SAMARKAN, Kalimantanpost.com – Pertemuan dua peristiwa agung dalam satu hari yang sama menjadi pengalaman spiritual tak terlupakan bagi puluhan ribu umat Islam yang memadati Kompleks Imam Bukhari di Samarkand. Jumat (20/3), tidak hanya menandai momen pertama Masjid Imam Bukhari menggelar Salat Idul Fitri sejak diresmikan sehari sebelumnya, tetapi juga bertepatan dengan hari wafatnya sang imam besar, Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari pada 1 Syawal 256 Hijriah yang pada masa itu juga bertepatan pada Jumat malam, 31 Agustus 870 Masehi.
Bagi masyarakat Uzbekistan dan para peziarah, momentum tersebut terasa begitu dalam. Salat Ied yang dilaksanakan di pagi hari, dilanjutkan dengan Salat Jumat di siang harinya, menjadi rangkaian ibadah yang seolah menyatukan rindu umat kepada Rasulullah SAW melalui sunah-sunah yang diriwayatkan Imam Bukhari, sekaligus mengenang perjalanan hidup sang ulama yang mengemban amanah menjaga keaslian hadits.
Mufti Negara Republik Uzbekistan Syekh Nuriddin Khaliqnazar menyampaikan dalam khutbahnya bahwa kehadiran puluhan ribu jemaah di lokasi ini pada 1 Syawal adalah pengingat akan pengorbanan Imam Bukhari.
“Beliau wafat pada malam Idul Fitri, di saat manusia bergembira. Hari ini kita merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, namun juga merenungi kepergian seorang alim yang karyanya menjadi rujukan kedua setelah Al-Qur’an. Shalat kita di sini adalah bentuk cinta yang tak pernah padam,” ujarnya di hadapan lautan manusia yang memenuhi pelataran masjid.
Suasana khusyuk yang tercipta hari ini tidak terlepas dari upaya besar pemerintah Uzbekistan yang sejak 2021 memulai revitalisasi total Kompleks Imam Bukhari.
Presiden Shavkat Mirziyoyev menaruh perhatian khusus pada proyek ini sebagai bagian dari visi besar menjadikan Uzbekistan sebagai pusat wisata religi dan kebangkitan warisan Islam.
Proses renovasi yang berlangsung selama hampir lima tahun ini mengubah kompleks yang sebelumnya sederhana menjadi kawasan megah seluas empat puluh lima hektar.
Pembangunan mencakup masjid besar dengan kapasitas 10.000 jemaah, perpustakaan digital yang menyimpan ribuan naskah klasik, pusat penelitian dan kajian ilmiah hadis, sekolah tinggi bidang hadis, area perhotelan, area pertamanan serta area ziarah yang tertata rapi di sekitar makam Imam Bukhari.
Arsitektur yang diusung memadukan gaya tradisional Samarkand dengan sentuhan modern, menjadikannya salah satu kompleks Islam terindah di Asia Tengah.
Kompleks ini berlokasi di desa Khartank (kini menjadi urban district Xo’ja Ismail di kawasan Parariq), sekitar 25 kilometer dari pusat kota Samarkand.
Meski Imam Bukhari lahir di Bukhara, sang imam menghabiskan masa kecil, menimba ilmu, dan pada akhir hayatnya dimakamkan di Samarkand setelah diasingkan dari Bukhara karena konflik politik pada masanya.
Pada Keistimewaan lokasi ini tidak hanya karena menjadi tempat peristirahatan terakhir perawi hadits paling otoritatif di dunia Islam, tetapi juga karena tradisi panjang para ulama dan peziarah yang selama berabad-abad datang untuk membaca Al-Qur’an dan bershalawat di sisi makamnya.
Dengan revitalisasi yang baru rampung, kompleks ini kini dilengkapi fasilitas modern tanpa menghilangkan nuansa sakral yang telah melekat selama lebih dari 1.200 tahun.(Rof/KPO-1)















