BALI, Kalimantanpost.com – Pemerintah Kota Banjarmasin mulai melirik langkah inovatif dalam menangani persoalan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan serius lingkungan. Salah satu solusi yang kini tengah dikaji secara mendalam adalah penerapan teknologi pirolisis, yakni teknologi yang mampu mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna seperti bahan bakar dan material turunan lainnya.
Wali Kota Banjarmasin menegaskan persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pendekatan konvensional semata.
Menurutnya, diperlukan terobosan berbasis teknologi agar sampah tidak hanya berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi bisa diolah menjadi sumber daya baru.
Ia menilai teknologi pirolisis sebagai peluang besar, karena selain mengurangi volume sampah plastik, juga mampu menghasilkan energi yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
“Teknologi pirolisis ini bisa mengubah sampah plastik menjadi energi, kita ingin kebijakan ini bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga memberi manfaat ekonomi dan lingkungan secara bersamaan,” ujar Wali Kota saat meninjau langsung uji coba teknologi tersebut.
Dalam kunjungan ke yayasan pengelola “Get Plastic”, mesin pirolisis diperlihatkan mampu memproses 10 hingga 200 kilogram sampah plastik dalam waktu sekitar 3 sampai 5 jam melalui proses pemanasan tanpa oksigen. Proses ini menghasilkan berbagai jenis bahan bakar seperti bensin, solar, hingga minyak tanah.
Tak hanya itu, residu sisa pembakaran atau black carbon juga bisa dimanfaatkan menjadi produk lain, seperti asbak, plakat, kulit sintetis, briket, hingga paving block. Produk-produk ini membuka peluang baru bagi industri kreatif berbasis daur ulang.
Keandalan teknologi tersebut turut dibuktikan melalui uji coba langsung pada sepeda motor. Bensin hasil olahan sampah plastik digunakan sebagai bahan bakar, dan mesin motor terbukti dapat menyala serta beroperasi normal.
Dari sisi efisiensi, mesin pirolisis dinilai relatif hemat energi. Untuk kapasitas kecil 10 kilogram, alat ini hanya memerlukan satu tabung LPG dan daya listrik sekitar 200 hingga 600 watt, sehingga masih terjangkau untuk operasional skala komunitas.
Pemkot Banjarmasin pun berencana mengintegrasikan teknologi ini di tingkat kelurahan melalui kerja sama dengan TPS 3R. Skema ini diharapkan mampu mendorong lahirnya ekonomi sirkular sekaligus memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah.
“Keberhasilan pengelolaan sampah adalah ketika pemerintah dan masyarakat berjalan bersama, kalau ini bisa diterapkan, InsyaAllah kita bisa wujudkan Banjarmasin yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkas Wali Kota. (nug/KPO-3)















