Oleh : AHMAD BARJIE B
Bila kita buka kitab-kitab hadis shahih, maka perihal Lailatul Qadar cukup banyak diperbincangkan. Di dalam Shahih Bukhari tidak kurang dari 5 hadis dan di dalam Shahih Muslim minimal 9 hadis tentang Lailatul Qadar. Di situ antara lain diceritakan bahwa Ibnu Umar ra menyatakan adanya sejumlah sahabat Nabi yang diperlihatkan oleh Allah kepada mereka Lailatul Qadar pada 7 hari terakhir bulan Ramadhan. Para sahabat itu bercerita kepada Nabi apa yang dilihatnya, maka Nabi pun bersabda bahwa beliau juga melihat hal serupa.Beliau setuju dengan 7 hari terakhir itu, seraya berpesan, siapa saja yang ingin bertemu dengan Lailatul Qadar, carilah pada 7 hari terakhir Ramadhan.
Abu Salamah juga mengatakan bahwa Rasulullah sering menemui Lailatul Qadar, cuma beliau lupa malam pastinya. Beliau berpesan bagi yang ingin mencarinya adalah l0 hari terakhir Ramadhan, yaitu malam-malam ganjil. Pernyataan serupa juga dikuatkan oleh Aisyah ra istri Rasulullah, di mana di setiap akhir Ramadhan Rasulullah selalu mengajak istri-istri dan anak-anak beliau untuk berjaga-jaga dengan ibadah supaya bertemu dengan malam kemuliaan tersebut.
Dari beberapa hadis di atas, tergambar bahwa Rasulullah dan sebagian sahabat juga pernah mengalami Lailatul Qadar, dan bahwa Lailatul Qadar itu memang benar adanya. Mereka juga saling bercerita secara terus terang akan pengalamannya di hadapan Rasulullah, dan beliau tidak melarang, bahkan membenarkannya. Tentang siapa nama para sahabat tersebut memang tidak dikemukakan, tapi soal nama ini tidak terlalu penting kita ketahui. Yang jelas mereka adalah para sahabat utama,yang rata-rata punya track record mengagumkan dalam perjuangan Islam, baik di masa Rasulullah maupun sesudahnya.
Memang versi bahwa Lailatul Qadar itu hanya terjadi sekali yaitu sewaktu Alquran diturunkan pertama kali, ada juga dasar pijakannya. Ibnu Hajar al-Asqalani, Syaikh Karim Amarullah orang tua Buya Hamka dan Hamka sendiri agaknya cenderung menganut versi ini. Tetapi dalam rangka mencari kebenaran kita perlu membandingkannya dengan dalil dan riwayat lain.
Adanya Lailatul Qadar juga mengindikasikan dimuliakannya umat Muhammad. Suatu hari beliau SAW bercerita tentang kegigihan seorang abid dan mujahid Bani Israil. Orang itu di malam hari selalu beribadah dan di siang hari berperang fi sabilillah dalam kurun waktu l000 bulan. Para sahabat yang mendengarkan cerita tersebut menjadi iri dan terkagum-kagum. Cerita ini menjadi sababun nuzul surat al-Qadar yang menegaskan bahwa umat Muhammad pun bisa demikian bila mereka menemui Lailatul Qadar, karena nilai pahalanya sama dengan l000 bulan. Hal ini pula yang pernah membuat Nabi Musa iri dan ingin menjadi umat Muhammad, karena nilai ibadah umat ini selalu dilipatgandakan, terlebih ibadah Ramadhan yang ditemui setiap tahun.
Sekiranya Lailatul Qadar hanya terjadi sekali, tidak mungkin Nabi Musa iri kepada umat Muhammad, sebab umat ini akan lestari hingga akhir zaman. Tidak mungkin pula Lailatul Qadar itu hanya sekali menjumpai Nabi ketika menerima wahyu pertama, sebab nyatanya beliau sangat gigih membangunkan para istri dan anggota keluarganya beribadah di akhir-akhir Ramadhan. Beliau dalam banyak hadis juga berpesan agar melakukan qiyamul lail di malam-malam yang diperkirakan akan ada Lailatul Qadar. Jadi, mengalami Lailatul Qadar bukan hanya hak prerogatif Rasulullah seorang, melainkan umatnya juga berhak mendapatkannya, tentunya dengan kegigihan, kuntinuitas dan keikhlasan ibadah serta atas izin Allah jua.













