Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

PUASA MEMBANGUN HARMONI

×

PUASA MEMBANGUN HARMONI

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Puasa adalah ibadah inklusif dalam Islam. Ketika Allah SWT menyuruh orang-orang beriman berpuasa, saat yang sama Allah memberitahukan bahwa ibadah tersebut juga diwajibkan atas orang-orang sebelum Islam datang (QS. 2: 183).

Kalimantan Post

Artinya, puasa bukanlah hal yang asing bagi pemeluk agama lain, seperti Yahudi, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu. Masing-masing memiliki ritual puasa, hanya bentuk, cara dan waktunya yang berbeda. Intinya sama-sama mengendalikan hawa nafsu. Nafsu terhadap makan minum, harta, wanita, kedudukan dan ingin menang sendiri. Ketika manusia mampu mengendalikan nafsunya, mengalahkan egoisme dan kepentingan pribadi, itulah kemenangan sejati.

Banyak kepala negara lain yang nonmuslim mengucapkan selamat kepada umat Islam yang berpuasa, seperti dari Presiden AS, PM Inggris, PM Australia dan lain-lain, bahkan ada yang menggelar acara buka puasa bersama di istananya.

Saat tibanya Ramadan, pemeluk agama lain ikut menyambut dan berpartisipasi. Selain ucapan selamat berpuasa yang biasanya disampaikan lewat tempat ibadah, spanduk, iklan di media certak dan elektronik, mereka juga berpartisipasi dalam kemuliaan puasa. Ada yang ikut acara buka puasa bersama dan mendengarkan ceramah agama. Ada yang ikut berbelanja di pasar wadai Ramadhan, bahkan juga ikut berjualan.

Bagi pengusaha ada yang meliburkan karyawan atau mengurangi jam kerja selama Ramadhan. Menutup THM, membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) dan Corporat Social Responsibility (CSR). Tak sedikit yang membantu lewat pasar murah, mengirimkan kado atau parsel lebaran, dan sebagainya.

Sebagian orang yang melanggar etika bulan puasa, misalnya makan atau merokok di tempat terbuka, justru dari kalangan umat Islam sendiri, bukan dari kalangan nonmuslim. Ini menunjukkan kalangan nonmuslim selama ini cukup menghormati orang Islam yang sedang berpuasa.

Dibandingkan umat Islam, nonmuslim lebih terbuka. Jarang dari umat Islam yang mau mendengarkan ceramah atau kajian tentang agama lain, padahal itu penting untuk menambah wawasan dan bahan perbandingan. Sebagian besar umat Islam masih eksklusif dengan agamanya. Padahal tidak mustahil dengan mempelajari agama lain, dan bergaul akrab dengan penganutnya, justru akan memperkuat keyakinan pada agama sendiri. Minimal kita tidak mudah salah paham lalu saling menyalahkan.

Baca Juga :  Cermin dari Ngada: Ekosistem kegagalan sistemik

Ada teman nonmuslim bertanya: Mengapa kalau bulan Ramadhan, bermunculan berbagai aneka kuliner; makanan, minuman dan kue yang enak-enak, yang mereka juga senang membelinya. Mengapa tidak dijual di bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Saya menjawab sekenanya: mungkin penjualnya tidak ingin berbisnis, hanya sekadar meramaikan Ramadhan dengan berjualan makanan khas.

Ada juga yang bertanya, mengapa di setiap tibanya bulan Ramadhan, daya beli umat Islam meningkat, sehingga berakibat harga sembako dan barang-barang lain merangkak naik. Kalau begitu ibadah puasa hanya mengubah jam makan, setelah itu umat Islam melampiaskannya dengan makan-minum serba enak. Berarti tujuan puasa untuk mengendalikan nafsu kurang tercapai. Saya agak kesulitan menjawabnya, tetapi lagi-lagi saya jawab sekenanya: Sekadar mengubah jam makan-minum saja sebenarnya sudah berat, apalagi bagi para pekerja berat. Kita terbiasa makan minum tanpa batasan waktu. Terlebih bagi yang punya masalah kesehatan, pencernaan, misalnya maag, tidak mudah menahan makan sekian lama. Walau puasa menyehatkan, tetap diperlukan perjuangan ekstrakeras.

Keluarga muslim juga banyak yang melatih anak-anak berpuasa. Walau belum baligh (mukallaf) mereka perlu dibiasakan berpuasa. Sebagai imbalannya anak-anak itu dihibur dengan makan-minum yang enak, bahkan ada yang diupah dan dijanjikan pakaian baru. Hal itu dibolehkan untuk motivasi dan pendidikan. Kalau tidak begitu sebagian anak enggan berpuasa, dan hal ini akan melemahkan agamanya kelak. Kalau tidak terbiasa berpuasa sejak kecil, anak sulit berpuasa setelah dewasa dan tua.

Umat Islam juga banyak yang saling tukar menukar makanan antar tetangga, juga membukakan sesamanya berpuasa di rumah, mushalla maupun masjid. Tradisi itu sangat dianjurkan agama dan besar pahalanya. Wajar sajian makanan lebih enak dan khas dari biasanya.

Baca Juga :  Sandiwara Gencatan Senjata dan Ilusi Perdamaian

Tetapi di tengah konsumerisme umat Islam selama Ramadhan dan menjelang Lebaran, pihak yang paling diuntungkan sebenarnya pedagang dan pengusaha, baik muslim maupun nonmuslim juga. Semakin umat Islam punya uang dan getol berbelanja, keuntungan pedagang semakin membengkak. Di bulan Ramadhan, pedagang dan pengusaha sering panen raya.

Hubungan baik yang terjalin antara muslim dengan nonmuslim selama ini, yang tampak menonjol di bulan Ramadhan, perlu kita jaga dan lestarikan. Selama tidak mengubah keyakinan, kita disuruh untuk menjalin dan memperkuat silaturahim dengan siapa saja, termasuk dengan kalangan yang berbeda agama. Silaturahim yang diajarkan Islam lintas agama, lintas kelompok dan status sosial. Islam sangat memuji kebersamaan dan kesederajatan dan sangat mencela eksklusivisme dan primordialisme.

Puasa dipenuhi ajaran pengendalikan emosi, menahan marah, banyak mengalah dan lebih aktif menolong orang lain. Semua ini memperkuat soliditas, solidaritas dan inklusivisme di kalangan masyarakat. Sebagai komunitas dalam NKRI yang pluralistik, kita sangat membutuhkan kebersamaan. Banyak masalah yang tidak dapat kita atasi tanpa bantuan orang dan pihak lain. Masing-masing orang dan kelompok memiliki kelebihan dan kekurangan. Melalui interaksi positif kita saling berbagi dan menggenapi.

Selama ini letupan sosial dan radikalisme agama kadang masih saja terjadi. Semua itu dapat merusak kerukunan dan karenanya tidak kita kehendaki. Alangkah tercelanya kalau kita berbuat kekerasan, sementara agama kita menuntun kepada kedamaian.

Kalsel dan Banjarmasin, walaupun memiliki penduduk yang heterogen, ternyata relatif aman, damai dan terkendali. Hal ini tak sedikit karena kontribusi bulan Ramadhan di mana para pihak yang berbeda saling toleran dan menghormati.

Semoga kehidupan sosial kita semakin rukun dan damai, sehingga kita dapat menjadi masyarakat dan bangsa yang solid dan harmonis. Kerukunan intern dan antarumat beragama kata kunci membangun daerah dan negara.

Iklan
Iklan