Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Menjadi Pemuda yang Dirindukan Umat

×

Menjadi Pemuda yang Dirindukan Umat

Sebarkan artikel ini

Oleh : Mahrita Nazaria, S.Pd
Aktivis Dakwah & Praktisi Pendidikan

Pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Begitu banyak catatan sejarah yang menulis keterlibatan para pemuda dengan segala keberanian dan ketangguhan mereka. Namun hari ini kondisi pemuda seakan jauh dari harapan bersama. Begitu banyak problem yang dialami bangsa di Negeri ini, sedihnya tak sedikit kaum muda turut memperparah kondisi.

Kalimantan Post

Berbagai kegiatan terkait kepemudaan pun ramai digelar, berbagai tujuan juga menjadi latar belakang diadakannya kegiatan-kegiatan tersebut dan diantara beberapa tujuan itu adalah untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri para pemuda serta mengarahkan agar para pemuda mampu menjadi “agen perubahan”.

Sejatinya pelatihan yang dilakukan dan tujuan yang diharapkan dari pelatihan tersebut tidak sesuai dengan realita yang dihadapi ditengah kehidupan. Faktanya kemajuan dunia hari ini semakin menantang keberperanannya sosok pemuda. Karena bagaimanapun, pemuda merupakan tumpuan harapan perubahan menuju bangsa dan Negara menjadi lebih baik ke depan.

Sebab sistem rusak buatan manusia hari ini, kita bisa lihat kondisi ekonomi Indonesia sebelum, saat pandemi, hingga saat ini, masih belum baik-baik saja. Tingkat kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Utang luar negeri makin menumpuk. Akses masyarakat terhadap pendidikan dan kesehatan berkualitas pun masih bermasalah akibat kapitalisasi yang masif terjadi.

Problem dekadensi moral, terutama di kalangan pemuda, pun tak bisa ditutup-tutupi. Pergaulan bebas, penyimpangan seksual, tindak kriminal, narkoba, dan miras begitu lekat dengan kehidupan generasi muda kita hari ini. Bahkan maraknya krisis moral dan kriminalitas di kalangan generasi muda justru tak jarang berbasis teknologi. Tanpa benteng negara, berbagai kerusakan begitu mudah tersebar luas di kalangan pemuda, membentuk lifestyle yang jauh dari nilai-nilai adab, apalagi halal/haram. Bahkan tak hanya di kalangan remaja atau pemuda, di kalangan anak-anak kecil pun kerusakan sudah merajalela.

Tak dipungkiri, paradigma pembangunan sistem sekuler kapitalisme telah menjauhkan pemuda dari posisi strategisnya sebagai motor peradaban. Ini tampak dari rencana pembangunan dan kebijakan, terutama yang menyangkut kepemudaan dan generasi, yang nyatanya hanya fokus pada target pemberdayaan dalam konteks hitung-hitungan ekonomi, minus pertimbangan ideologi. Sementara penanaman nilai-nilai agama, termasuk moral, kian lama kian tersingkirkan. Yang penting, “Merdeka belajar”!

Alhasil, keberhasilan kebijakan pendidikan hari ini hanya dihitung dari seberapa banyak output yang terserap dalam dunia kerja. Sementara pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan teknis bergaji murah yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan asing, yang pintu masuknya dibuka lebar-lebar oleh negara, baik atas nama utang maupun investasi. Lalu mereka pun mendefinisikan produktivitas dan pemberdayaan pemuda dalam konteks seperti itu, dan lantas menyebutnya sebagai “prestasi”.

Baca Juga :  Anang Syakhfiani, Kebijakan yang Dikriminalisasi

Mirisnya, potensi pemuda pun tak hanya dioptimasi sebagai tenaga pemutar roda industri milik para kapitalis di negeri ini. Pada saat yang sama, mereka pun dibidik sebagai target pasar potensial untuk menyebarluaskan pemikiran yang mendukung tumbuh suburnya lifestyle yang sarat ide-ide sekularisme, liberalisme, hedonisme, permisivisme, dan konsumtivisme.

Para kapitalis atau mereka yang sangat berkepentingan kemudian berupaya menjauhkan pemuda dari segala hal yang bisa membangkitkan pemikiran mereka. Satu-satunya rahasia adalah ajaran Islam yang sejatinya tak sebatas agama ritual namun merupakan sebuah sistem/tata aturan yang mampu hadirkan solusi tuntas problem kehidupan.

Tak heran jika hari ini proyek-proyek deideologisasi/deradikalisasi Islam demikian masif diarusderaskan. Mulai dari propaganda perang global melawan teror yang intens dilekatkan pada ajaran Islam, maupun mainstreaming moderasi Islam yang merekonstruksi ajaran Islam agar sesuai dengan nilai-nilai sekuler liberal, tak terkecuali di kalangan para pemuda.

