Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Pembunuhan Oleh Bunda, Kejahatan Tak Terduga Atau Tersistematika?

×

Pembunuhan Oleh Bunda, Kejahatan Tak Terduga Atau Tersistematika?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ummu Wildan 
Pemerhati Perempuan

Bunda, dengan rahimnya, adalah tempat kehidupan bermula. Tak ada yang meragukan pengorbanan bunda. Darah, keringat dan air mata telah mengalir darinya untuk buah hati. Bahkan panggilan dari anaknya dapat membangunnya dari mimpi di tengah malam buta. 

Kalimantan Post

Atas segala peran bunda, dinamakanlah pembunuhan oleh bunda terhadap anak-anaknya sebagai kejahatan tak terduga. Baru-baru ini publik tercengang dengan kasus KU, pelaku penggorokan terhadap anak-anaknya pada 20 Maret 2022. Berselang tiga hari kejahatan tak terduga ini menimpa bayi berusia satu bulan yang dilempar ibunya (FN) ke dalam sumur. Pada Januari 2022 anak berusia 6 tahun dianiaya ibunya (IR) hingga tewas.

Bunda, sejatinya adalah manusia biasa. Seperti fisik yang bisa sakit, begitupun mentalnya. Tekanan bertubi-tubi bisa menjadikannya seperti menanam api dalam sekam. Suatu saat bisa membakar kemana saja. 

Terlebih kehidupan dalam sistem kapitalisme sekuler memberikan beban yang ekstrim di pundaknya. Dari urusan ekonomi, hingga psikis mengurungnya tanpa solusi yang sebenarnya.

Perempuan yang penafkahannya seharusnya ditanggung pria dan bahkan negara acapkali dipaksa bekerja untuk menyokong ekonomi keluarga. Sejak dari terbuka matanya hingga terpejam mata suaminya ia harus menguras tenaga, pikiran dan perasaan untuk melayani keluarga. Pola masyarakat pun memandang hebat perempuan pekerja. Pun ada budaya menakut-nakuti perempuan agar bekerja dengan menanamkan kekhawatiran penafkahan diri jika suami meninggal ataupun direbut pelakor. 

Perempuan yang diperas fisik dan fikiran akan kesulitan memberikan pelayanan terbaik kepada suami. Di sisi lain suami dihadapkan dengan interaksi yang bebas antara laki-laki dan perempuan; begitupun media yang dibanjiri konten pornografi dan pornoaksi. Ada ketidakharmonisan yang tercipta. Ketakutan akan kehilangan cinta sementara minim daya untuk memperjuangkannya. 

Baca Juga :  Kelaparan Gaza dan Kepemimpian Umat

Begitupun budaya hedonisme melahirkan tuntutan hidup yang berlebihan. Anggota keluarga sering gagal membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tak jarang yang diperjuangkan habis-habisan adalah keinginan yang masih bisa ditunda. Energi yang bisa dikerahkan untuk keharmonisan keluarga beralih kepada hal yang pemenuhannya masih bisa kapan saja. 

Demikianlah sistem kapitalisme menjadikan bunda kehilangan fitrahnya. Dia bisa berubah menjadi seseorang yang jauh berbeda, bahkan sampai menghabisi nyawa anaknya dengan alasan tak ingin anaknya menderita seperti dirinya. Pembunuhan yang disebut tak terduga pada individu sang bunda, namun oleh sistem ini menjadi tersistematis. 

Berbeda dengan sistem Islam dimana bunda diberikan kemuliaan agar terjaga fisik dan jiwanya. Bunda tak akan lepas dari fitrahnya sebagai pintu surga bagi anaknya. Hal ini oleh karena aturan yang diterapkan adalah aturan dari Allah Sang Maha Sempurna yang mengetahui segala seluk-beluk manusia. 

Dalam penafkahan, bunda tak perlu bekerja. Dirinya dan anaknya ditanggung oleh suami. Bila suami meninggal ataupun bercerai, tanggungjawab penafkahan beralih kepada ayah, paman, saudara laki-laki, anak laki-laki, ataupun kerabat laki-laki lainnya yang diwajibkan oleh syariah. Ketika tidak ada satupun dalam perwalian yang hidup ataupun memiliki kesanggupan maka bunda menjadi tanggungjawab negara. 

Dalam Islam kehidupan antar laki-laki dan perempuan dijaga dalam suasana keimanan. Laki-laki dan perempuan berpakaian dengan kehormatan. Interaksi antar mereka dilakukan hanya bila memang ada keperluan, semisal di bidang pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Media pun menghindari adanya unsur pornografi dan pornoaksi dalam tayangannya. 

Kegiatan ekonomi individu, masyarakat dan negara juga diatur sehingga menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap orang. Individu dididik untuk bisa mengutamakan kebutuhan dibanding keperluan. Kemuliaan individu pun tak diagungkan atas kekayaannya, kecantikannya, dan hal-hal yang bersifat materi lainnya.

Baca Juga :  DAKWAH DI MADINAH

Interaksi di masyarakat, tayangan media hingga peraturan negara memuliakan orang yang berilmu dan beramal saleh. Dengan diminimalisirnya peluang untuk menjadi hedonis dan dijaminnya kebutuhan pokok sesuai syariah, bunda bisa fokus menjalankan perannya sebagai tonggak peradaban mulia. 

Demikianlah Islam, sebuah aturan kehidupan, diturunkan oleh Sang Pencipta agar manusia dapat hidup dengan semestinya. Setiap faktor mendapatkan pengaturan sempurna. Dengan dijalankannya pengaturan ini maka semua akan berjalan dengan baik. Termasuk di dalamnya adalah bunda, surga bagi anak-anaknya di dunia. 

Iklan
Iklan