Banjarbaru, KP – Ahli Geografi, Biologi dan Lingkungan dari Universitas Hawaii, Profesor Pamela, mengunjungi beberapa site geopark
Pegunungan Meratus.
Situs yang dikunjungni Pendulangan Intan Pumpung, Cempaka, Kampung Purun, Situs Toko Sasirangan, Batu Sisik Ular (serpentinit), Taman
Konservasi Anggrek dan Habituasi Hewan Endemik di Tahura Sultan adam, dan Gua Batu Hapu (gua karst).
Kunjungan diakhiri pada lokasi kalayangan dandang di Kabupaten Tapin. Dandang merupakan tradisi masyarakat setempat yang telah
dilaksanakan selama puluhan tahun silam.
Ketua Harian Badan Pengembangan Geopark Meratus, Hanifah Dwi Nirwana, menyatakan Prof Pamela sangat menyambut baik pengembangan
geopark.
Dikatakannya saat ini menjadikan Geopark Meratus menjadi Unesco Global Geopark merupakan impian penting semua stakeholder Kalsel.
“Kita (Kalsel) sudah beberapa kali menerima kunjungan dari delegasi berbagai negara akhir-akhir ini dengan misi penting kebudayaan,”
tandasnya.
Menurutnya, masing-masing site yang dikunjungi Prof Pamela punya cerita yang bisa dibeberkan.
Di antaranya Pumpung menjadi salah satu situs dengan sejarah kejayaan berlian yang pada masanya ditemukannya berlian intan trisakti
166,7 karat.
Pumpung sendiri merupakan lokasi penambangan sejak 600 M sampai saat ini dan berlokasi di Cempaka, Banjarbaru.
Berlian yang ditemukan di Pumpung menjadi bentuk utama logo Geopark meratus dengan bagian atas representasi dari pegunungan meratus
yang terdapat bayangan ornamen dayak berupa stilasi dari citra tumbuhan yang bermakna sebagai Jubata (Tuhan) yang memberikan
keselamatan dan perlindungan.
Berikutnya Gua Batu Hapu (gua karst) dengan stalagtit dan slalagmit dengan ukuran beragam.
Gua ini dulunya berupa batu kapur yang pernah terendam dalam air laut 16 sampai dengan 36,5 juta tahun yang lalu (oligosen-miosen awal)
yang dihuni oleh kelelawar.
Lokasi juga menyimpan mitos dan legenda. Di mana menurut masyarakat sekitar, konon gua ini terbentuk dari pecahan kapal milik seorang
anak yang durhaka kepada ibunya (nini kudampi)
Akibat kutukan ibunya, kapal pecah dan terbalik menjadi dua sehingga terbentuk Gua Hapu yang bisa dilihat sekarang ini.(mns/K-2)















