Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarmasin

Pedagang Pasar Kuripan Hampir Mati
Pasar Dadakan Makin Ramai

×

Pedagang Pasar Kuripan Hampir Mati<br>Pasar Dadakan Makin Ramai

Sebarkan artikel ini

Pedagang di Pasar Kuripan biasanya mereka mengeluhkan munculnya pasar dadakan di emperan jalan yang membuat para pedagang resah dan gelisah

BANJARMASIN, KP – Tak sedikit pedagang yang memiliki kios di Pasar Kuripan mengeluhkan tentang kondisi pengunjung pasar yang semakin sepi.

Kalimantan Post

Hal itu terungkap ketika jajaran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Banjarmasin yang dipimpin oleh Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina melakukan Kegiatan monitoring harga kebutuhan bahan pokok kemarin (15/11).

Pasar yang berlokasi di kawasan Kecamatan Banjarmasin Timur itu, diakui para pedagang di sana mulai kurang didatangi pembeli. Khususnya pedagang yang memiliki kios atau bak jualan di lantai dua.

Hal itu diungkapkan salah seorang pedagang, Mila. Dia bilang, kondisi itu berlangsung sejak Pandemi Covid-19 melanda. Namun, bukan itu permasalahan utamanya.

Wanita yang menjual asesoris itu menyebutkan bahwa kondisi itu terjadi lantaran banyaknya pasar dadakan yang biasa mengemper di ruas jalan lingkungan hingga ruas jalanan lainnya.

“Kami kalah bersaing dengan pasar yang hanya tinggal menggelar lapak itu,” ujarnya, ketika diwawancarai kemarin (15/11) siang

Padahal dahulu menurutnya, pengunjung yang datang ke Pasar Kuripan tidak hanya warga yang berasal dari sekitar pasar saja.

“Dari mana-mana. Pokoknya banyak, sampai dari sungai lukut pun juga ada,” tekannya. Adanya pasar dadakan itu, selain menjadikan pasar sunyi pengunjung, juga membuat pihaknya kalah bersaing dalam segi harga jual.

Pasalnya terpaksa menaikkan harga bahan pokok karena perlu membayar sejumlah retribusi ke Pemko Banjarmasin. Belum lagi, pembayaran untuk sewa lapak atau kios yang ada di pasar.

Mila mencontohkan, para pedagang membeli bawang di agen di kawasan Pasar Lima seharga Rp10 ribu per kilogram. “Semua pedagang, membeli dengan harga yang sama. Lalu kami di sini, tak bisa menjual dengan harga Rp12 ribu. Karena mesti bayar sewa lapak tau kios, dan sejumlah retribusi,” ucapnya.

Baca Juga :  Proyek Termegah Puskesmas Cempaka Putih Rampung, Awal 2026 Diserahkan CV BCM ke Pemko Banjarmasin

“Sedangkan di ruas jalan emperan, mereka dengan bebas berjualan dengan harga misalnya Rp12 ribu per kilogram. Tak memikirkan bayar ini dan itu. Jadi, wajar bila mereka bisa mematok harga yang lebih murah dari harga yang dijual di pasar,” tekannya.

“Kami di sini, sewa lapak di lantai bawah, misalnya setahun itu hampir Rp1 juta. Belum termasuk retribusi ini dan itu. Bayar listrik, kebersihan dan jaga malam,” bebernya.

Hal senada juga diungkapkan pedagang lainnya di Pasar Kuripan, Maimunah. Adanya pasar dadakan di emperan jalan itu membuat para pedagang resah.

“Jam 8 sampai jam 9 pagi, mereka sudah bisa tutup. Barangnya ludes terjual. Sedangkan kami, di sini masih menunggu pembeli,” tambahnya.

Bahkan ia juga mencontohkan ada pula bangunan pasar lainnya yang juga mengalami persoalan yang sama. Sepi kunjungan pembeli. Yakni, Pasar Pandu.”Lapak dan kiosnya juga banyak yang kosong. Seperti di sini,” ujarnya.

Baik Mila maupun Maimunah pun lantas berharap, ada tindakan tegas dari dinas terkait untuk melakukan penertiban.”Harus ada tindakan dari yang berwenang,” tegas Mila.

“Jadi semestinya, bukan harga yang dipantau. Tapi kondisi pasarnya. Bagaimana kondisinya. Buatlah pasar agar kembali ramai pembeli,” tambahnya.

“Pindahkan mereka yang menggelar lapak di jalan itu ke bangunan pasar,” harapnya.

Dikonfirmasi terkait kondisi tersebut, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Banjarmasin, Ichrom M Tezar, menepis anggapan bahwa ada pasar yang hampir mati. Salah satunya Pasar Kuripan.

Kendati demikian, ia tak menampik bahwa pedagangnya mulai berkurang. Dan adanya aktivitas jual beli di sejumlah ruas jalan, juga memberikan pengaruh.

“Tapi, itu kan ada zonasi atau wilayah maka hanya berpengaruh pada pasar sekitarnya,” ujarnya kemarin (15/11).

Baca Juga :  LDII Banjarmasin Rutin Gelar Pengajian Mulai Cabe Rawit Hingga Orang Dewasa

“Kalau di Kuripan, saya lihat tak ada pasar dadakan ya. Dan saya rasa masih ramai kunjungan. Kalau pun ada kendala, itu saya rasa karena adanya perbaikan drainase di depan pasar. Sehingga untuk parkir itu cukup sulit,” jelasnya.

Lebih jauh, Tezar lantas menjelaskan bahwa pihaknya tak pernah mengizinkan apalagi menarik retribusi bagi pedagang yang berada di ruas jalan.

“Kami tidak menyebut itu pasar. Meskipun memang ada aktivitas jual beli di situ,” tekannya.

Lantas, apakah ada kemungkinan bakal dilakukan penertiban? Menjawab hal itu, Tezar menyatakan bahwa kemungkinan itu ada. Termasuk, menarik para pedagang untuk berjualan di pasar.

“Perlu kerja sama tim dari beberapa satuan kerja perangkat daerah atau SKPD. Mudah-mudahan mereka mau ditarik ke pasar,” harapnya.

Lebih jauh, Tezar menyatakan bahwa kondisi bangunan serta kebersihan pasar saat ini dinilainya lebih baik dari dua hingga tiga tahun sebelumnya.

Meskipun memang, menurutnya masih ada saja pedagang yang belum memperdulikan persoalan kebersihan. Untuk itu, ia pun lantas mengimbau para pedagang agar sama-sama menjaga kebersihan kawasan pasar.

“Saya rasa dengan memberikan kualitas produk yang baik, mengutamakan kebersihan, serta layanan yang baik, kami berharap pengunjung pasar bisa lebih ramai lagi,” pungkasnya. (Kin/K-3)

Iklan
Iklan