Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Koperasi Mestinya Berproses, “Kada Dikarbit”

×

Koperasi Mestinya Berproses, “Kada Dikarbit”

Sebarkan artikel ini

Oleh: Noohalis Majid
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Sekarang ini, koperasi lagi “naik daun”. Bukan karena kemajuannya, tapi karena perhatian pemerintahan Prabowo yang sangat besar untuk mewujudkan koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa. Lahirlah koperasi Merah Putih. Niatnya luhur, namun niat luhur tersebut tidak mungkin ditempuh dengan cara yang instant. Harus berproses. Bila perlu, melewati pergulatan dan dinamika yang seru, sehingga terlatih dalam segala situasi.

Kalimantan Post

Karena koperasi bertujuan membangun ketahanan ekonomi warga secara bersama, maka tentu saja berorientasi pada proses. Bukankah semangat dasar dari koperasi adalah gotong royong. Mustahil gotong royong terbangun, tanpa proses. Dinamika proses, membuat setiap anggota mesti berkontribusi. Semakin banyak proses dan dinamika, maka kontribusi yang didasari oleh semangat gotong royong tersebut akan menempa kebersamaan.

Berbicara tentang koperasi, tidak ada tempat belajar paling strategis kecuali dimana asal koperasi tersebut dirintis. Tentu saja awalnya di negara-negara Skandinavia. Sebab itu Bung Hatta belajar sistem koperasi kesana, dan menganggap sesuai bagi Indonesia yang memiliki budaya gotong royong.

Budaya gotong royong itulah yang dilihat oleh Bung Hatta, sebagai modal dasar dan bahkan modal utama dari koperasi. Di tanah Banjar sendiri, gotong royong tersebut terungkap dalam berbagai kata, antara lain “gawi sabumi”, “kayuh baimbai”, “baramu galam”, dan lain sebagainya, yang menggambarkan gotong royong pada setiap wilayah di Indonesia, termasuk di tanah Banjar. Karena itu ia berpendapat, inilah pilihan sistem yang dapat menopang ketahanan perekonomian bangsa. Sebab ia dibangun dari semangat kebersamaan.

Ada banyak koperasi sukses di Skandinavia, antara lain Husqvarna (Swedia): koperasi produksi peralatan kebun dan mesin pertanian. Arla Foods (Denmark): koperasi pertanian produsen susu sapi. Coop Noden (Norwegia, Swedia, Denmark): koperasi konsumen, mengelola rantai pasokan barang dan jasa. Dan tentu banyak koperasi lainnya lagi.

Ambil satu contoh sebagai wahana belajar, Arla Foods, misalnya. Koperasi ini dibangun tahun 1881, sebagai koperasi dairy di Swedia, lalu tahun 1915 bergabung dengan koperasi lain di Denmark dan Swedia, membentuk “Arla”. Sejak tahun 1970, melakukan ekspansi internasional dengan membuka pabrik di Jerman dan Inggris. Tahun 1988 bergabung dengan koperasi dairy Denmark “MD Foods”, membentuk “Arla Foods”. Tahun 2000, menjadi koperasi terbesar di Eropah, setelah bergabung dengan koperasi dairy Inggris “Express Dairies”. Lalu tahun 2005, melompat menjadi koperasi terbesar di dunia, setelah bergabung dengan koperasi dairy Jerman “Deutsche Milchkontor”.

Baca Juga :  PUASA MENGASAH KEPEKAAN

Koperasi Dairy, artinya koperasi yang dikelola oleh para petani susu sapi, guna memproduksi, mengolah dan memasarkan susu dan produk dairy lainnya untuk kesejahteraan para petani susu sapi. Sementara “Arla”, adalah nama dari koperasinya, diambil dari bahasa Swedia yang berarti “awal” atau permulaan. Dipilih sebagai nama, karena koperasi ini menjadi awal gerakan koperasi dairy, yang menghimpun seluruh petani susu sapi di negara-negara Skandinavia.

