BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Atmosfer internal DPC PKB Kota Banjarmasin menjelang Musyawarah Cabang (Muscab) kian menghangat. Agenda yang dijadwalkan Rabu, 8 April 2026, itu diproyeksikan menjadi panggung penentuan arah kepemimpinan partai lima tahun ke depan, periode 2026–2031.
Dua nama diperkirakan akan bersaing ketat memperebutkan kursi ketua masing-masing Deddy Sophian dan Zainal Hakim. Keduanya sama-sama menyatakan kesiapan maju, dengan membawa visi penguatan konsolidasi internal, kaderisasi, serta perluasan basis pemilih—terutama di kalangan generasi muda.
Sejumlah nama lain sempat mencuat sebagai bakal calon, di antaranya Hilyah Aulia, Feri Hidayat, dan Nanang Rahman Riduan. Namun dinamika terakhir mengerucut pada dua figur utama yang dinilai memiliki peluang paling kuat.
Deddy Sophian menegaskan komitmennya untuk merapatkan barisan kader serta mendorong peningkatan perolehan suara PKB di Banjarmasin. Baginya, Muscab bukan sekadar kontestasi, melainkan momentum memperkuat soliditas organisasi.
“Dengan keyakinan di Muscab ini, kami saling mendukung siapa pun yang terpilih. Fokus kami adalah merapatkan barisan dan membesarkan PKB,” ujarnya.
Deddy menaruh perhatian besar pada kaderisasi generasi muda dan pemilih pemula. Ia menilai, partai harus hadir sebagai wadah aspirasi masyarakat yang aktif melayani rakyat. Selain itu, ia menyoroti peran PKB dalam mendorong penguatan ekonomi warga serta kepedulian terhadap persoalan lingkungan perkotaan yang kerap menjadi keluhan masyarakat Banjarmasin.
Ia menambahkan, pelaksanaan Muscab tetap mengedepankan semangat kebersamaan dengan berpedoman pada prinsip “PKB Guyub”.
Di sisi lain, Zainal Hakim juga menegaskan kesiapannya menerima amanah apabila dipercaya memimpin. Ia menilai, penguatan struktur partai dari tingkat bawah hingga atas menjadi pekerjaan utama yang harus dituntaskan dalam waktu dekat.
Menurut Zainal, kaderisasi dan perekrutan generasi muda merupakan kunci menghadapi bonus demografi, khususnya di kalangan milenial dan generasi Z.
“Anak muda memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan politik ke depan. PKB harus mampu menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang dan berkontribusi,” katanya.
Zainal menekankan, dinamika Muscab harus dipandang sebagai proses organisasi yang sehat. Ia memastikan seluruh kader akan tetap solid, siapa pun yang nantinya terpilih sebagai ketua.
Lebih jauh, ia juga menyoroti pentingnya kembali merangkul tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari sejarah, akar kultural, sekaligus kekuatan sosial yang selama ini melekat dengan PKB.
Sementara itu, Hilyah Aulia memastikan tidak akan maju dalam Muscab kali ini. Ia mengaku tengah fokus menjalankan tugas sebagai Sekretaris DPW PKB Kalimantan Selatan sekaligus mengawal pelaksanaan Muscab di 13 kabupaten/kota di Kalsel.
Muscab PKB Banjarmasin kali ini tidak hanya dipandang sebagai agenda rutin organisasi, tetapi juga momentum konsolidasi penting di tengah dinamika politik daerah yang terus bergerak. Kepemimpinan baru diharapkan mampu menjaga soliditas kader, memperluas basis dukungan, serta menyiapkan mesin partai menghadapi kontestasi politik mendatang.
Siapa pun yang terpilih, tantangan ke depan tidak ringan: menjaga kekompakan internal, memperkuat struktur hingga akar rumput, dan menjawab harapan publik agar PKB semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat kota.(nau/KPO-1)















