Oleh : H. AHDIAT GAZALI RAHMAN
Ada kegiatan yang banyak melibatkan manusia khusunya di kota-kota besar, seperti di setiap kabupaten/kota tanpa diminta biasa melakukan kegiatan ini, khususnya paada pergantian tahun Masehi. Perkantian tahun masehi sangat berbeda dengan tahun Hijrih. Pada pergantian tahun baru khususnya tahun Masehi, biasa dilakukan dengan berbagi kegiatan hiburan, makna pergantian tahun seolah hanya menikamti hiburan gratis bagi mereka yang tak punya penghasilan
Pergantian tahun seharusnya merenungkan kepada semua manusia, karena mereka telah meng habiskan umur sebanyak 1 (satu) dari tahun kemarin, lahirnya renungan apa yang telah di kerjakan dalam tahun kemarin, berapa prosentasi program yang telah diprogramkan terpenuhi sebarapa banyak program yang dibuat tahun kemarin sudah mencapai pinal, apa semua dapat dilaksanakan, sehingga yang diperlukan bagaimana membuat program untuk tahun kedepan, atau terjadi sebaliknya program yang telah dicanangkan mengalami kegagalan karena berbagai faktor alam, dan sumber daya manusia. Tapi yang selalu dilihat adalah suatu tindakan yang seolah mencari cara bagaimana bisa terlibur pada saat itu, dengan berbagai kegiatan bahkan ada sebagian orang yang rela atau terpaksa melakukan suatu tindakan yang melanggar hukum, adat, Negara dan hukum agama, demi pelaksanaan pergantian tahun baru tersebut. Biasa yang mereka perbuat pada pergantian tahun baru itu ialah mendekorasi rumah, makan malam bersama, pesta piyama, menyalakan kembang api, memberikan pesan, melakukan permainan, karaoke bersama, membuat konten media sosial, menonton film bersama, menceritakan kisah horor, bakar-bakaran atau grill, membuat daftar resolusi. Pekerjaan seperti itu seolah kegiatan wajib mereka kerjakan pada saat menjelang pergantian tahun dan di tahun baru.
Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan saat pergantian tahun baru?
Menurut pendapat beberapa ulama, dalam pergantian tahun baru kita harus melakukan perbuatan sebabagi berikut : 1. Mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah kepada kita sehingga kita telah dapat melaksanakan perintah. Agama secara benar; 2. Muhasabah (introspeksi diri). Mengetahui seberapa jauh manusia telah melakukan pelangagaran terhadap hukum agama; 3. Muatabah (membersihkan diri). Selama satu tahun ini berbagai peristiwa telah dialami manusia. Entah pristiwa bahagia, menyedihkan; 4. Murokobah (supervisi). Selama satu tahun kita telah melakukan berbagi kegiatan, kegiatan yang belum terlaksana secara optimal, maka hendaklah dilakukan ditahun yang akan datang dengan cara menghitung dan menganalisa, dengan menghilangkan segala apa yang menjadi penghalang.
Jadi sebaliknya pelksaan peringatan tahun baru sangat elok jika semua kita menghitung dan mencari jalan, agar selalu melaksnakan perintah Allah, menhitung apa yang baik dilaksanakan dan apa yang ditinggalkakn agar bisa sukses dalam kehidupan dunia ini.











