Oleh : AHMAD BARJIE B
Seorang istri meminta sejumlah uang kepada suaminya untuk membeli pakaian baru bagi anak-anaknya. Suami yang penghasilannya tidak seberapa itu menolak sambil mengatakan, pakaian terdahulu masih bagus. Uang yang ada hanya cukup untuk membayar zakat fitrah dan membeli bahan makanan dan kue-kue alakadarnya untuk hari raya. Belum lagi uang untuk mudik yang belum jelas tersedia. Dengan setengah kesal dan muka masam sang istri berkata: “berarti tahun ini anak-anak tidak berhari raya.
Kenyataan begini banyak sekali terjadi di tengah masyarakat terutama kalangan menengah bawah. Bahwa berhari raya identik dengan pakaian baru, mudik dan sejenisnya. Bagi kalangan mampu tentu tidak menjadi masalah untuk memenuhi kebutuhan berhari raya, baik dalam hal pakaian, makanan-minuman yang serba enak, bahkan mudik pun gampang dilakukan dengan mobil pribadi. Tetapi tetap saja kedua golongan masyarakat ini menganggap hari raya harus ditampakkan dalam simbol materi.
Fenomena masyarakat berhari raya dengan mengenakan pakaian baru sudah terjadi sejak ribuan tahun silam. Imam Ibn al-Qayyim al-Jauzi yang hidup di abad ke-14 M mengatakan: laisal ’ied liman labisal jadid, wa innamal ’ied liman tha’atuhu wa taqwahu tazid (bukanlah berhari raya dengan pakaian baru, sesungguhnya berhari raya itu bagi orang yang ketaatan dan ketakwaannya bertambah).
Pakaian baru yang sering menghiasai orang-orang berhari raya, tidak ada hubungannya dengan hakikat hari raya. Itu sekadar tradisi dan ungkapan gembira dan pertanda semangat baru. Karena bagi kebanyakan masyarakat (awam) ketika memakai pakaian baru ada rasa bangga bahkan mungkin rasa percaya diri yang lebih besar ketimbang memakai pakaian lama.
Mengupayakan agar ketaatan dan ketaqwaan bertambah menjadi kata kunci keberhasilan berpuasa dan merayakan Idul Fitri. Taat dan takwa tentu ukurannya sangat abstrak, karena lebih bersifat spiritual ketimbang material. Agar lebih mudah kita bisa mengaitkannya dengan sifat bayi, sebab orang yang berhasil puasa seperti bayi yang baru lahir.
Sebuah hadits mengatakan: Man shaama ramadhaana imaanan wahtisaaban kharajat min zunubihi kayaumi waladathu ummuhu. Maksudnya, orang yang telah berpuasa di siang hari dan qiyamul lail di malam Ramadhan, saat merayakan Idul Fitri ia keluar dari dosa-dosanya seperti bayi baru dilahirkan ibunya.
Umumnya ulama dan masyarakat memahami hadits ini secara terbatas, bahwa sesudah puasa Ramadhan dilaksanakan dengan baik, kemudian merayakan Idul Fitri berguguranlah dosa-dosa yang lalu, dan kita menjadi putih bersih tanpa dosa seperti halnya bayi baru lahir.
Pemahaman demikian tidak keliru. Tetapi Ustadz Chairani Idris memaknainya lebih jauh. Menurutnya karena secara fisik kita (orang dewasa dan tua) tidak mungkin kembali menjadi bayi, maka hadits itu mengandung arti maknawi (majazi), yaitu kita hendaknya dapat meniru sifat-sifat bayi yang positif, yang membahagiakan dan menyenangkan bagi semua orang.
Di antara sifat bayi, Pertama, tidak pernah rakus atau serakah. Apabila sudah minum susu ibunya atau susu non ASI kemudian kenyang, ia akan tertidur. Ia baru terbangun lagi apabila lapar atau kencing. Apakah bayi dilahirkan dalam keluarga kaya, sederhana bahkan miskin, bayi tetap nerima, gembira.
