Oleh: Didi Susanto (Wakil Rektor III Uniska Banjarmasin)
Pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) selalu menjadi momen yang dinanti dengan degup jantung kencang. Di berbagai sudut sekolah, kabar kelulusan disambut haru, bangga, bahkan tangis bahagia. Nama-nama yang dinyatakan lolos seolah langsung terangkat menjadi simbol keberhasilan. Mereka dielu-elukan, dipajang di media sosial sekolah, dan diberi ucapan selamat sebagai siswa berprestasi.
Namun, mari kita renungkan sejenak: Apakah kelulusan SNBP adalah puncak prestasi? Ataukah ia hanya sebuah “ilusi keberhasilan dini” yang bisa menjebak jika tidak disikapi dengan bijak?
Modal Budaya dan Gengsi Sosial
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, kelulusan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memang sering dipandang sebagai bentuk “prestasi simbolik”. Sosiolog ternama Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai cultural capital modal sosial dan budaya yang memberi seseorang pengakuan instan dalam masyarakat. Masuk PTN melalui jalur rapor dianggap sebagai legitimasi mutlak atas kecerdasan dan kerja keras selama tiga tahun di SMA.
Jebakan Puas Diri
Namun, psikolog perkembangan Carol Dweck melalui teorinya growth mindset mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukan terletak pada pencapaian sesaat. Lulus SNBP memang indikator usaha masa lalu, tetapi bukan jaminan kesuksesan jangka panjang. Tanpa semangat belajar yang berkelanjutan, pencapaian itu bisa menjadi sekadar euforia sementara yang melenakan.
Sejalan dengan itu, David McClelland dengan konsep Need for Achievement (nAch) menjelaskan bahwa individu berprestasi tinggi digerakkan oleh dorongan internal untuk terus mencapai target yang lebih tinggi. Artinya, siswa yang lolos SNBP baru menunjukkan satu tahap pencapaian kecil, bukan keseluruhan potensi dirinya.
Senjata Rahasia: Adaptasi dan Ketekunan
Keberhasilan di dunia nyata sering kali tidak linier dengan status kampus seseorang. Albert Bandura melalui Social Cognitive Theory menekankan bahwa self-efficacy keyakinan terhadap kemampuan diri untuk beradaptasi jauh lebih menentukan masa depan dibanding sekadar status awal saat masuk kuliah.
Hal ini diperkuat oleh Angela Duckworth dengan teori Grit. Ketekunan dan konsistensi jangka panjang adalah faktor utama kesuksesan. Sering kali, mereka yang awalnya dianggap “biasa saja” atau bahkan tidak lolos jalur prestasi, justru melampaui mereka yang unggul di awal karena memiliki daya juang yang lebih kuat.
“Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, melainkan hidup itu sendiri.” > John Dewey.
Titik Start yang Baru
Ironisnya, budaya kita kerap terjebak dalam glorifikasi yang sempit. Mereka yang lolos SNBP dipandang sebagai “pemenang”, sementara yang lain seakan berada di posisi kedua. Padahal, dunia nyata memiliki banyak jalur menuju sukses.
Memberi apresiasi kepada siswa yang lulus SNBP tentu penting sebagai bentuk penghargaan atas jerih payah mereka. Namun, penting bagi kita untuk menjaga perspektif: SNBP bukan garis akhir, melainkan titik start yang baru.
Bagi siswa yang belum beruntung di jalur ini, ingatlah bahwa ini bukan kegagalan. Bisa jadi, Anda hanya sedang diarahkan untuk mengambil jalur berbeda baik melalui jalur tes, perguruan tinggi swasta, maupun jalur non-akademik yang mungkin justru membawa Anda pada tujuan yang lebih besar.
Penutup Pada akhirnya, prestasi sejati bukan tentang di mana seseorang diterima, tetapi bagaimana ia terus bertumbuh, bertahan, dan memberi arti dalam perjalanan hidupnya setelah pintu kampus terbuka lebar. Kelulusan adalah kesempatan, tapi proseslah yang menentukan masa depan.













