BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan menyatakan kinerja sektor jasa keuangan di daerah ini pada awal 2026 tetap stabil dengan risiko yang terjaga. Kondisi ini ditopang oleh pertumbuhan ekonomi daerah, kinerja perbankan yang positif, serta perkembangan pasar modal dan industri keuangan nonbank.
Kepala. OJK Kalsel, Agus Maiyo menyampaikan, secara makro, perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan IV 2025 tercatat tumbuh 5,46 persen (year on year), meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang berada di angka 5,19 persen.
“Secara kumulatif, ekonomi Kalsel tumbuh 5,22 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,11 persen. Sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar PDRB dengan porsi 23,20 persen, disusul sektor pertanian 12,68 persen dan industri pengolahan 11,37 persen,” ungkap Agus Maiyo, saat Media Update bersama Forum Wartawan Ekonomi di Banjarmasin, Jumat (13/3/2026).
Dari sisi perbankan, ia membeberkan, kinerja intermediasi menunjukkan tren positif. Pada Januari 2026, penyaluran kredit tercatat mencapai Rp82,29 triliun atau tumbuh 6,71 persen secara tahunan. Kualitas kredit juga terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,63 persen. Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 28,16 persen, diikuti kredit konsumsi 6,78 persen, sementara kredit modal kerja mengalami kontraksi 8,23 persen. Penyaluran kredit investasi terbesar berada di Kota Banjarmasin.
Sementara itu, aset perbankan di Kalimantan Selatan tumbuh 6,05 persen dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,68 persen. Pangsa DPK terbesar berada di Kota Banjarmasin dengan nilai sekitar Rp61,2 triliun atau 62,42 persen dari total dana yang dihimpun.
“Pada sektor perbankan syariah, aset tercatat mengalami penurunan menjadi Rp10,49 triliun, namun pembiayaan masih tumbuh 10,33 persen menjadi Rp9,36 triliun. Likuiditas tetap terjaga dengan rasio 100,54 persen dan tingkat pembiayaan bermasalah (NPF) sebesar 2,03 persen,” ujarnya.
Lebih jauh Agus menjelaskan,
di sektor pasar modal, kinerja juga menunjukkan tren positif. Nilai transaksi saham di Kalimantan Selatan mencapai Rp3,62 triliun pada akhir 2025. Jumlah investor saham tercatat terus meningkat hingga mencapai 497.131 Single Investor Identification (SID). Selain itu, instrumen reksa dana juga mengalami penguatan dengan nilai penjualan Rp0,715 triliun dan jumlah investor mencapai 995.860 SID.
Sedangkan, untuk sektor Industri Keuangan Nonbank (IKNB), perusahaan pembiayaan menyalurkan piutang sebesar Rp11,89 triliun dengan tingkat risiko yang tetap terkendali. Pembiayaan pinjaman daring (pindar) juga tumbuh signifikan hingga mencapai Rp1,026 triliun. Sementara industri pergadaian mengalami pertumbuhan sebesar 61,59 persen secara tahunan.
Menurut Agus, di sisi edukasi dan perlindungan konsumen, OJK Kalsel telah melaksanakan 11 kegiatan literasi keuangan pada Januari–Februari 2026 yang diikuti lebih dari 1.000 peserta. Selain itu, terdapat 3.489 permintaan layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan 177 pengaduan konsumen, dengan mayoritas terkait layanan fintech peer-to-peer lending, perbankan, dan perusahaan pembiayaan,” jelasnya.
“Melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), OJK Kalsel juga terus mendorong peningkatan inklusi keuangan melalui sejumlah program strategis seperti Kredit Melawan Rentenir, Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), pengembangan ekosistem keuangan inklusif desa, bank sampah, serta program business matching,” imbuhnya.
OJK menegaskan akan terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus memperkuat literasi dan inklusi keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (Opq/KPO-1)















