SAMARKAND, Kalimantanpost.com – Setelah lima tahun menjalani proses revitalisasi besar-besaran, Komplek Imam Bukhari di Samarkand siap kembali menyambut jutaan peziarah dari seluruh dunia.
Pemerintah Uzbekistan membuka pintu kawasan bersejarah ini tidak sekadar sebagai situs ziarah, tetapi juga sebagai pusat peradaban Islam modern yang dirancang untuk melayani umat dengan standar internasional.
Penasihat Ketua Komite Wisata Ziarah Uzbekistan Feruz Dodiev, dalam wawancara eksklusif dengan Kalimantan Post di Samarkand (7/2), menegaskan bahwa pemerintahnya telah menyelesaikan berbagai pembenahan menyeluruh di kompleks yang menjadi makam salah satu periwayat hadis paling terkemuka sepanjang sejarah ini.
“Kami tidak sekadar merenovasi. Kami membangun ekosistem ziarah yang utuh. Imam Bukhari bukan lagi sekadar destinasi sejarah, tetapi destinasi spiritual kelas dunia yang setara dengan pusat-pusat keislaman di Makkah dan Madinah,” ujar Dodiev.
Yang menarik, Uzbekistan secara eksplisit membuka peluang investasi bagi Indonesia. Dodiev menekankan bahwa pemerintahnya terbuka bagi investor Indonesia di dalam ekosistem kompleks, baik dalam bentuk akomodasi, kuliner, maupun layanan penunjang lain yang dekat dengan kebiasaan jamaah Indonesia.
“Kami siap memfasilitasi investor dari Indonesia mulai dari perizinan hingga insentif menarik. Kami memahami bahwa jamaah Indonesia memiliki kebutuhan spesifik, dan kami ingin mereka merasa seperti di rumah sendiri ketika berziarah ke Imam Bukhari,” tegas Dodiev.
Langkah ini dinilai strategis. mengingat Uzbekistan juga meluncurkan program bertajuk Umrah Plus dan siap memberikan subsidi senilai 1,6 juta rupiah per jamaah. Dengan adanya program ini Samarkand dan Bukhara, dua kota pusat peradaban Islam Asia Tengah diproyeksikan menjadi simpul penting dalam peta perjalanan spiritual Muslim dunia.
Dengan total luas mencapai 63,2 hektar, Kompleks Imam Bukhari diperkirakan mampu menampung hingga 70.000 pengunjung per hari. Masjid agung di dalamnya didesain ulang dengan kapasitas 10.000 jamaah, memungkinkan pelaksanaan ibadah berjamaah dalam skala besar dengan tetap menjaga ketenangan dan kekhusyukan.
Secara teknis Dodiev menjelaskan bahwa fasilitas penunjang komplek Imam Bukhari selama masa revitalisasi telah dibangun dengan pendekatan ramah jamaah. Disana tersedia pusat informasi multibahasa, pemandu profesional yang memahami biografi Imam Bukhari dan sejarah Islam Asia Tengah, area wudhu modern, serta toilet bersih yang terawat. Tak hanya itu, jalur khusus dan ramp disiapkan bagi lansia serta penyandang disabilitas. Area parkir luas, pertokoan, dan layanan kuliner halal turut melengkapi.
“Semua dirancang agar setiap peziarah merasakan pengalaman ibadah yang mudah, aman, dan menyentuh hati,” imbuh Dodiev disela kegiatan Khatmil Sahih Bukhari bersama Al Falah Ploso di Komplek Imam Bukhari. Bagaimana, tertarik ? (Rof/KPO-1)