Apa produk koperasi ini yang dapat dinikmati hingga di Indonesia? Kalau kita belanja di supermarket, kita akan melihat susu UHT, termasuk susu full cream, low fat, dan skim. Keju, berbagai jenis keju, seperti keju cheddar, mozzarella, dan feta. Yogurt, Arla menawarkan berbagai jenis yogurt, termasuk yogurt plain, strawberry, dan blueberry. Krim, Arla memiliki krim kental dan krim cair yang dapat digunakan untuk memasak dan membuat kue. Apetina, yaitu merek keju yang diproduksi Arla, terkenal dengan teksturnya yang lembut dan rasanya yang enak. Lurpak, merek mentega yang diproduksi oleh Arla, rasanya yang kaya dan teksturnya lembut. dan Puregrow Organic, menawarkan susu pertumbuhan organik untuk anak-anak, yang diproduksi dengan bahan-bahan organik.

Produk Arla yang paling terkenal di Indonesia adalah Puck Keju Oles. Puck adalah merek keju oles yang diproduksi oleh Arla Foods dan telah sukses dipasarkan di wilayah Timur Tengah sebelum akhirnya diperkenalkan di Indonesia.

Apa pembelajaran penting dari koperasi Arla Foods? Mereka berproses, dibangun dari bawah atas kesadaran bersama para petani susu sapi. Kesadaran bersama untuk membangun kesejahteraan bagi semua anggota, itulah yang menjadi modal dasar yang menguatkannya hingga bertahan berpuluh tahun.

Mereka berpegang pada visi atau cita-cita, mewujudkan kesejahteraan bersama di antara para petani susu sapi. Sebab itu, melalui iuran anggota yang dikumpulkan secara swadaya, digunakanlah sebagai biaya operasional dari koperasi, termasuk pengolahan susu, melakukan strategi pemasaran dan pengembangan produk. Hasilnya, anggota koperasi menerima pembayaran atas susu yang mereka produksi dan menjadi sumber pendapatan utama petani dairy. Koperasi juga membagikan keuntungan kepada seluruh anggota dalam bentuk dividen. Bisa dibayangkan, selain hasil pertanian sendiri diproduksi secara modern, terjual pada lingkup pasar yang luas, juga mendapat dividen atau keuntungan dari usaha koperasi.

Baca Juga :  Malam Lailatul Qadr

Awalnya hanya 8.000 petani susu sapi yang bergabung, sekarang anggotanya sudah lebih dari 13.000 petani, melintasi berbagai negara, mulai dari Denmark, Swedia, Jerman, Inggris dan beberapa negara lainnya. Koperasi ini mempekerjakan lebih dari 80.000 orang. Dikelola secara demokratis, keuntungan dibagi kepada seluru anggota, dan bukan kepada pemegang saham. Memiliki investasi berkelanjutan, dan memiliki visi besar dengan melakukan ekspansi internasional.

Jadi, koperasi mesti dibangun dari proses panjang, melalui partisipasi anggotanya. Dasar dari koperasi itu gotong royong, dan petani dairy, bergotong royong membangun kesejahteraan bersama di antara sesama petani susu sapi, bukan kesejahteraan para pengurus dan pengelolannya saja.

Sekali lagi, koperasi dibangun dari proses dan kebersamaan, bukan “dikarbit” melalui skema permodalan APBN. Kalau mau disuntik permodalan, tentu boleh-boleh saja, namun yang paling utama adalah partisipasi anggota. Partisipasi hanya mungkin terjadi, bila ada kesadaran bersama untuk bergotong royong. Maka proses sangatlah penting. Tentu makan memakan waktu, tapi semakin panjang waktu yang dilalui. Semakin tinggi dinamika dan proses yang terjadi, semakin kokoh pondasi dari koperasi yang dibangun.

Bisa dibayangkan, ketika belum matang dikarbit, tidak terlatih menghadapi tantangan, lantas di kloning, diduplikasi di setiap desa dan kelurahan. Akhirnya bukan kesejahteraan anggota yang terbangun, tapi potensi korupsi dan penyimpangan yang akan terjadi di seantero negeri.

Mesti diingat, kalau sebagian besar koperasi yang dibangun secara instant tersebut kemudian gagal, maka yang terjadi akan ada trauma kolektif terhadap koperasi, akibatnya, kelak sulit membangun koperasi yang sesungguhnya, sebab tersimpan trauma kolektif yang merata di banyak tempat. Karenanya, koperasi jangan “dikarbit”, biarkan dia berproses sebagaimana visi dan misinya, yang dibangun dari semangat kebersamaan.

Iklan
Iklan