Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Together for Health? Pustakawan Dilupakan

×

Together for Health? Pustakawan Dilupakan

Sebarkan artikel ini

(Refleksi Hari Kesehatan Sedunia 2026)

Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

“Together for health. Stand with science.” Bersatu untuk kesehatan. Berdiri di atas sains. Itulah tema yang diusung dunia dalam peringatan Hari Kesehatan Sedunia, 7 April 2026. Sebuah seruan indah yang mengajak semua elemen masyarakat bahu-membahu membangun kesadaran kolektif demi kesehatan yang lebih baik. Tapi mari jujur: dalam panggung megah perayaan tahunan ini, ada satu kelompok yang nyaris tak pernah disebut, tak pernah diundang, dan tak pernah dilibatkan. Mereka adalah Pustakawan.

Kalimantan Post

Ironisnya, justru pustakawanlah yang setiap hari bergelut dengan sains, dengan literasi, dengan verifikasi informasi. Di era ketika hoaks kesehatan menyebar lebih cepat dari virus, ketika algoritma media sosial lebih dipercaya daripada jurnal ilmiah, mengapa pustakawan justru menjadi profesi yang paling dilupakan? Tema together for health terasa sumbang ketika suara pustakawan tidak pernah terdengar.

Together for Health

Kampanye together for health biasanya melibatkan pemerintah, rumah sakit, organisasi profesi medis, apoteker, kader posyandu, bahkan selebritas dan influencer. Semua sah-sah saja. Tapi perhatikan: pernahkah dalam pidato menteri kesehatan di Hari Kesehatan Sedunia, kata “pustakawan” disebut? Pernahkah perpustakaan daerah dilibatkan sebagai mitra resmi dalam program edukasi kesehatan nasional? Pernahkah anggaran kesehatan dialokasikan untuk pelatihan literasi informasi bagi pustakawan?

Jawabannya: hampir tidak pernah.

Padahal, Indonesia saat ini sedang menghadapi darurat informasi kesehatan. Menurut laporan Kementerian Komunikasi dan Digital tahun 2025, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, terdapat lebih dari 1.200 hoaks kesehatan yang beredar di platform digital. Hoaks vaksin menyebabkan cakupan imunisasi dasar menurun di beberapa provinsi. Hoaks obat herbal “ajaib” mendorong masyarakat membuang uang untuk produk yang tidak terbukti ilmiah. Hoaks tentang gizi anak membuat ibu-ibu memberikan makanan pendamping ASI yang tidak sesuai standar medis.

Ini bukan masalah sepele. Ini masalah hidup dan mati. Dan anehnya, ketika kita berbicara solusi, nama pustakawan tidak pernah masuk dalam daftar. Mereka dilupakan, diabaikan, diremehkan.

Pustakawan: Garda Terdepan yang Tak Diakui

Apa yang sebenarnya dilakukan pustakawan dalam konteks kesehatan? Lebih dari sekadar merapikan buku. Pustakawan modern adalah information specialist yang terlatih dalam literasi informasi. Mereka mampu menelusur literatur ilmiah, membedakan sumber tepercaya dari yang tidak, memahami cara kerja basis data akademik, dan mengajarkan masyarakat cara berpikir kritis terhadap informasi.

Baca Juga :  BERSAING

Bayangkan jika setiap perpustakaan desa memiliki pustakawan yang aktif menjadi narasumber di posyandu. Ia bisa membawa cetakan artikel dari jurnal terakreditasi tentang imunisasi, lalu menjelaskan dengan bahasa sederhana kepada para ibu. Bayangkan jika setiap perpustakaan sekolah mengadakan sesi mingguan tentang cara mengenali hoaks kesehatan di media sosial. Bayangkan jika perpustakaan umum di setiap kabupaten menjadi pusat rujukan bagi warga yang bingung dengan klaim kesehatan viral.

Itu bukan mimpi. Itu adalah praktik yang sudah berjalan di negara-negara seperti Finlandia, Kanada, dan Australia. Di sana, pustakawan diakui sebagai mitra strategis dalam sistem kesehatan publik. Di sini? Mereka masih dianggap penjaga buku.

