Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Isu Gender yang Menyejahterakan?

×

Isu Gender yang Menyejahterakan?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sala Nawari
Pemerhati Perempuan

Kesetaraan gender secara utuh bagi perempuan di dunia terus diupayakan. Kenyataannya, kesenjangan upah terus berlanjut di seluruh dunia. Peran perempuan dalam bisnis dan politik jauh dari setara, disamping kekerasan terhadap perempuan juga terus terjadi.

Kalimantan Post

Gerakan #MeToo yang diprakarsai oleh Harvey Weinstein dan tokoh terkemuka lainnya memberikan suara pada perempuan tentang pelecehan yang mereka derita dalam film, fashion, music, politik, dan seni. Suara untuk hak-hak perempuan semakin meningkat pada 2018.

Pemicunya, aktris yang menyumbangkan uang dan mengenakan pakaian hitam pada upacara penghargaan untuk mendukung #TimeUp. Demikian juga wartawan BBC Carrie Gracie secara terbuka mengundurkan diri sebagai editor China atas gaji yang tidak setara.

Realitas kondisi masyarakat termasuk perempuan, merupakan hal yang wajar jika dikaitkan dengan situasi global yang tengah didominasi system kapitalisme. Sistem yang tegak di atas asas sekularisme liberalism ini memang memiliki watak imprealistik dan eksploitasi. Dan ini tercermin dalam berbagai aturan hidup bebas yang dilahirkannya.

Kebijakan ekonomi kapitalistik yang pro neoliberalisme dan disetir kepentingan asing semacam IMF pun jelas tidak bisa diharapkan akan mampu mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan perempuan yang digembar-gemborkan PBB melalui program pengarusutamaan KKG dan proyek MDGs.

Bagaimana bisa kualitas pendidikan, kesehatan, dan daya dukung lingkungan bagi rakyat termasuk kaum perempuan ditingkatkan, sementara akses terhadap pendidikan dan kesehaan makin mahal akibat privatisasi dan swastanisasi sector pendidikan dan kesehatan.

Gerakan feminis dengan perjuangannya menyatakan perang dengan segala kesenjangan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan. Salah satu arahan feminis adalah peran wanita yang harus berani keluar dari rumah dan merambah sektor publik.

Kaum perempuan harus berani bersaing dengan laki-laki dalam berbagai sektor publik, bahkan harus memenangkan persaingan itu agar mempunyai posisi tawar di hadapan laki-laki.

Baca Juga :  Polemik Penonaktifan Jaminan Kesehatan Warga Banjarmasin

Perempuan mulai memasuki bursa kerja dalam berbagai profesi dengan beragam alasan. Dari menjadi pedagang kaki lima sampai sopir angkut, dari cleaning servise hingga director, bahkan sudah memasuki pemerintahan dengan tuntutan 50 persen dalam parlemen.

Kemiskinan memang lebih menjadi alasan. Perempuan-perempuan bekerja untuk membantu suami menambah penghasilan keluarga. Kemajuan pendidikan juga telah memberikan peluang bagi para perempuan untuk bersaing dalam hal mengeksiskan diri ditengah-tengah masyarakat. Mengglobalnya tuntutan ekonomi dan komunikasi serta gaya hidup konsumtif turut melibatkan perempuan sebagai pelaku-pelaku aktif didalamnya.

Sejatinya perempuan sebagai ibu diembani amanah pembentuk generasi masa depan dalam rumah tangga. Mengasuh anak-anak dan mengelola rumah tangganya dan memberikan pendidikan pertama tentang aqidah, ibadah, moral dan pendidikan dasar umum kepada anak-anaknya. Menciptakan keluarga yang bahagia adalah sebuah amanah yang hanya bisa dijalankan dengan keikhlasan, kompentensi, dan kualifikasi yang tinggi dari potensi yang dimiliki seorang perempuan.

Untuk mencapai kompetensi dan kualifikasi yang diharapkan untuk mengemban amanah besar itu, perempuan perlu memiliki ilmu yang tidak hanya seadanya. Seperti halnya sebuah karir dia harus dipersyaratkan dengan tingkat pendidikan tertentu. Sehingga untuk menjadi ibu sudah semestinya perguruan tinggi pun juga harus dia tempuh agar tidak tertinggal dengan generasi yang dia bentuk.

Kesejahteran seorang ibu adalah menjadi tanggung jawab mahramnya dan sebagai penanggung jawab penafkahan utama dalam Islam. Sehingga Islam mewajibkan laki-laki untuk bekerja. Negara juga memperhatikan penjagaan kesajahteraan perempuan dan ibu di bawah pengawasannya. Demikian isu gender mestinya mesnejahterakan kaum perempuan dan ibu. Bukan untuk bersaing secara terbuka dengan laki-laki dalam bursa kerja.

Iklan
Iklan