Salah satu problem hidup selama ini karena manusia serakah, dan sifat demikian umumnya dimiliki oleh orang yang sudah berumur, remaja, dewasa dan tua. Terjadinya korupsi dan penyalahgunaan jabatan dan sejenisnya, tidak lain karena manusia rakus dan serakah, tidak merasa puas dengan gaji dan penghasilan yang ada, yang sebenarnya sudah lebih daripada cukup bahkan sangat berkelebihan melebihi nilai kerjanya. Mengapa banyak orang yang menyunat uang negara, “makan” pasir, aspal, semen, besi, membabat hutan dan mengekploitasi kekayaan alam secara berlebihan tanpa tanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan keselamatan ekosistem, semua karena rakus dan serakah. Rusaknya sendi kehidupan dan ketidakadilan sering dipicu keserakahan dan ambisi materi yang tidak berujung.
Pejuang India Mahatma Gandhi mengatakan, bumi ini sebenarnya cukup untuk memberi makan penghuninya berapa miliar pun jumlah penduduknya, tetapi tidak akan cukup kalau banyak di antaranya bersifat rakus. Almarhum Drs. H. Jamhari Arsyad (orangtua Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA) pernah mengatakan, penyebab korupsi bukanlah karena minimnya gaji, tetapi justru karena serakah. Di masa lalu dengan gaji minim banyak PNS dan pejabat yang mampu hidup bersih. Kini, di tengah membengkaknya gaji, tunjangan dan fasilitas, korupsi justru merajalela.
Kedua, bayi tidak punya sifat sombong. Biar bayi yang kecil mungil itu diberi pakaian baik dan baru, atau perhiasan emas, dia bersikap biasa-biasa saja. Sifat sombong justru muncul ketika masa anak-anak, remaja, dewasa dan tua. Sedikit saja diberi Allah swt ketampanan/kecantikan, kekayaan, kedudukan, keilmuan, keturunan, status dan jabatan, kesombongan seringkali melekat pada dirinya, lantas merendahkan dan melecehkan orang lain.
Ketiga, sifat bayi tidak pemarah dan pendendam. Ketika orang gemas, ada yang suka mencubitnya, bahkan ada orangtua atau saudaranya yang tega memukulnya. Bagi bayi hal itu kadang terasa sakit, tetapi ia tidak pernah marah dan dendam, lalu berencana membalasnya jika sudah besar. Semua dimaafkan dan dilupakannya. Rasa marah dan dendam mulai tumbuh di kalangan anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua. Betapa banyak terjadi perkelahian, penganiayaan, fitnah, kerusuhan, bahkan pembunuhan, semuanya banyak dipicu rasa dendam.
Di kalangan elit perasaan demikian masih ada. Ada elit dan pejabat yang tidak tahan dikritik dan disaingi. Orang yang suka mengeritik akan dipinggirkan, bahkan diberikan hukuman fisik dan nonfisik. Padahal pendapat orang yang mengeritik seringkali mendekati kebenaran, asalkan kritiknya objektif. Khalifah Abubakar dan Umar justru sangat berterimakasih kalau ada orang yang mengeritik dan meluruskan pemerintahannya.
Umumnya orang senang dipuji, karena itu kebutuhan rohani. Tetapi tidak semua pujian bermanfaat, karena sering orang yang memuji ada maunya dan orang yang dipuji jadi lupa diri. Walt Whitman penyair Amerika berkata: Tidak ada yang diperoleh dari pujian dan sanjungan, karena kalimat manis sering melalaikan. Tetapi kritik dan kecaman membuat kita menginsafi kesalahan dan terhindar dari kejatuhan.
Keempat, bayi bersifat polos, tulus ikhlas, tidak berdusta dan berpura-pura. Kalau bayi menangis memang ada penyebabnya, misalnya karena lapar, haus, sakit atau jauh dari orangtuanya. Kalau bayi tertawa memang karena gembira. Berbeda dengan orang dewasa, ada yang sedih dan sakitnya berpura-pura, seperti sebagian pengemis. Ada yang senyumnya palsu seperti para wanita penjual cinta, atau senyum dan keramahannya karena tuntutan kerja seperti sebagian pramugari. Ada yang keramahannya semu seperti para pedagang dan pelaku bisnis. Ada pula senyum politis dan temporal dari para politisi, mendekati rakyat hanya jika ada kepentingan, setelah itu rakyat dilupakan.
Semoga kita semua mampu menjadi “bayi” pasca Ramadhan. Alangkah damainya dunia dan indahnya hidup ini jika di sekitar kita banyak “bayi” demikian. Wallahu A’lam.














