oleh: Saad Pamungkas
(Penulis di SRB Official)
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.” Kalimat ini dinukil dari karya Pramoedya Ananta Toer dalam novel Rumah Kaca, bagian dari Tetralogi Buru. Pesan sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam, menulis bukan hanya kegiatan biasa, tetapi jalan untuk meninggalkan jejak.
Sejarah menunjukkan bahwa tulisan mampu melampaui ruang dan waktu. Bahkan catatan pribadi sekalipun dapat menjadi sumber penting bagi generasi berikutnya. Salah satu contoh paling terkenal adalah buku The Diary of a Young Girl karya Anne Frank (1929–1945). Ia mulai menulis pada usia 13 tahun saat bersembunyi pada masa Holocaust kemudian menjadi dokumen penting tentang kehidupan di tengah tragedi World War II. Awalnya hanya tulisan pribadi, tetapi nilainya menjadi sumber sejarah dunia.
Hal serupa juga terlihat dalam karya perjalanan Ibnu Jubair (1145–1217 Masehi). Ia menuliskan pengalamannya selama menunaikan haji dan melakukan perjalanan ke wilayah Syam. Catatan tersebut menggambarkan kondisi Makkah dan Madinah secara detail, kehidupan jamaah, pengelolaan Masjidil Haram, hingga dinamika sosial pada masa Perang Salib. Karena ditulis langsung dari pengalaman pribadi, catatan itu memiliki nilai sejarah yang tinggi.
Dari dua contoh tersebut terlihat bahwa menulis bekerja untuk keabadian. Tulisan memungkinkan gagasan, pengalaman dan nilai hidup seseorang tetap hidup, bahkan setelah penulisnya tiada. Menulis juga bukan hanya milik akademisi atau sastrawan. Catatan sederhana, refleksi harian, hingga pengalaman perjalanan dapat menjadi berharga bagi generasi berikutnya.
Bagi seorang tokoh, menulis bahkan memiliki peran lebih besar dan luas. Gagasan, ideologi dan pemikiran yang dituangkan dalam tulisan dapat menjadi rujukan, inspirasi, sekaligus bahan pembelajaran. Tulisan yang baik tidak hanya mendokumentasikan perjalanan hidup, tetapi juga menghadirkan nilai yang dapat diteladani. Di sinilah menulis berubah dari aktivitas personal menjadi kontribusi sosial.
Pada akhirnya, menulis bukan sekadar tentang menghasilkan buku. Menulis adalah upaya merawat ingatan, menjaga pengalaman dan meninggalkan jejak. Sejarah selalu ditopang oleh mereka yang menulis. Tanpa tulisan, banyak kisah akan hilang begitu saja. Namun, dengan tulisan, pengalaman sederhana pun dapat berubah menjadi warisan yang abadi.












