Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

IRAN DISERANG, PALESTINA TERLUKA

×

IRAN DISERANG, PALESTINA TERLUKA

Sebarkan artikel ini

Oleh : ZAHIDA AR-ROSYIDA

Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 kembali memperlihatkan kerasnya wajah politik global. Targetnya meliputi fasilitas komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pangkalan rudal, hingga sistem pertahanan udara. Dampaknya tragis. Kedutaan Besar Iran di Indonesia menyebut sedikitnya 555 orang tewas, sekitar 200 di antaranya anak-anak yang tengah menjalankan ibadah puasa (detik.com, 3/3/2026). Di antara korban juga terdapat pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Kalimantan Post

Namun tragedi ini bukan sekadar konflik geopolitik. Ia menyingkap persoalan yang lebih dalam: rapuhnya kekuatan umat Islam akibat perpecahan. Banyak kaum Muslim memandang serangan terhadap Iran hanya sebagai urusan negara tersebut, sementara penderitaan Palestina dianggap sekadar krisis kemanusiaan. Padahal bagi umat Islam, persoalan ini tidak berhenti pada politik atau kemanusiaan, tetapi juga menyentuh akidah dan persaudaraan karena iman.

Salah satu penyebabnya adalah kuatnya pengaruh nasionalisme yang membatasi cara pandang umat. Kaum Muslim terkotak-kotak dalam identitas negara bangsa. Urusan umat dipersempit menjadi persoalan domestik masing-masing negara. Ketika Palestina diserang, sebagian merasa itu hanya masalah Timur Tengah. Ketika Iran diserang, sebagian lain menganggapnya konflik regional. Akibatnya, kesadaran bahwa kaum Muslim adalah satu tubuh umat semakin melemah.

Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan agar umat tidak terpecah. Allah SWT berfirman, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103). Persatuan umat seharusnya dibangun di atas ikatan akidah, bukan dibatasi garis politik yang memecah belah.

Karena itu, penderitaan kaum Muslim di Palestina, Iran, maupun di tempat lain semestinya tidak dipandang sebagai masalah bangsa tertentu saja. Ia adalah urusan umat seluruhnya. Jika satu bagian tubuh terluka, bagian lain seharusnya ikut merasakan sakitnya.

Baca Juga :  Peran Imam Maturidi Dalam Mempererat Hubungan Keagamaan Nusantara dan Samarkand

Di bulan Ramadhan—bulan yang menumbuhkan empati dan kepedulian—peristiwa ini seharusnya mengetuk hati kaum Muslimin. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak termasuk golongan kami orang yang bangun di pagi hari namun tidak memikirkan urusan kaum Muslimin.” (HR. ath-Thabrani).

Bagi kaum Muslimin di Indonesia yang jauh dari wilayah konflik, mungkin tidak banyak yang dapat dilakukan secara langsung. Namun kepedulian tidak boleh padam, karena peduli itu adalah kewajiban yang kedudukannya sama dengan kewajiban lain seperti shalat, zakat, haji, puasa, menutup aurat, menuntut ilmu, dsb. Maka dakwah untuk mengajak umat kembali bersatu dalam panji tauhid, mengopinikan Islam sebagai ideologi dan solusi untuk semua masalah, doa, empati, serta solidaritas iman harus tetap berjalan.

Ramadhan menjadi momentum untuk menyatukan hati kaum Muslimin agar penderitaan saudara-saudara seiman tidak dianggap sebagai masalah bangsa lain, melainkan sebagai urusan umat yang wajib dipedulikan bersama. Wallahu’alam.

Iklan
Iklan