BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Keterbatasan fisik tidak menjadi hambatan untuk memperjuangkan mimpi, bahkan meraih prestasi hingga kancah nasional.
Seperti dua nama mahasiswa difabel yang mencuri perhatian, yakni Mutiara Ramadhani dan Alexander Dwiki Hermawan.
Mutiara adalah mahasiswi Program Studi Kebutuhan Khusus FKIP ULM. Mutiara, mahasiswi asal Balikpapan yang sehari-hari tinggal di Panti Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Netra dan Fisik (PRSPDNF) menghabiskan waktunya dengan menjalani perkuliahan.
Selain itu, ia juga merupakan seorang penghafal Al-Quran. Tidak kurang dari 15 Juz telah berhasil ia hafalkan. Berkat ketekunannya, prestasi membanggakan ia torehkan yaitu Juara 2 Cabang Tartil Sensorik Netra Putri dalam ajang Pekan Tilawatil Quran (PTQ) 2026 yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI). Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk berprestasi.
Alex, rekan satu program studi Mutiara yang hidup dengan kondisi low vision, juga tidak kalah membanggakan. Alex membuktikan diri di dua bidang yang berbeda sekaligus.
Di bidang seni, ia meraih Juara 2 Lomba Cipta dan Baca Puisi FLS2N Tingkat Provinsi Kalsel. Di arena olahraga atletik, sederet prestasi ia capai: Medali Emas lari 100m dan 200m putra klasifikasi tunanetra T13 pada PeparProv Kandangan 2022, Medali Perak lompat jauh klasifikasi tunanetra T13 pada PeParProv Kandangan 2022, hingga Medali Perunggu lari 400m klasifikasi tunanetra T12 pada PeParNas XVII Solo 2024.
Yang lebih mengesankan, di tengah padatnya jadwal latihan dan perlombaan, Alex tetap mampu mempertahankan IPK 3,90 dan kini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba Mahasiswa Berprestasi tingkat Nasional khusus Difabel mewakili ULM.
Kisah Mutiara dan Alex merupakan cerminan dari puluhan mahasiswa difabel ULM yang setiap harinya berjuang dengan semangat belajar yang tidak padam.
Perwakilan Pusat Pengembangan Pendidikan Inklusif dan Layanan Disabilitas LPMPP ULM, Dr Utomo menyampaikan rasa syukur atas capaian para mahasiswanya.
Ia menegaskan bahwa ULM terus berkomitmen untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah dan suportif bagi seluruh mahasiswa, termasuk mereka yang menyandang disabilitas.
“Ini sungguh luar biasa, kami merasa bangga dan mudah-mudahan nanti ke depannya tetap semangat mengikuti lomba lainnya,” katanya.
“Semoga ini menjadi motivasi bagi teman-teman penyandang disabilitas yang lain untuk ikut mengembangkan bakat dan minatnya di bidang masing-masing,” tambahnya.
Hingga 2026, tercatat sebanyak 70 mahasiswa difabel aktif menempuh pendidikan di berbagai Fakultas diantaranya FKIP, Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Teknik – sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cerminan nyata dari komitmen ULM sebagai kampus inklusif.
Dengan atmosfer akademik yang menghargai keberagaman, ULM membuktikan bahwa perguruan tinggi yang sesungguhnya adalah tempat di mana setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki ruang untuk tumbuh, bangkit dari keterbatasan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (adv/lyn/KPO-4)















