Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Migas Terancam Karena Penutupan Selat Hormuz, Islam Punya Solusinya

×

Migas Terancam Karena Penutupan Selat Hormuz, Islam Punya Solusinya

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dhiya
Pemerhati Sosial Ekonomi

Sejak Februari serangan AS, Israel terhadap Iran kian memanas. Mulai dari serangan udara dengan silih bergantinya rudal, sampai ke daerah perairan dengan blokade titik tertertu. Saat ini salah satu langkah yang diambil oleh Iran adalah menunutup selat Hormuz yang merupakan nadi dari jalur perdagangan komoditas migas. Efeknya terjadi panic Buying di beberapa negara. Masyarakat berbondong-bongong datang ke SPBU untuk memastikan keperluan BBM mereka sudah aman jika sewaktu-waktu minyak impor belum bisa menembus selat Hormuz. Terlaporkan beberapa negara Asia Tenggara memilki cadangan BBM yang beragam. Di Indonesia, masyarakat diminta untuk tetap tenang, sebab sesuai keterangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebutkan bahwa per tanggal 6 Maret 2026 cadangan BBM Indonesia tahan selama 23 hari. (www.bloomergtechnoz.com, 06/03/26).

Kalimantan Post

Bahan bakar minyak (BBM) memang merupakan komoditas sangat strategis di zaman sekarang. Banyak hal yang bergantung pada ketersediaan BBM, ketidakstabilan atau ketiadaannya akan menimbulkan dampak besar pada sektor lain, misalnya logistik, transportasi dan industri. Karenanya, akan sulit bagi sebuah negara untuk mengatur ketahanan ekonomi, sosial, dan politik jika BBM masih bergantung pada impor. Maka, idealnya negara memilki kedaulatan terhadap energi.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang punya banyak cadangan minyak, berdasarkan data yang dirilis oleh wordmeters.info pada tahun 2025, Indonesia memiliki 2.410.000.000 barel, angka tersebut setara dengan 4,1 kali tingkat konsumsi tahunan (berdasarkan data tahun 2024). Hal tersebut menunjukkan bahwa tanpa impor saja minyak di Indonesia masih surplus bahkan sampai empat tahun. Namun sayangnya, dengan sistem ekonomi ala kapitalis saat ini membuat sumber daya alam, termasuk minyak justru dikomersikan oleh negara ke perusahaan-perusahaan besar, baik di dalam maupun luar negeri. Negara membuka keran-keran investasi yang menghasilkan lebih dari seratus konsesi perusahaan khusus untuk pengelolaan migas. Dengan demikian, kedaulatan energi masih terasa jauh, selama kita terus menikmati mekanisme pengelolaan yang pragmatis. Kapitalisme cenderung membiarkan sifat rakus manusia yang liar untuk mengekplorasi dan mengeksploitasi SDA yang ada sepuas-puasnya dengan alasan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi (Aswicahyono & Christian, 2017; Fathoni, 2017; Hasbiullah, 2007; Hauzan et al., 2021; Supriyanto, 2009, dalam Fitra 2024)

Baca Juga :  Idul Fitri dan Halal Bihalal

Sebagai negara yang mayoritas penduduk muslim, nyatanya Indonesia belum merepresentasikan Islam. Buktinya, tidak banyak muslim yang belum bahwa Islam telah memiliki seperangkat aturan dalam mengelola energi. Empat belas abad yang lalu Rasulullah telah memberikan tuntunan kepada manusia bagaimana mengelola alam. Salah satu sabda beliau yang cukup populer adalah, “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api”. (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Mengapa penting dalam menentukan sistem kepemilikan sumber daya alam? Karena kedaulatan negara, perekonomian, dan kondisi sosial rakyat dipengaruhi oleh pengelolaan sumber daya negara. Maksud dari kepemilikan umum disini setidaknya ada dua jenis. Pertama, SDA yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat misalnya padang rumput, atau lautan untuk para nelayan. Selama sesuai batasan syariat dan tidak memudharatkan masyarakat boleh memanfaatkan langsung.

Sedangkan yang kedua ada SDA yang tidak bisa dimanfaatkan langsung oleh rakyat misalnya dalam sektor energi seperti migas, batu bara, nikel dan sejenisnya, maka negara yang akan mengelola. Caranya bisa dengan negara mengelola langsung atau bekerjasama dengan swasta. Negara bisa bekerja sama dengan swasta dalam hal kontrak ijarah atau sewa jasa. Dalam hal swasta adalah buruh yang tak memiliki wewenang untuk menguasai. Negara sukses mengelola SDA karena sifat amanah yang dimilikinya (Priyono, 2016; Syihab et al., 2022; Syihab & Utomo, 2022; Utomo, 2017; Zahro’ et al., 2023, dalam Fitra 2024).

Itulah salah satu hal yang menyebabkan dalam sejarah Islam pendidikan dan kesehatan dengan kualitas terbaik bisa tetap gratis, gaji guru bisa sampai puluhan dinar dalam satu bulan. Sebab negara berdaulat dalam pengelolaan energi dan SDA, sehingga ekonomi lebih kuat dan mandiri, kesejahteraan rakyat pun terjamin.

Baca Juga :  Istiqomah setelahRamadhan Pergi

Maka sudah saatnya kita, khususnya muslim, mengenal dan memahami Islam lebih jauh lagi agar Islam tidak hanya sebagai obat spiritual, tapi juga solusi bagi seluruh lini kehidupan kita, Al-Quran tidak sekedar jadi bacaan, tapi jadi penuntun hidup. Ketika kita sukses mengelola energi, yang merasakan manfaatnya tidak hanya muslim tapi seluruh manusia.

Iklan
Iklan