Stand with Science? Siapa yang Memastikan Sains Itu Sampai?

Tema stand with science juga patut dipertanyakan. Sains tidak akan berarti jika hanya tersimpan di jurnal berbayar yang tidak bisa diakses masyarakat awam. Sains tidak akan berguna jika hanya dipajang di papan pengumuman rumah sakit dengan bahasa medis yang rumit. Sains membutuhkan perantara. Dan perantara yang paling kompeten adalah pustakawan.

Pustakawan adalah jembatan antara dunia ilmiah yang rumit dan dunia masyarakat yang sehari-hari. Mereka bisa menerjemahkan temuan penelitian menjadi bahasa populer. Mereka bisa menyusun panduan sederhana berbasis bukti. Mereka bisa mengajarkan masyarakat cara mencari informasi kesehatan yang benar secara mandiri.

Namun semua peran strategis itu tidak akan terwujud jika pustakawan terus dilupakan. Tanpa pelibatan mereka, stand with science hanya akan menjadi slogan indah yang menggantung di spanduk, tanpa pernah membumi.

Mengapa Pustakawan Begitu Mudah Dilupakan?

Ada beberapa alasan mengapa pustakawan selalu absen dari panggung utama Hari Kesehatan Sedunia.

Pertama, stereotip kuno. Masyarakat masih membayangkan pustakawan sebagai sosok tua, berkacamata tebal, pemarah, dan hanya bisa disuruh mencari buku. Citra ini membuat pengambil kebijakan tidak pernah serius memikirkan peran strategis mereka.

Baca Juga :  Idul Fitri dan Halal Bihalal

Kedua, lemahnya data tentang dampak pustakawan terhadap kesehatan masyarakat. Selama tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa keterlibatan pustakawan meningkatkan indikator kesehatan (misalnya menurunnya angka kesalahan pengobatan mandiri atau meningkatnya cakupan vaksin), maka sulit untuk meyakinkan pembuat kebijakan.

Ketiga, tidak adanya alokasi anggaran lintas sektor. Program kesehatan adalah urusan Kementerian Kesehatan. Program perpustakaan adalah urusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keduanya jarang bersinergi. Akibatnya, meskipun ada niat baik, tidak ada mekanisme pendanaan untuk melibatkan pustakawan dalam kampanye kesehatan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Jika kita benar-benar serius dengan together for health, maka kita harus mulai mengubah cara pandang. Together artinya semua, tanpa kecuali. Pustakawan harus duduk bersama dokter, perawat, apoteker, dan kader kesehatan dalam setiap perencanaan program edukasi kesehatan.

Langkah konkret yang bisa dilakukan:

Pertama, Kementerian Kesehatan dan Perpustakaan Nasional harus menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama literasi kesehatan berbasis perpustakaan.

Kedua, setiap Puskesmas di Indonesia wajib bermitra dengan perpustakaan terdekat untuk menyediakan sudut literasi kesehatan yang dikelola pustakawan.

Ketiga, kurikulum pendidikan pustakawan harus memasukkan mata kuliah literasi kesehatan dan komunikasi sains.

Keempat, Hari Kesehatan Sedunia tahun depan harus mengundang pustakawan sebagai pembicara utama, bukan sekadar peserta pasif.

Jangan Hanya Slogan

Together for health. Stand with science. Dua tema indah yang mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan jika kita terus melupakan pustakawan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa di era banjir informasi. Mereka adalah benteng terakhir antara sains dan kebodohan.

Jadi, di Hari Kesehatan Sedunia 2026 ini, mari berhenti sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: sudahkah kita bersama-sama? Atau justru kita sendiri-sendiri, dengan masing-masing melupakan pihak yang paling membutuhkan dukungan?

Pustakawan tidak minta gaji besar. Mereka tidak minta panggung gemerlap. Mereka hanya minta diakui. Karena tanpa mereka, together for health hanyalah slogan. Dan stand with science hanya akan menjadi mimpi yang tak pernah sampai.

Selamat Hari Kesehatan Sedunia 2026. Jangan lupakan pustakawan.

Iklan
Iklan