BANJARMASIN, kalimantanpost.com – Di tengah meningkatnya gejolak konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang berdampak pada sektor energi global, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menilai pengawasan distribusi bahan bakar minyak (BBM) perlu diperkuat.
Kenaikan harga energi dunia berpotensi memicu penyesuaian harga BBM non-subsidi. Sementara itu, harga BBM subsidi tetap ditetapkan pemerintah, sehingga disparitas atau selisih harga antara BBM subsidi dan non-subsidi semakin besar.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang terjadinya penyalahgunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari perbedaan harga tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun mengatakan pihaknya membutuhkan dukungan aparat keamanan untuk memastikan distribusi BBM subsidi tetap tepat sasaran.
“Karena terkait dengan kenaikan harga, sementara BBM subsidi tetap berada pada harga yang sama, maka akan terjadi disparitas harga yang semakin besar,” ujar Edi Mangun usai kegiatan buka puasa bersama media di Banjarmasin, Rabu (11/3/2026) malam.
Menurutnya, semakin besar disparitas harga, maka potensi penyalahgunaan BBM subsidi juga semakin terbuka. Oleh karena itu, pengawasan bersama dengan aparat keamanan dinilai penting untuk menjaga stabilitas distribusi energi di masyarakat.
“Oleh karena itu, saya pikir untuk menjaga kondisi tersebut dan memastikan penyaluran berjalan dengan baik, mungkin sudah saatnya kami mendapatkan dukungan dan bantuan dalam pengawasan. Kita juga melihat bahwa upaya-upaya dari aparat keamanan sebenarnya sudah berjalan,” katanya.
Ia menambahkan, pengawasan yang lebih optimal diharapkan dapat memastikan masyarakat yang memang berhak menerima BBM subsidi benar-benar mendapatkan manfaatnya sesuai dengan kebijakan APBN.
Sementara terkait harga BBM industri atau non-subsidi, Edi menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan secara berkala pada awal setiap bulan mengikuti dinamika harga energi global.
“Terkait harga industri, penyesuaiannya dilakukan pada awal bulan. Setiap awal bulan kami melakukan pembaruan atau penyesuaian harga. Penyesuaian tersebut tidak selalu naik, terkadang juga bisa turun,” jelasnya.
Di sisi lain, pihaknya juga berharap kondisi geopolitik di Timur Tengah segera mereda karena konflik tersebut berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian dunia, termasuk sektor energi.
“Kita semua tentu berdoa agar apa yang terjadi dengan saudara-saudara kita di Timur Tengah dapat segera berakhir. Sebab dampaknya sangat luas dan bisa memengaruhi berbagai sektor di banyak negara,” ujarnya.
Edi juga menyinggung perkembangan terbaru terkait dua kapal tanker yang sebelumnya menjadi perhatian karena terkait distribusi energi. Menurutnya, salah satu tanker saat ini sudah mulai bergerak menuju Indonesia, sementara satu lainnya masih tertahan.
“Terkait dengan perkembangan terakhir mengenai dua tanker yang kemarin sempat menjadi perhatian, Alhamdulillah saat ini ada yang sudah mulai bergerak menuju Indonesia dan ada juga yang masih tertahan. Nanti akan saya coba lakukan pembaruan informasi kembali ke pusat mengenai bagaimana pergerakan kedua tanker tersebut,” tuntasnya. (Opq/KPO-1)















