Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Roehana Koeddoes: Tak Sekadar Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia

×

Roehana Koeddoes: Tak Sekadar Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia

Sebarkan artikel ini
IMG 20260212 WA0037

Oleh: Ratna Dewi

Nama Roehana Koeddoes mungkin tidak seterkenal Raden Ajeng Kartini, bahkan di kalangan jurnalis sekalipun. Padahal, ia tercatat sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia — seorang pelopor yang tidak hanya menulis gagasan, tetapi juga membangun institusi pendidikan dan gerakan pemberdayaan perempuan sejak awal abad ke-20.

Kalimantan Post

Kurangnya pengenalan terhadap sosok Roehana sempat disoroti oleh Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, dalam Diskusi Tiga Wajah Roehana Koeddoes di Jakarta, 6 Februari 2026. Ia menyentil ironi bahwa para jurnalis — yang sejatinya memiliki kekuatan menyebarkan informasi — belum maksimal mengangkat dan melestarikan jejak perjuangan Roehana, yang telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2019.

“Kemajuan zaman tidak akan membuat kaum perempuan menyamai kaum laki-laki. Perempuan tetap perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan, tidak untuk ditakuti-takuti, dibodohi, dan dianiaya.”
— Roehana Koeddoes

IMG 20260212 122235

Dalam diskusi yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafidz, mengungkapkan kekagumannya terhadap keberanian Roehana. Ia mengaku sulit membayangkan bagaimana rasanya menjadi jurnalis di masa kolonial, ketika Roehana menerbitkan Soenting Melajoe — sebuah surat kabar perempuan yang terbit di tengah tekanan politik dan keterbatasan sarana.

Menurut Meutya, hingga kini jumlah jurnalis perempuan di Indonesia baru sekitar 25 persen dari total jurnalis nasional, menandakan bahwa ruang partisipasi perempuan di dunia pers masih terbuka luas.

“Peran perempuan di era digital semakin penting, terutama ketika informasi mulai kehilangan rasa karena mengejar kecepatan. Kita perlu mengembalikan karya jurnalistik yang memiliki empati, kedalaman, dan kekuatan data.”
— Meutya Hafidz

Sosok Perempuan Pendobrak Zaman

Roehana Koeddoes lahir dengan nama Siti Roehana pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat. Tanpa mengenyam pendidikan formal, ia tumbuh menjadi intelektual otodidak berkat didikan ayahnya, Moehammad Rasjad Maharadja Soetan, yang mengajarkannya membaca, menulis, serta bahasa Belanda, Arab, dan Melayu.

Baca Juga :  Ini Pesan Presiden Buat Deputi Gubernur BI yang Baru
IMG 20260212 122220

Sejak usia muda, Roehana telah mengajarkan baca-tulis kepada anak-anak di sekitarnya — sebuah langkah kecil yang kelak menjelma menjadi gerakan besar.

Pada tahun 1911, ia mendirikan Kerajinan Amai Setia, sekolah perempuan yang tidak hanya mengajarkan keterampilan seperti menjahit dan menyulam, tetapi juga membaca, berhitung, dan pendidikan agama. Tujuannya jelas: membentuk perempuan yang mandiri secara ekonomi dan intelektual.

Setahun kemudian, pada 1912, Roehana mendirikan Soenting Melajoe, surat kabar pertama di Hindia Belanda yang seluruh redaksinya dikelola oleh perempuan dan ditujukan khusus bagi pembaca perempuan. Melalui media ini, Roehana berani menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan gender, pembatasan peran perempuan, dan kolonialisme — sesuatu yang sangat progresif pada masanya.

“Roehana Koeddoes adalah spirit bagi jurnalis perempuan Indonesia,”demikian.

Iklan
Iklan