Dengan cara ini, ajaran Islam akan kehilangan vitalitasnya sebagai solusi bagi kehidupan. Islam hanya akan menjadi agama ritual yang keberadaannya tak memiliki pengaruh dalam tatanan politik pemerintahan. Berbagai narasi diciptakan ke arah moderasi Islam, misalnya gagasan demokratisasi, kesetaraan, keadilan, toleransi, pemberdayaan ekonomi, HAM, feminisme milenial, dan lain-lain. Lalu diaruskan pula narasi tentang pentingnya rekontekstualisasi ajaran Islam dan bahaya fundamentalisme Islam. Semua narasi ini masuk melalui jalur pendidikan di semua level dan semua kanal.

Targetnya tak lain membentuk generasi muslim yang tak memiliki identitas Islam, alias beragama Islam, tetapi kepribadiannya bukan Islam. Generasi seperti ini tentu tak akan berpikir bahwa obat segala keterpurukan yang mereka alami sesungguhnya ada pada Islam. Bahkan mereka tak kenal bahwa Islamlah yang akan mengeluarkan mereka dari lumpur penjajahan.

Mereka justru akan mudah bersikap defensif apologetis. Merasa minder untuk menunjukkan identitas Islam atau berbicara soal Islam. Namun sebaliknya, mereka bangga menyerukan simbol-simbol dan pemikiran Barat yang banyak menyalahi ajaran-ajaran Islam.

Dengan potensi pemuda yang begitu besar, perlu untuk mengarahkan mereka pada perubahan yang benar. Bagi pemuda muslim, kebenaran hanya ada pada Allah Taala. Sumber ilmu pengetahuan ada pada Al-Qur’an. Oleh karenanya, pemuda yang meletakkan keimanan di atas akal akan senantiasa mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (QS Al-Isra: 9)

Para pemuda masa kini perlu mencontoh para pendahulunya. Hendaklah kita ketahui, para pemuda di zaman Nabi Muhammad SAW adalah barisan pemuda generasi terbaik di masa awal Islam. Mereka membersamai Nabi SAW sejak masa belia. Hati mereka dipenuhi cahaya iman sehingga mereka begitu ringan dan rida membela Islam.

Baca Juga :  Antara “Kuyang” Pengusaha dan Pejabat Negara

Mereka hidup mendampingi Rasulullah SAW serta berjuang dan berdakwah bersama beliau. Cinta dan pembelaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya pun tidak perlu kita ragukan. Mereka para pengemban Islam, garda dan perisai bagi dakwah beliau SAW. Merekalah para sahabat Rasulullah yang keberadaannya bagai mata air. Aliran jejaknya menghidupkan titik awal tegaknya peradaban gemilang.

Tidak heran pula, di antara mereka ada yang dijamin masuk surga. Ada pula yang mendapat jaminan kemenangan dari Allah SWT dalam setiap jihad fiisabilillah. Mereka memegang Islam dengan kuat, memperjuangkannya di tengah kaum kafir Quraisy tanpa ragu, hingga mengorbankan nyawa demi tegaknya din Islam.

Ali bin Abi Thalib contohnya, seorang pemuda yang masuk Islam pada usia tujuh tahun. Saat itu, ia mampu membedakan mana yang benar dan salah. Dengan kecerdasannya, ia selalu membantu Nabi SAW hingga berani menggantikan Nabi SAW saat rumah beliau dikepung tentara Quraisy.

Contoh lain adalah Umar bin Khaththab. Ia masuk Islam pada usia 27 tahun. Sebelumnya, ia menjadi orang nomor satu yang memusuhi Islam, tetapi setelah mendengar QS Thaha, hatinya bergetar dan akhirnya beriman. Semenjak saat itu, Umar mencintai Islam, bahkan menjadi orang terkuat dalam melawan kafir Quraisy. Tidak hanya itu, dengan kepribadian Umar, setan saja takut saat mendengar langkahnya. Bisa dibayangkan, ketika para pemuda saat ini memahami Islam dengan benar, mereka bisa menjadi secerdas Ali bin Abi Thalib atau setangguh Umar bin Khaththab dan sahabat lainnya.

Oleh sebab itu, melihat potensi pemuda yang besar ini, penting sekali melakukan edukasi kepada para pemuda bahwa mereka adalah salah satu tumpuan agama bahwa agama ini pun mampu hadirkan solusi tuntas terhadap seluruh problem yang dihadapi umat manusia. Serta mereka adalah muslim yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang masa mudanya dihabiskan untuk apa. Meskipun saat ini kanalisasi dan propaganda peran pemuda dilakukan begitu rapi, tetapi kalam Ilahi tidak bisa terkalahkan oleh kalam konstitusi.

Tentu rugi besar, ketika pemuda memilih memberikan kontribusi kepada sistem rusak daripada menuju perubahan ke arah Islam. Sudah terbukti selama 13 abad Islam sebagai sistem kehidupan mampu menuntaskan segala macam perselisihan yang terjadi ditengah masyarakat. Maka ketika pemuda ingin diberdayakan sebagai agen perubahan, laksanakan dakwah. Dengan dakwah Islam kaffah-lah satu-satunya jalan keluar yang mampu menyelamatkan kaum muda hingga seluruh umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam kembali.

Iklan
Iklan