel Dorong Mahasiswa Kalsel Raih Beasiswa Studi di Kazakhstan
Di sela-sela pembahasan soal angka perdagangan raksasa, Dubes Fadjroel ternyata tak pernah lupa pada kampung halamannya.

Meski merupakan cicit Pangeran Abdurrahman Kasuma dari Kesultanan Banjar, ia tak ingin hanya dikenang sebagai bangsawan atau pejabat, melainkan sebagai jembatan bagi generasi muda Kalimantan Selatan.

Dikenal pernah mencatat pprestasi sebagai pelajar teladan sejak SD, SMP, hingga SMA se-Kalimantan Selatan. Fadjroel Rahman paham betul apa artinya perjuangan untuk mendapatkan ilmu.

Kini, di Kazakhstan, ia melihat peluang besar untuk mengangkat harkat martabat generasi agar dapat lebih maju dan mampu berkompetisi.

“Pendidikan adalah kunci membangun generasi unggul yang mampu menghadapi tantangan global,” pesannya, menggemakan semangatnya di forum-forum akademik .

Dirinya berharap mahasiswa asal Kalimantan khususnya Kalsel memanfaatkan peluang beasiswa pendidikan di Kazakhstan. Saat ini terdapat ada 31 mahasiswa S1, S2 dan S3 yang tengah menuntut ilmu di Astana dan Almaty dengan beasiswa dari pemerintah Kazakhstan atau dari kampus-kampus bergengsi disana.

Mayoritas yang beruntung meraih beasiswa tersebut adalah pelajar asal Indonesia Barat, Tengah dari Bali, namun sayang dari Indonesia Timur justru belum ada.

Dubes Fadjroel berharap kesempatan merata dapat dinikmati minimal 100 mahasiswa dari seluruh Indonesia. Selain kesempatan beasiswa juga terdapat 58 peluang magang (internship) yang saat ini juga seluruhnya diikuti dari mahasiswa asal Indonesia bagian Barat.

“Para pelajar yang berhasil menempuh ilmu di negeri orang adalah duta-duta kecil Indonesia. Ketika ekonomi terhubung melalui FTA, dan generasi muda terhubung melalui pendidikan, itulah soft power Indonesia yang sesungguhnya,” pungkasnya, menatap hamparan masa depan yang ingin ia bangun untuk Indonesia, dan khususnya untuk banua tercinta, Banjarmasin.

“Merantau demi ilmu, mengapa tidak?”

Semangat “merantau demi ilmu” yang digaungkan Dubes Fadjroel ternyata bukan sekadar wacana.

Di Nazarbayev University, salah satu kampus riset terdepan di Asia Tengah, tiga putra Indonesia dari Bandung, Makassar dan Jakarta tersebut telah membuktikan bahwa mimpi itu nyata.

Baca Juga :  YN’S Center dan Hasnur Group Serahkan Paket Ramadan untuk PWI Kalsel

Harvizza Irdhany Aufa (Iza) , Muhammad Naim dan Eriko Dewangga adalah tiga mahasiswa Indonesia yang kini tengah menempuh pendidikan di universitas prestisius tersebut.

Bermodal tekad dan informasi dari KBRI Astana, mereka sukses meraih beasiswa penuh (fully funded) yang menutupi biaya kuliah, akomodasi, hingga tunjangan bulanan .

“Merantau demi ilmu, mengapa tidak? kata Naim. Di sini, di Nazarbayev University, kami bertemu dengan teman-teman dari seluruh dunia. Sistem pembelajarannya berbasis riset dan inovasi,” ujar Naim dalam perbincangan dengan Kalimantan Post.

Naim mengambil jurusan Petroleum Engineering, sementara Iza dan Eriko fokus pada bidang Public Policy dan Gulf & Enviromental Engineering di School of Engineering and Digital Sciences Nazarbayev University di Astana .

Kunci sukses dalam merantau adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Selain itu doa dan dorongan orang tua meski dengan bekal seadanya, juga diakui Naim, Iza dan Eriko sebagai modal terbesar dalam proses adaptasi di negeri orang.

Walhasl karakter positif berupa kemandirian, semangat berkompetisi serta memiliki tujuan yang jelas dengan tenggat waktu terukur adalah sebuah bonus dari perjuangan merantau demi ilmu.

Kisah mereka adalah bukti nyata dari visi Dubes Fadjroel. Di tengah hiruk-pikuk diplomasi FTA senilai miliaran dolar, cerita Naim, Iza, dan Eriko adalah pengingat bahwa pembangunan sesungguhnya berakar pada kualitas manusia.
Warga Indonesia Mulai Lirik Kazakhstan, Ada Apa?
Almaty, Kazakhstan – Kota Almaty, Kazakhstan, mulai dilirik wisatawan Indonesia.

Fenomena ini terlihat dari ramainya pengunjung Tanah Air di pasar tradisional Green Bazaar hingga lereng bersalju Shymbulak.

Otabek Rimbaev Kamiljanovich, Direktur Penjualan Ziyarah Travel LLC, menyebut wisatawan Indonesia mudah dikenali karena energi positif dan keramahannya.

Menurutnya, daya tarik utama Kazakhstan bagi orang Indonesia adalah sensasi merasakan empat musim dalam sehari.

“Infrastruktur sempurna, biaya hidup jauh lebih murah dibanding Eropa, dan bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia,” ujar Otabek di Almaty, Jumat (22/11).

Dari pusat kota, wisatawan hanya perlu 25 menit ke arena skating Medeu atau resor ski Shymbulak. Pengalaman naik kereta gantung Kok Tobe selama 47 menit menawarkan pemandangan kota dan pegunungan dari ketinggian 3.200 meter.

Rina, turis asal Jakarta, mengaku tertarik setelah melihat unggahan di media sosial. “Dari panas kota, sejam kemudian main salju. Masakan enak, orang ramah, tanpa visa. Worth it!” katanya.

Kazakhstan yang dijuluki ‘Swiss Kecil di Asia’ menawarkan keindahan alam ala Eropa dengan biaya lebih terjangkau, didukung nilai tukar rupiah yang menguntungkan terhadap tenge. Kombinasi ini menjadi magnet baru bagi petualang Indonesia. (Rof/KPO-1)

Iklan
Iklan