Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Korean wave dan Globalisasi : Bagaimana Sikap Kita?

×

Korean wave dan Globalisasi : Bagaimana Sikap Kita?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Hana Amalia Putri
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Globalisasi Merupakan proses interdependensi antar negara yang identik dengan adanya sebuah fenomena ekonomi dan teknologi. Globalisasi selalu dikaitkan dengan proses atau strategi negara barat dalam melakukan ekspansi produk yang berpengaruh. Dengan adanya lembaga internasional yang mengatur aktivitas secara global seperti IMF, WTO, UNESCO di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dominasi negara barat tentu saja tidak pernah lepas dan selalu melekat pada kehidupan seperti sekarang. Alur globalisasi yang begitu erat, sehingga menciptakan ketergantungan negara dunia ketiga dengan negara maju. Globalisasi pun bisa berpengaruh melalui budaya. Budaya juga bisa berkaitan dengan adanya ide berkelanjutan, informasi, nilai, komitmen dan selera yang termediasi dengan mempengaruhi pergerakan individual. Ketika budaya sudah ditransformasikan dalam sebuah proses, globalisasi merupakan suatu proses yang dialek yaitu penyeragaman identik dengan imperialisme dan kekuatan asimetris. Imperialisme yang mengarah pada proses Amerikanisasi yang menimbulkan konsumsi terhadap budaya. Salah satu nya dengan pendekatan dengan menggunakan media. Media menjadi senjata yang efektif dan efisien dalam proses globalisasi terutama budaya. Media juga berperan sangat penting untuk menyebarkan budaya secara masif. Adanya keanekaragaman budaya yang berkaitan dengan adaptasi budaya baru masuk terhadap budaya tradisional yang semakin memperkaya budaya dalam suatu negara atau dengan kata lain disebut dengan akulturasi.

Kalimantan Post

Korean Wave atau sering disebut dengan gelombang Korea merupakan fenomena baru di era globalisasi yang didominasi oleh negara-negara barat atau disebut dengan Amerikanisasi. Korean Wave ini muncul dan menjadi fenomena baru versi Asia yang booming dalam beberapa dekade sampai sekarang dan secara signifikan mempengaruhi negara-negara lainnya sebagai contoh Indonesia. Korean Wave atau Hallyu bukan asing lagi di kalangan masyarakat, bahkan badai korea ini tengah melanda baik itu remaja maupun dewasa. Suguhan produk-produk Korea yang perlahan mengubah selera dan paradigma kehidupan remaja di jadikan trend yang dulunya pernah dibawa oleh budaya Western. Faktor penyebab masuknya budaya Korea Selatan ini yaitu adanya arus globalisasi yang terjadi, dan Indonesia merupakan negara yang memiliki sistem atau sasaran yang sangat mudah menerima ekspansi pasar negara-negara kapitalis terutama Korea Selatan. Budaya tersebut sudah memasuki ke berbagai ranah kehidupan sekitar dengan perubahan yang cukup signifikan seperti makan an, fashion, film, drama, musik, dan lifestyle. Hampir semua media baik itu cetak maupun elektronik mewarnai industri tanah air sehingga kehilangan ciri khas yang berakibat pada aliran Hallyu.

Baca Juga :  Simfoni Perempuan Ramadhan

Berkembangnya budaya pop Korea Selatan (Hallyu) di Asia Timur dan beberapa negara Asia Tenggara menunjukkan adanya transformasi budaya asing ke negara lain. Berkembangnya budaya pop Korea dengan munculnya komunitas seperti “Asian Fans Club” (AFC) yang merupakan salah satu blog berasal dari Indonesia yang berisi tentang hiburan Korea Selatan. Korean Wave yang mewabah di Indonesia telah berpengaruh pula pada pola kehidupan masyarakat, seperti adanya supermarket yang menjual produk-produk Korea Selatan yang menjadi incaran banyak kalangan. Trend mode ala Korean Style menjadi menjamur di lingkungan masyarakat, terutama di kalangan remaja dan dewasa. Berbagai bistro dan restoran bernuansa Korea pun bermunculan. Hal ini juga ditandai dengan adanya Girl dan Boy Band berkonsep Korea, film dan televisi yang mengadopsi drama-korea serta film Korea. Faktor arus globalisasi dan proses dialektis tidak dapat dipisahkan dari aktor-aktor yang menggerakan. Proses penciptaan Korean Wave atau globalisasi ala Korea Selatan tentu saja melibatkan aktor-aktor penting di dalamnya untuk mengendalikan arah globalisasi. Oleh karena itu, negara dan pemerintah tidak hanya menjadi lembaga superordinate yang mengatur kegiatan ekonomi secara dominan, namun negara hadir berkonsolidasi atau berkolaborasi dan memberdayakan perusahaan swasta. Adanya Korean Wave ini masing-masing memiliki dampak positif dan negatif, yang mana dampak positifnya, yaitu Kpop menjadi inspirasi di dunia fashion, dapat bersosialisasi dan mandiri, mengetahui citra dirinya, dan dapat motivasi dan semangat. Dari hal tersebut dampak negatifnya adalah sikap fans yang berlebihan, terjadinya fanatisme terhadap remaja tersebut, dan timbul sikap peneriun terhadap citra diri yang berlebihan.

Lalu bagaimana sikap menghadapi globalisasi budaya Korean Wave ini? Perkembangan Korean Wave di era digital pada dasarnya tidak dapat dihindari, namun untuk dapat membatasinya sebaiknya sebagai generasi milenial tentunya harus lebih mencintai budaya lokal dan melestarikannya. Keberadaan Korean Wave menuntut bersikap bijak dalam menghadapi perkembangan globalisasi, dimana harus bisa mengembangkan budaya sendiri dan mencintainya karena melihat dari sejarah para pahlawan yang sulit untuk memperjuangkan Indonesia. Sebagai generasi selanjutnya, harus bisa membuat para pahlawan bangga dengan cara menjaga dan merawat budaya Indonesia agar tidak dilupakan. Sebagai remaja juga mencintai atau menyukai akan sesuatu diperbolehkan saja, asalkan sebagai warga negara Indonesia tidak melupakan budaya lokalnya. Ketika rasa nasionalisme terhadap bangsa memudar maka dapat mengancam dan menghancurkan ketahanan nasional dan mengakibatkan Indonesia lemah dan mudah dijajah kembali oleh orang asing. Untuk itu di era modern ini diharapkan dapat menjunjung tinggi perilaku nasionalisme sehingga persatuan di dalam negara dapat terjaga.

Iklan
Iklan