Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Kalsel

Kumpulkan Warga dari Dua Kabupaten di Kalsel

×

Kumpulkan Warga dari Dua Kabupaten di Kalsel

Sebarkan artikel ini

Anggota DPR RI dan BPIP Pusat

1 2 klm 4 cm anggotaa

Martapura, KP – Anggota DPR RI Komisi XIII bekerjasama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) Pusat dan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila, kumpulkan warga dari dua Kabupaten di Kalsel.

Tak lain sosialisasikan Pancasila, yang dibuka Pangeran khairul Saleh, Anggota Komisi XIII DPR RI, berlangsung selama dua hari di salah satu hotel di Jalan A Yani Km 11 Kecamatan Gabut, Sabtu (27/6) dan Minggu (28/6).

Kalimantan Post

Dihadiri bersama masyarakat Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Banjar. 

Termasuk hadir sebagai narasumber dalam kegiatan adalah  Dr. Drs. Yakob KM, MSi, Direktur Pengkajian Implementasi Pembinaan Ideologi Pancasila.

H.Harni Arrasyid, SH mantan Anggota DPRD Provinsi Kal-sel. Sedangkan Moderator Iga Labesta, SH, MH (Tenaga Ahli DPR RI). Kegiatan mendapat sambutan langsung dari pengurus pusat BPIP diwakili Yakob.

Dalam sambutan pembukaan, Pangeran Khairul Saleh juga menjelaskan bahwa Pancasila Pancasila sebagai dasar negara berfungsi menanamkan nilai-nilai luhur agar menjadi pedoman hidup, menjaga keutuhan NKRI, dan membentuk karakter bangsa.

Ia berfungsi sebagai ideologi terbuka yang dinamis mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa.

“Dasar Negara dan juga sebagai pondasi bangsa jelas tidak bertentangan dengan AlQuran (sisi agama).

Dilihat dalan hubungan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pondasi Bangsa serta Agama lanjutnya, maka  Sila 1 sebagai dasar hubungan Negara dengan Agama.

Ketuhanan Yang Maha Esa” menempatkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai dasar pertama bernegara.

Artinya Negara bukan ateis. Indonesia mengakui keberadaan Tuhan dan menjamin kemerdekaan tiap penduduk memeluk agamanya masing-masing. Ini dijamin UUD 1945 Pasal 29.

“Negara bukan negara agama, Indonesia juga bukan negara teokrasi yang dikuasai satu agama saja. Negara netral, tapi berpihak pada nilai-nilai Ketuhanan,” ucapnya.

Kemudian katanya, agama jadi sumber moral. Nilai agama seperti kejujuran, toleransi, kasih sayang, keadilan jadi sumber etika dalam penyelenggaraan negara.

Baca Juga :  Penguatan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat

Agama menguatkan 4 Sila lainnya sebagai Pondasi Bangsa. Semua agama besar di Indonesia mengajarkan nilai yang sama dengan 4 sila lain.

Sila 2  Kemanusiaan:, dimana paparnya semua agama melarang zalim, membunuh tanpa alasan, dan mengajarkan memuliakan manusia.

Sila 3 Persatuan, yang ana agama mengajarkan ukhuwah, persaudaraan.  Di Indonesia jadi dasar “Bhinneka Tunggal Ika” meski beda agama.

Sila 4 Kerakyatan, ini nilai musyawarah juga ada dalam ajaran agama, misal syuro dalam Islam, atau rembug dalam tradisi.

Sila 5 Keadilan Sosial, yakni zakat, sedekah, cinta kasih ke sesama itu cerminan keadilan sosial.

“Kenapa dirumuskan begitu oleh para pendiri Bangsa?. Karena 87 persenpenduduk Indonesia beragama. Kalau Pancasila anti-agama, bangsa ini pasti tidak akan bersatu di 1945,” jelasnya.

“Soekarno menyebut Sila 1 sebagai “kaki yang berdiri di atas bumi Ketuhanan”. Tanpa itu, 4 sila lain akan rapuh,” ungkap Pangeran Khairul Saleh.

Sementara H Harni Arrasyid, SH sebagai  narasumber menjelaskan bahwa Pancasila sebagai Ideologi Negara.

Ideologi adalah kumpulan gagasan, nilai, dan cita-cita yang jadi arah/perjuangan suatu bangsa.

“Pancasila disebut ideologi negara karena, menjadi tujuan bernegara. 

Semua pembangunan, kebijakan, dan cita-cita nasional harus mengarah pada terwujudnya nilai 5 sila,” ujarnya.

Misal, mewujudkan keadilan sosial, persatuan, dan seterunya. Bahkan menjadi pemersatu.”Di tengah perbedaan SARA, Pancasila jadi satu-satunya ideologi yang disepakati bersama sejak 1 Juni 1945 dan disahkan 18 Agustus 1945 bisa menyatukan anak bangsa, Agama, suku, budaya, dan lainnya,” jelas H.Harni Arrasyid.

Kemudian penjelasan Yakob dari Pengurus Pusat juga sebagai narasumber, bahwa Pancasila sebagai Falsafah Negara.

Falsafah, intinya dasar pemikiran atau pandangan hidup yang mendalam tentang hakikat manusia, masyarakat, dan negara.

Pancasila jadi falsafah karena, sumber nilai dengan menjawab pertanyaan mendasar “Manusia itu apa”?. “Negara itu untuk apa”?. Jawabannya katanya ada di sila 1-5. Misal, manusia adalah makhluk Tuhan, makhluk individu sekaligus sosial yang butuh keadilan.

Baca Juga :  Komisi III DPRD Kalsel Dorong Percepatan Pembangunan Fasilitas di Kebun Raya Banua

“Jadi kaca mata orang Indonesia melihat dan menyikapi segala hal. Cara kita bergotong royong, bermusyawarah, bertoleransi, itu cerminan sila 3, 4, dan 2,” jelasnya.

Mengakar pada budaya bangsa, nilainya digali dari bumi Indonesia sendiri,” Contoh musyawarah mufakat, gotong royong, kekeluargaan,” ucapnya. (*/K-2)

Iklan
Iklan