Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Tantangan Energi Nuklir di Indonesia

×

Tantangan Energi Nuklir di Indonesia

Sebarkan artikel ini

Oleh : Satria Putra Jamil
Mahasiswa Teknik Pertambangan, UIN Syarief Hidayatullah

Nuklir adalah sebuah pilihan yang tidak dapat di hindari. Berikut adalah sebuah kutipan dari anggota dewan dalam rapat kerjanya. Tak dipungkiri bahwa kebutuhan energi listrik di dunia sangat besar khususnya di Indonesia. Pertumbuhan populasi yang sangat besar dengan ketidakseimbangan sumber daya alam yang ada, membuat pemerintah memutar otak mencari pengganti bahan bakar minyak dan batu bara. Namun di tengah persoalan yang ada, timbul sebuah gagasan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bisa menjadi energi alternatif, namun di tengah gagasan tersebut banyak pro dan kontra masyarakat dalam merealisasikan rencana tersebut. Pertanyaan yang banyak muncul, Apakah Indonesia sudah mampu mengelola nuklir?

Kalimantan Post

Tak bisa dipungkiri cadangan uranium di Indoensia sebanyak 90.000 ton yang ada di tanah dan dapat di olah yang menjadi nuklir sebagai energi alternatif. Lantas mengapa bangsa Indonesia belum mendirikan PLTN? Banyak faktor yang menghambat Indonesia mendirikan PLTN. Pertama, adalah kondisi geologi Indonesia yang berada the ring of fire (cincin api). The ring of fire sendiri merupakan kondisi dimana wilayah tersebut memiliki banyak gunung api yang menyebabkan wilayah Indonesia tidak dapat mendirikan PLTN karena dapat terjadi gempa. Seharusnya bangsa Indonesia bisa mendirikan PLTN, karena kondisi geologi Jepang dengan Indonesia, lebih parah Jepang tapi negara tersebut mampu mendirikan PLTN, karena negara tersebut mampu mengaplikasikan teknologi oil damper, dimana teknologi tersebut mampu meredam getaran gempa dan ini yang mungkin harus di renungkan bagi pemerintah Indonesia dalam mengoptimalkan SDA dan SDM yang dimiliki.

Faktor kedua menghambat PLTN di Indonesia, adalah biaya dan waktu. Anggaran yang dibutuhkan dalam membangun PLTN bukan hal yang murah, untuk satu reaktor nuklir saja pun di perlukan 10 miliar dollar per reaktor nuklir dan waktu yang di perlukan untuk membangun adalah 10 tahun lamanya. Padahal tenaga yang dihasilkan antara nuklir dengan batu bara dan energi lainya lebih besar nuklir dan efisien. Dari 1 gram uranium misalnya dapat di peroleh energi setara sekitar 112 kg batu bara. Efisiensi juga dapat dilihat dari tempo siklus daur bahan bakar nuklir yang berkisar antara 1,5 tahun. Artinya penggantian bahan bakar dapat dilakukan setiap 1,5 tahun. Dan dalam ekonomi membangkitkan 1 kwh listrik tenaga nuklir sebesar Rp350, sedangkan menggunakan batu bara sebesar Rp600, sudah jelas bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir lebih ekonomis dan efesien dari pada batu bara dan minyak yang membuat biaya awalnya saja yang mahal, namun biaya operasional sangat lah jauh berbeda dengan energi yang lain. Seharusnya jika subsidi yang diberikan oleh pemerintah dicopot, mungkin PLTN di Indonesia dapat berdiri, namun jika subsidi di copot dapat menyebabkan kontra di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Baca Juga :  Antara “Kuyang” Pengusaha dan Pejabat Negara

Yang ketiga adalah faktor keselamatan. Ini merupakan momok yang ditakutkan oleh masyarakat. Kebocoran reaktor, radiasi dan limbah dari nuklir yang ditakutkan masyarakat. Padahal kebocoran bisa diminimalisir dengan SDM dan peralat yang memadai karena bangsa Indonesia sendiri belum banyak SDM dan peralat yang cukup untuk membangun dan selalu mengandalkan negara asing dalam melakukan proyek besar. Dalam halnya limbah sendiri, nuklir merupakan green energy, karena ketidak adanya emisi footprint yang kecil dan tidak merusak ekosistem, serta pengolahan limbah yang berkelanjutan dan terjangkau. Sebagai perbandingan, menurut iAEA, pembangkit listrik berkapasitas 1.000 MWe yang memakai batu bara, tapi tanpa teknologi pengolahan limbah, akan menghasilkan sekitar 320 ribu ton abu, yang mengandung logam berat seperti merkuri dan lainnya.

Faktor keempat, adalah sumber energi terbarukan lainya contohnya gas hidrat (Gas hydrates). Di dalam dunia pertambangan, gas hidrat merupakan ES yang mudah terbakar menjadi sumber energi baru dunia. Berbagai negara sudah mulai mengeksplorasi dan menambang sumber energi ini, termasuk China, Jepang, Amerika Serikat dan Kanada. Setelah sumber energi minyak kian menipis, es metana hidrat (hidrat gas) yang membeku itu akan mengisi kekurangan suplai energi dunia. Metana hidrat berbentuk padat dan berwarna putih yang terbentuk pada suhu sangat rendah dan tekanan tinggi campuran dari air dan metana yang diproduksi oleh mikroorganisme. Bahan bakar bisa dihasilkan dari es itu setelah diekstraksi dengan pembakaran, akan lebih bersih dibandingkan dengan batu bara. Meski demikian, metana merupakan gas rumah kaca dan mengandung polutan sehingga selama ekstraksi harus dicegah dari kebocoran ke atmosfer. Riset tentang es yang bisa terbakar itu didominasi AS, Kanada, dan Jepang. Meski demikian, China terus meningkatkan upayanya sejak cadangan energi itu ditemukan di Laut China Selatan pada 2007. Menurut Menteri ESDM pada 2004, para peneliti memperkirakan cadangan metana hidrat atau gas hidrat yang ada di Indonesia sebanyak 850 trilliun, dimana Indonesia sudah memiliki seperempat dari cadangan gas hidrat di dunia yang sebanyak 2.800, yang seharusnya dapat dioptimalkan.

Baca Juga :  Istighfar (Memohon Ampunan)

Kesimpulan yang dapat diambil, seharusnya pemerintah lebih bijak lagi dalam mempertimbangkan nuklir sebagai energi alternatif tidak hanya mempertimbangkan jeleknya saja, namun mempertimbangkan aspek keuntungan dan kelebihannya, serta mulai mengambil langkah berani dalam mengambil sebuah keputusan tanpa dibayangi negara besar. Harapannya ke depan, semoga nuklir dapat berdiri di Indonesia bukan hanya sebagai energy, namun alat mempertahankan kedaulatan dan semoga semua rakyat Indonesia dapat merasakan listrik di seluruh pojok negeri.

Iklan
Iklan