BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Gelombang kelangkaan susu UHT full cream mulai terasa nyata, terutama di wilayah Kalimantan. Bukan sekadar isu distribusi biasa, kondisi ini sudah sampai ke titik mengganggu operasional pelaku usaha minuman.
Kedai kopi yang biasanya ramai dengan menu berbasis susu kini dipaksa beradaptasi, bahkan sebagian memilih berhenti sementara menjual minuman andalannya.
Para pelaku usaha mengaku kesulitan mendapatkan pasokan, baik dari minimarket maupun distributor resmi. Rak yang biasanya penuh kini kosong, dan kalaupun ada, jumlahnya jauh dari kebutuhan harian. Situasi ini membuat banyak coffeeshop hanya mengandalkan menu non-susu seperti americano, kopi tubruk, hingga manual brew untuk tetap bertahan.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Bagi sebagian kedai, susu bukan sekadar bahan tambahan, tapi elemen utama yang menentukan karakter rasa. Tanpa UHT full cream, identitas minuman ikut berubah. Konsumen pun mulai merasakan perbedaan, meski tidak semua langsung menyadarinya.
Salah satu pelaku usaha bahkan mengungkapkan kebutuhan harian mereka bisa mencapai puluhan karton susu. Namun realitanya, pasokan yang datang hanya sebagian kecil dari angka tersebut. Ketimpangan ini jelas membuat operasional tidak berjalan normal dan memaksa pelaku usaha berpikir keras mencari solusi.
Di sisi lain, beberapa brand memilih tetap berjalan dengan penyesuaian. Resep diubah, bahan diganti, dan standar rasa dijaga semaksimal mungkin. Namun mereka juga jujur, hasilnya tidak akan pernah benar-benar sama. Ini bukan soal kreativitas semata, tapi keterbatasan bahan baku yang memang nyata di lapangan.
Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Kalimantan. Laporan serupa juga datang dari daerah lain seperti Kendari dan Kolaka. Artinya, ada indikasi masalah distribusi atau pasokan yang lebih luas, bukan sekadar gangguan lokal.
Para pelaku UMKM berharap kondisi ini tidak berlangsung lama. Jika kelangkaan terus berlanjut, dampaknya bukan hanya pada variasi menu, tapi juga omzet. Bisnis minuman yang bergantung pada susu bisa kehilangan daya tariknya, dan pada akhirnya memukul keberlangsungan usaha.
Situasi ini jadi pengingat bahwa rantai pasok bahan baku punya peran krusial dalam industri kuliner. Ketika satu komponen hilang, efeknya bisa merembet ke mana-mana. Untuk sekarang, para pelaku usaha hanya bisa bertahan, beradaptasi, dan berharap susu kembali tersedia sebelum pelanggan benar-benar kehilangan selera. (nug/KPO-4)















