Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

PUASA MENGASAH KEPEKAAN

×

PUASA MENGASAH KEPEKAAN

Sebarkan artikel ini
Ahmad Barjie B
Ahmad Barjie B

Oleh : AHMAD BARJIE B

Sudah lama kualitas SDM bangsa Indonesia dinilai rendah oleh UNDP, baik di jajaran negara-negara dunia, Asia bahkan Asia Tenggara. Kualitas ini diukur minimal dari tiga aspek; kesejahteraan (welfare), kesehatan (health) dan pendidikan (education). Ketiga kriteria ini sangat terkait dengan kehidupan sosial ekonomi. Ketika kita hidup susah, miskin, dipastikan tingkat kesejahteraan memprihatinkan, kesehatan menurun dan pendidikan rendah. Sebab untuk mendapat kualifikasi kesejahteraan yang memadai, kesehatan prima, pendidikan tinggi dan bermutu, semuanya butuh uang. Sepanjang perekonomian belum pulih, selama itu pula kualitas SDM bangsa ini rendah.

Kalimantan Post

Saat ini penduduk Indonesia mencapai 285 juta jiwa lebih, nomor empat besar negara terpadat di dunia. Seiring makin beratnya derita ekonomi, semakin mahalnya harga barang, sulitnya mendapatkan pekerjaan, penghasilan yang minim, angka kemiskinan makin membengkak menjadi 62 juta lebih, setara dengan penduduk Thailand. Dari totalitas penduduk, 87,21 % di antaranya muslim, berarti 54 juta lebih golongan miskin adalah orang Islam. Bahkan bisa lebih besar jika digunakan kriteria lain.

Mengatasi kemiskinan tanggung jawab semua pihak. Pemerintah sebagai pengayom rakyat merupakan penanggung jawab utama, selebihnya menjadi tanggung jawab berbagai elemen masyarakat. Pemerintah mesti berbuat maksimal mendongkrak kesejahteraan rakyat agar terbebas dari kemiskinan dengan segala dampak ikutannya. Kriminolog Harvey Brenner (1986: 1) menyebut tujuh persoalan ekonomi yang potensial memacu kejahatan, di antaranya kemerosotan ekonomi, kesenjangan sosial ekonomi, tertutupnya kesempatan memasuki sektor ekonomi formal, urbanisasi dan tumbuhnya frustrasi agresi karena tekanan ekonomi yang berat.

Dalam perspektif agama, kemiskinan yang tidak mampu disikapi secara sabar, sangat berbahaya. Kaadal faqru an-yakuuna kufra (Hampir saja kefakiran itu menyebabkan kekufuran), demikian HR Abi Na’im dari Anas. Kafir bisa berupa keputusasaan sehingga tidak dapat lagi menjalankan agama dengan baik, nekad melanggar hukum agama, bahkan pindah agama.

Baca Juga :  Al-Qur'an Diturunkan dalam Tujuh Huruf

Di sebuah desa Antah Berantah, tinggallah sebuah keluarga pindahan dari desa lain, karena usaha bangkrut hidupnya jatuh miskin. Tidak ada orang kaya dan mampu yang mau menolong. Bahkan ketika siibu dalam keluarga itu mengambil rebung (bambu muda) milik penduduk untuk dijadikan sayur, ia dilabrak dan dituduh sebagai pencuri. Jangankan menolong, sedikit empati dan simpati atas penderitaan saja tidak ada. Hanya sesama tetangga miskin yang membantu seadanya. Karena tidak tahan, keluarga itu akhirnya pindah lagi ke kampung lain, sekaligus pindah agama, setelah dihargai/diberi hadiah uang Rp4 juta perkepala.

Iklan
Iklan