ALMATY, Kalimantanpost.com – Febuari Kabut pagi masih menyelimuti lereng pegunungan yang berbingkai salju abadi, sementara di sudut kota Almaty, Kazakhstan aroma kopi segar dan roti tradisional sudah memenuhi udara. Di tengah keriuhan pasar Green Bazaar, sekelompok turis dengan logat khas Indonesia terdengar ramai menawar harga buah kering dan coklat khas Kazakhstan.
Mereka adalah salah satu dari gelombang baru wisatawan Indonesia yang kini mulai mengalihkan pandangan ke sebuah negeri yang mungkin sebelumnya hanya dilihat ada di peta: Kazakhstan.
Apa yang menarik minat mereka? Untuk menjawabnya, Kalimantan Post mengunjungi Almaty, kota terbesar dan salah satu destinasi utama di Kazakhstan, dan berjalan bersama Otabek Rimbaev Kamiljanovich, Sales Director Ziyarah Travel LLC, seorang pemandu profesional yang fasih mengamati perilaku wisatawan.
“Orang Indonesia mudah dikenali di antara ribuan turis lain,” ujar Otabek, memulai obrolan kami di Navat, sebuah restauran terkenal dikawasan Shevchenko.
“Energi positif mereka terpancar, membawa suasana tenang, gembira, dan sangat ramah. Gestur persahabatan mereka tulus,” tambah pria berpendidikan World History dan World Languages ini.
Namun, bukan sekadar keramahan saja yang mempertemukan dua bangsa yang jauh ini.
Menurut Otabek, ada daya tarik spesifik Kazakhstan bagi orang Indonesia yaitu : “mengalami empat musim dalam satu hari! “ jelasnya.
Sensasi mengalami empat musim lengkap hanya dalam satu hari di Almaty sangat memungkinkan.Kazakhstan, meski berada di jantung Asia Tengah, sering dijuluki ‘Swiss Kecil di Asia’.
Pemandangan tak kalah, tetapi biaya hidup bisa empat kali lebih murah, dan yang penting: bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia.
” Klaim “Swiss Kecil” itu bukan isapan jempol. Dalam perjalanan bersama Otabek, saya membuktikannya. Hanya 25 menit berkendara dari pusat kota metropolitan Almaty, kaki bisa berpijak di Medeu, arena skating luar ruangan terbesar di dunia, atau naik lebih tinggi ke Shymbulak, resor ski yang dikelilingi puncak-puncak putih. Infrastruktur dan Pengalaman yang “Siap Saji” .
“Infrastrukturnya sempurna.
Jalanan bagus bahkan hingga ke distrik yang tenang dan destinasi wisata,” kata Otabek, sambil mobil kami meluncur mulus menuju Big Almaty Lake.
Dia menambahkan daya tarik lain: chalet dan restoran yang hangat dan nyaman, pengalaman belanja di pasar lokal dengan budaya tawar-menawar yang seru, serta kunjungan ke pabrik cokelat Kazakhstan yang terkenal. Puncak pengalaman hari itu adalah naik kereta gantung (cable car) Kok Tobe.
Selama 47 menit, kami menempuh tiga tingkat pemberhentian hingga ketinggian 3.200 meter di atas permukaan laut. Dari atas, pemandangan Almaty yang hijau dan pegunungan yang menjulang membentang spektakuler.
Di sinilah, mungkin, semua klaim Otabek terangkum dalam satu bingkai: modernitas kota, kedahsyatan alam, dan aksesibilitas yang mudah. Seorang turis asal Jakarta, Rina, yang saya temui di atas cable car, membenarkan.
“Dengar-dengar menarik, coba cek Tik-Tok, ternyata benar. Dari panas kota, sejam kemudian kita bisa main salju. Masakannya enak, orangnya ramah, dan nggak perlu visa. Worth it!” katanya sambil berswafoto.
Turis Indonesia itu antusias berjalan di gunung bersalju, melihat satwa liar di lembah, berseluncur di danau beku, sekaligus mencicipi kuliner beragam dan kopi asli.
Lebih Dari Sekadar Destinasi, Sebuah Persamaan Jiwa Berdasarkan pengamatan dan perbincangan dengan pria yang menguasai banyak bahasa ini, minat orang Indonesia terhadap Kazakhstan bukanlah fenomena kebetulan. Ini adalah pertemuan antara kebutuhan wisatawan Indonesia akan pengalaman alam yang “seperti Eropa” namun terjangkau dan mudah diakses, dengan penawaran Kazakhstan yang tepat sasaran: keindahan alam dramatis, infrastruktur yang berkembang baik, kebijakan bebas visa, dan nilai tukar Rupiah yang relatif kuat terhadap Tenge (mata uang Kazakhstan).
Tetapi mungkin, ada faktor yang lebih sublim. Seperti yang diungkap Otabek tentang energi positif dan keramahan orang Indonesia, mungkin ada keselarasan batin antara semangat hangat masyarakat Indonesia dan keramahan tradisional masyarakat Kazakhstan yang nomaden.
Keduanya sama-sama masyarakat yang menghargai hubungan personal, senyuman, dan keramahtamahan.
Kazakhstan, dengan Almaty sebagai pintu utamanya, telah berhasil memposisikan diri sebagai “hidden gem” bagi petualang di Asia.
Dan orang Indonesia, dengan radar mereka yang tajam untuk destinasi unik dan instagenik, telah menemukan mutiara tersebut.
Tren ini baru awal. Dan jika Anda bertanya “ada apa?”, jawabannya ada di puncak gunung bersalju yang hanya setengah jam dari kota, di secangkir kopi hangat di antara pasar yang ramai, dan di senyum penuh sambutan yang membuat Anda merasa seperti sedang di rumah, meski berada di jantung Asia Tengah.(Rof/KPO-1)















